Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Pilihan Naya


__ADS_3

"Lalu apa masalahnya?" tanya Elis sewot.


"Tentu saja karena Naya masih resmi milik Danu, mereka belum bercerai" jawab Kendra tak kalah ketus, ia tahu hal itu dari penuturan bu Heni yang sempat memergoki Januar tengah mencium kening Naya saat wanita itu tertidur, bahkan sikap Januar sangat lembut pada Naya.


"Tapi Naya ingin mereka berpisah nantinya, dan aku pun mendukung kalau mereka berpisah."


"Gila, sahabat macam apa kau ini malah mendoakan rumah tangga temanmu tak langgeng."


"Aku akan mendukung jika memang Lelaki yang akan bersama Naya adalah seorang lelaki bertanggung jawab, dan melindungi serta mencintainya sepenuh hati, tidak seperti Danu brengsek itu."


"T tapi dia itu masih bocah Lis?"


"Hei hei, dia dua puluh satu tahun Ken, dia sudah dewasa dan dia berhak memilih wanita mana yang ia cintai" timpal Elis.


"Atau mungkin kau saja yang tak rela melepas Naya untuk Januar?" pertanyaan telak Elis membuat Kendra terdiam.


Ia memang sudah lama memendam rasa suka pada Naya namun Kendra tak mau merusak persahabatan mereka karena ia tahu bahwa Elis pun sebenarnya menyimpan rasa padanya.


"Aku hanya ingin Naya hidup bahagia, dengan siapapun nantinya" ucapnya lirih.


Elis membuang matanya, dadanya berdenyut nyeri karena ia masih bisa merasakan bahwa Kendra masih menyukai Naya.


Sementara itu, Januar berlari terus mengejar Naya yang asik berlari di pinggir pantai, bahkan dua es kelapa muda di warung tenda ia tinggalkan.


Naya terlihat sangat bahagia dan asik dengan dunianya sendiri.


"Nay, apa kau tidak ganti bajumu dulu, lihatlah celana mu pun sudah kotor karena pasir dan basah."


Naya memandang kaki yang memang sudah sebatas lutut air membasahi celananya.


"Nggak apa, nanti saja gantinya"jawab Naya santai dan menggoyangkan kakinya yang terkena ombak.


Tiba-tiba Januar meraih tangan Naya agar berhenti berlari, pria baby face itu menudukan tubuhnya dan berlutut untuk melipat celana Naya.


Naya hanya diam membeku, bibirnya seakan kelu melihat sikap Januar yang begitu lembut dan perhatian padanya.


"Sudah, kau bisa lebih leluasa bermain lagi tanpa celanamu akan terkena ombak" ujar Januar setelah berhasil melipat celana Naya sebatas lutut.


"T terima kasih."


"Heum, jangan terlalu jauh, aku tunggu di tenda dekat vila" suara Januar keras, karena beradu dengan ombak pantai.


"Iyaa..."balas Naya sambil berlari menjauh.


"Kau lihat perlakuannya?" tanya Kendra yang ternyata sudah sampai dan melihat interaksi antara Januar dan Naya.


Elis hanya mencebikan bibirnya.

__ADS_1


"Heum, memang anak itu sangat manis, Naya pantas di perlakukan selembut itu , Naya ku berhak bahagia" Elis memandang Naya dengan haru, ia lega melihat senyum ceria Naya telah kembali.


"Ini kelapanya Mbak, Mas" ucap seorang pedagang membawa dua buah kelapa muda.


"Terima kasih bu" ujar Elis lembut.


"Mbak itu mereka temannya Mbak e?"


"Iya bu..."


"Wah, bahagia sekali saya kalau mempunyai suami seperti teman mbak e itu, dia sangat menyayangi istrinya, sangat perhatian dan saya rasa jarang sekali ada pria yang sebesar itu cintanya pada sang istri" terang ibu pemilik warung dengan pandangan menuju Januar dan Naya.


Elis dan Kendra saling pandang.


"Mereka bukan suami istri bu!" Kendra menjawab cepat.


"Hah, oohh ....apa mereka masih pacaran? Wah ibu do'a in semoga mereka berjodoh, mereka sangat serasi"kembali wanita paruh baya itu berucap.


Kendra menghela nafas kasar.


"Bu mereka bukan sepasang kekasih, mereka tak ada hubungan apa-apa, bahkan yang cewek itu sudah punya suami" jelas Kendra dengan hati gondok.


