
"Nay tunggu...jangan pergi Nay...."teriak Danu nyaring hingga menarik perhatian beberapa orang yang melihat ke arahnya.
"Sst sudah Bos, biarkan non Naya memikirkannya dulu" Sam mencoba menenangkan Danu yang hendak mengejar Naya.
"Tidak Sam, aku akan mengejarnya, aku harus bicara dengannya..Naya, tunggu, dengarkan aku dulu Nay..."
Elis semakin mempercepat langkahnya sambil tangan menarik Naya menuju mobilmya yang terparkir di depan Salon.
"Naya..tunggu, maafkan aku Nay, beri aku kesempatan sekali saja Naya....mari kita mulai dari awal pernikahan kita Nay, ku mohon Naya" tangis Danu sambil menjatuhkan badannya bersimpuh di trotoar karena Sam terus menahan tubuhnya.
Bukan ingin melihat Danu hancur, tapi Sam lihat ketegangan yang membuat wajah Naya semakin memucat, mungkin dia sangat trauma apalagi ia masih menganggap bahwa Danu akan membunuhnya.
"Sam, kenapa kau melarangku menemuinya, lihatlah..dia meninggalkan aku Sam, lepas Sam..."Danu terus berusaha menghempaskan tangan Sam yang tetap memegang tangannya erat.
"Bos, Non Naya masih shock, biarkan dia tenang dulu Bos, tidak kah kau lihat wajahnya pucat pasi" terang Sam jujur.
Danu menatap Sam.
"Kenapa Sam, kenapa Naya takut melihatku? Apa yang terjadi dengannya? Jika dia marah maka aku rela di pukul oleh nya bahkan kalau dia mau nyawaku, maka aku pun rela menyerahkan padanya, hanya satu inginku Sam, aku ingin maaf darinya" suara Danu lirih dan bergetar.
Dengan hati hancur pria tampan itu memandang kepergian mobil yang membawa Naya.
"Bos, ada yang harus kita bicarakan" ujar Sam tegas, Danu menatap sang asisten heran, tak biasanya Sam berucap se serius itu.
"Apa yang ingin kau katakan?."
"Ini tentang Non Naya."
Danu mengikuti Sam yang masuk ke dalam mobilnya, baru kali ini ia menurut pada Sam, jika untuk Naya, maka apa pun akan ia lakukan.
Di sebuah cafe Sam menghentikan mobilnya, keduanya masuk beriringan.
"Katakanlah.."ucap Danu tak sabar.
"Sebenarnya mobil yang membawa non Naya adalah mobil milik orang suruhan yang ingin mencelakakakn Non Naya" terang Sam lirih.
"Apa maksudmu?"
"Kejadian yang menimpa Non Naya bukan murni kecelakaan mobil biasa" sambungnya, Sam lalu menceritakan kronologi yang ia curi dari percakapan antara Januar dan anak buahnya yang mengatakan bahwa ada orang yang ingin Naya celaka, dan otak di balik kecelakaan itu mereka mengira Danu lah pelaku utama.
"Apa...apa kau gila" pekik Danu marah.
__ADS_1
"Kau pikir aku se tega itu padanya hingga ingin membunuhnya? Aku tak se jahat itu Sam!" ucapnya lagi emosi.
"Sstt, saya tahu Bos tak akan tega berbuat se jahat itu, maka kita harus mencari bukti-bukti bahwa kau bukan orang seperti yang mereka sangka Bos, kita harus buktikan kau tak ada hubungan dengan kejadian itu" terang Sam.
Danu masih diam tak percaya dengan apa yang Sam katakan, siapakah orang yang menginginkan Naya celaka.
"Tapi aku harus mengatakan padanya bahwa bukan akulah pelakunya Sam, Naya harus tahu...bukan aku pelakunya."
"Lalu apakah menurutmu mereka akan mempercayainya begitu saja? setelah kau tega mengusir Non Naya yang begitu baik bak malaikat, setelah semua kekejamanmu padanya apakah bukan malah akhirnya kau menjadi bullyan mereka nantinya, sangkal jika memang bukan perbuatanmu tapi juga dengan bukti agar sanggahanmu memang berdasar kuat."
Danu memandang Sam penuh rasa kagum.
"Sejak kapan kau se bijak ini, beruntungnya aku memiliki asisten sepertimu Sam."
Cih dari dulu aku memang bijak, hanya kau saja yang tak pernah menganggapku bos, ucap Sam kesal dalam hati.
"Kita harus mencari siapakah orang yang melakukan itu, bedebah itu harus ku dapatkan, akan ku habisi dia, berani-beraninya mengancam keselamatan istriku" geram Danu lirih.
"Ck, kenapa baru sekarang kau menganggapnya istri bos" sindir Sam telak.
Danu mencelos, ucapan sang asisten memang benar, selama ini ia tak pernah menganggap Naya sebagai istrinya.
"Mulai sekarang aku akan memperjuangkan rumah tanggaku Sam, akan ku bawa Naya kembali padaku."
"Aku tak akan gentar pada siapapun, Naya adalah milikku, tak ada yang akan bisa memisahkan kami"
"Jika non Naya yang meng inginkan perpisahan ini, apa yang akan kau lakukan Bos?"
pletakk.
"Awwhhk kenapa kau menjitakku Bos?."
"Sebenarnya kau berada di pihak mana heum?."
"S saya hanya ingin Non Naya bahagia Bos, saya masih ingat Non Naya selalu kau sakiti, saya tak sanggup lagi jika nantinya bos akan kembali menyakiti hatinya" kalimat Sam membuat Danu tertegun.
Bahkan asistennya pun berusaha melindungi Naya, begitu banyak orang yang menyayangimu Nay, Danu membatin.
"Aku tak bisa berjanji, aku hanya akan membuktikan, aku akan berusaha agar tak ada lagi air mata yang keluar dari mata indahnya, aku akan membuatnya selalu tersenyum" jawab Danu.
"Apa ucapanmu bisa ku pegang?"
__ADS_1
Danu mengangguk pasti.
"Jika memang kau bersungguh-sungguh akan membahagiakannya maka mungkin aku akan membantumu bos."
pletak.
"Aahk apalagi yang salah bos?"protes Sam karna Danu kembali menjentikan telunjuk ke keningnya bak memberi hukuman pada anak kecil.
"Tentu saj kau harus membantuku, ingat ...aku adalah atasanmu?"kalimat Danu bernada intimidasi.
"Aku akan membantumu bukan karena kau atasanku, aku membantu karena memang kau tak bersalah" jawab Sam jujur.
"Heum, baiklah, mulai sekarang kau harus mendapatkan bukti-bukti siapa dalang yang telah mencelakakan istriku Naya."
Jika keduanya kini mulai merancang rencana maka berbeda dengan Naya yang sedang mengurung diri di kamar.
Elis yang mengetuk pintu beberapa kali Naya acuhkan begitu saja.
"Ada apa ini?" tanya Januar yang baru datang melihat kegaduhan.
"Ada suami Mbak Nay tadi " tutur bu Heni.
Januar mengerutkan alisnya lalu memandang elis.
"Tadi asisten Sam datang ke apartement bersama Danu, tapi bertemu dengan Bu Heni di lobi dan mengatakan Naya bersamaku di salon."
"Lalu apakah mereka menemui kalian?"
"Ya..Danu menemui Naya."
"Mau apa lelaki brengsek itu menemuinya bukankah mereka sudah berpisah" entah kenapa dada Januar bergemuruh panas mendengar Danu mencari Naya.
"Entahlah, tapi ku lihat suami Naya seakan menyesal dan ingin meminta maaf pada Naya."
"Bukankah Naya ingin bercerai dengannya?"
"Naya ingin berpisah tapi mereka masih di sebut suami istri karena memang belum resmi betcerai"terang Elis kesal.
"Sudahlah, biarkan dia istirahat dan menenangkan diri" sambung elis lagi.
Januar hanya bisa menghempaskan tubuhnya di atas kursi dengan hati dongkol.
__ADS_1
Sementara itu Naya berdiri termenung di depan kaca jendela kamarnya, bayangan Danu yang beteriak memohon maaf masih terbayang di pelupuk matanya, benarkah suaminya minta maaf.
Caci maki dan kata-kata kotormu padaku masih bisa ku maafkan mas, tapi niatmu untuk membunuhku tak bisa ku biarkan, bagaiman mungkin kita bersatu kembali jika kau bahkan sempat ingin membunuhku, Naya membatin sedih.