Elis hanya tersenyum tipis sedangkan pemilik warung pergi dengn raut wajah merah karena malu.


"Huff kalian sudah lama datang ?"tanya Januar.


Januar menarik kursi kayu di bawah tenda bersebelahan dengan Kendra, wajahnya yang putih kini memerah karena terkena sinar matahari.


"Apa kalian sudah makan?"tanya Januar


"Belum, tapi kami sudah pesan ikan bakar sama cumi dan udang balado" jawab Elis.


"Oh kalau begitu aku pesan lagi cumi asam manis" ujar Januar.


Elis mengerutkan alisnya.


"Kenapa? Apa kau tak suka pedas?" tanya nya.


"Buat Naya, dia suka cumi asam manis" jawab Januar santai, ia kini sudah tahu apa makanan kesukaan juga hoby Naya, tentu saja ia cari di sosial media miliknya.


Elis tersenyum senang, rupanya dugaan Kendra memang tidak salah.


Kini sainganmu semakin berat Ken, Elis membatin sambil menatap Kendra yang sedang menuju Naya.


Tiga puluh menit masakan pun siap, semua hidangan sudah tersaji di atas meja.


"Nay....Naya....istirahat dulu" teriak Elis keras namun suaranya bagai hilang di telan suara ombak.

__ADS_1


Naya dan Kendra yang asik bermain pasir tak mendengar panggilan Elis.


"Biar aku saja yang memanggil mereka" ujar januar lalu menyusul Kendra dan Naya.


Kendra sesekali menatap Naya yang hari ini terlihat begitu ceria.


"Nay, ku lihat kau sangat senang hari ini?"


"Heum iya Ken, kalau lihat pantai rasanya semua beban hidupku ikut terbawa ombak, hatiku terasa lega atau mungkin hanya sugesti saja."


"Heum mungkin juga, bagaimana hubunganmu dengan Danu, ku dengar dia kemarin menemuimu?"


"Dia minta maaf padaku Ken, aku senang akhirnya ia sadar, dan dia pun mengatakan bahwa bukan dia dalang dari kecelakaan yang menimpaku, mas Danu tak kan tega menyuruh orang untuk membunuhku."


"Dan apa kau percaya apa yang ia katakan?"


"Ku lihat mas Danu jujur Ken..ia berjanji akan memulai dari awal, ia ingin kami kembali bersama, dari matanya aku melihat kejujurannya Ken."


"Lalu apakah kau juga akan kembali padanya?" hati Kendra sungguh berdebar, ia tak rela jika akhirnya Naya kembali bersama lagi dengan Danu.


"Entahlah..."Naya masih bimbang, masih ada pertimbangan yang harus ia pikirkan jika akan kembali pada suaminya.


"Pikirkanlah baik-baik, agar nanti keputusanmu tak lagi membuat luka hatimu bertambah parah" ujar Kendra dalam.


Naya mengangguk mengerti, ia pun tak akan kembali ke apartemen Danu sebelum masalah yang menimpanya selesai, polisi akan menghubunginya jika orang yang mereka cari sudah tertangkap.Dan saat itulah baru ia tahu kebenaran ucapan Danu.


"Nay, dokter Kendra, ayo kita istirahat, kita makan dulu."


Kendra memandang Januar, tatapan pria tampan itu sungguh terlihat jelas menyiratkan pancaran penuh kekaguman saat memandang Naya.


Bahkan dokter itu tertegun saat Januar menyodorkan sebotol air mineral pada Naya.


Cih bocah ingusan, kayak ABG yang lagi kasmaran karena cinta monyet, batin Kendra.


Mereka asik menikmati makan siang dengan suasana angin sepoi dan suara deburan ombak memecah kesunyian.


Januar merasa lega, dugaannya memang tak meleset, Naya akan senang dan terhibur jika menikmati suasana pantai.


Wajah Naya selalu berhias senyum manis, rambutnya yang mulai tumbuh panjang menutupi keningnya.


Semakin terlihat imut dan menggemaskan, dan mungkin orang akan mengira usianya masih belasan.


"Nay, rambut Lu udah lumayan panjang?" tanya Elis puas karena obatnya memang bermutu bagus.


"Heum, ini berkat elu Lis, makasih banyak yaa "kedua sahabat itu saling berpelukan erat.


Sementara Januar dan Kendra sedang santai menyusuri barisan pedagang souvenir di sepanjang pinggir pantai.

__ADS_1


__ADS_2