
"Duduklah, biar aku yang akan membawa kembali piring itu" ujar Januar menahan tangan saat Naya hendak menaruh piring kosongnya.
Tok tok.
Keduanya saling pandang sesaat.
"Masuk"
"Ada apa bu Hen?" tanya Januar yang melihat wajah bu Heni tampak bersedih.
"Maaf mas Jan, mbak Naya...saya mau ijin pulang kampung dulu, anak saya sakit" terang bu Heni sedih setelah mendapat kabar bahwa putranya sakit.
"Sakit apa bu Hen?"tanya Naya panik.
"Mungkin gejala tipus, dan harus di rawat"terang bu Heni sambil terisak.
"Baik bu, tidak apa-apa, pergilah."
Bu Heni mengangguk lega lalu segera bersiap.
Januar mengikuti wanita paruh baya itu.
"Bu Hen, apa mau aku antar?"tawar Januar.
"Nggak usah Mas, tadi Dokter Kendra sudah meminta supirnya untuk mengantar Ibu, dan sekarang sudah menunggu di depan lobi."
"Oh, kalau begitu, tolong ini di terima bu Hen, sekedar untuk ongkos di jalan, semoga putra ibu cepat sembuh."
"Terima kasih banyak Mas, saya pamit, mbak Nay jaga diri baik-baik ya Mbak, saya usahakan tidak akan lama."
"Tidak apa-apa bu, sembuhkan dulu putra bu Hen, baru kembali ke sini" timpal Januar mendahului Naya.
Bu Heni mengangguk lalu pergi setelah bersalaman dengan Januar dan Naya.
Kini apartemen berubah hening, Naya baru menyadari bahwa hanya ada mereka berdua di apartemen ini.
"Ehm maaf aku mau ke kamar" ucapnya kikuk.
"Heum, tidurlah...."
Januar pun kembali menuju kamarnya, ia ingin menghubungi Sam,menanyakan informasi kelanjutan penyelidikan polisi pada Danu.
"Selamat malam tuan Januar? Ada yang bisa saya bantu?" sapa Sam di ujung telepon.
"Bagaimana kelanjutan penyidikan polisi, apakah benar suami Naya tak terlibat dengan kejadian itu?"tanya Januar langsung pada topik pembicaraan.
"Kalau menurut bos Danu, ia memang tidak pernah menyuruh orang untuk mencelakai non Naya, dan polisipun sedang memburu orang yang mereka curigai tuan."
"Lalu apa maksudnya menemui Naya tadi?."
"Menemui non Naya? Oh ..mungkin bos Danu mau meminta maaf dan minta Non Naya untuk kembali ke apartemen" kalimat Sam membuat Januar resah, ia tak rela Naya pergi dari apartemen dan kembali ke Danu.
"Apa kau tahu selama ini Naya tersiksa hidup bersama atasanmu yang tak punya perasaan itu, apa kau juga paham bagaimana hancur hatinya karena suaminya selalu mencaci-maki bahkan menuduhnya bermain hati dengan lelaki lain padahal dia lah yang sebaliknya bermain gila dengan selingkuhannya, dan apa kau juga akan bertanggung jawab jika nanti Naya kembali tersiska heum?."
__ADS_1
Glek.
Sam menelan ludah kasar, kenapa Januar tiba-tiba seperti kebakaran jenggot, ia seakan tak mau melihat Naya kembali bersatu dengan Bos Danu, batinnya.
"I iya Tuan" ucap Sam pasrah.
"Katakan pada bosmu itu, jangan lagi berani-berani datang ke apartemen dan menemui Naya, atau aku akan lapor polisi."
Sam menarik wajahnya saat Januar menutup panggilan dengan nada marah-marah.
Kenapa dengan Tuan Januar, tingkahnya seperti bocah yang mainannya di rebut orang lain saja, bukankah non Naya memang masih istri Bos Danu, batin Sam.
Januar mendengus kesal, lalu menghempaskan tubuhnya di kasur, namun panas di dadanya membuat matanya susah terpejam.
Pria manis bertamoang baby face itu pun keluar kamar menuju ke ruang Gym nya.Ia ingin mengalihkan fokus pikiran dari Danu dengan melampiaskan ke samsak tinjunya.
Badan atletisnya kini sudah bermandi keringat bahkan rambut kepalanya pun basah, nafas Januar memburu namun perasaannya sedikit lega.
Dan Januar pun langsung tertidur dengan lelap setelah membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Alaram yang ia setel pukul lima pagi membangunkan Januar.
Bergegas ia bangun dari temlat tidur lalu membasuh wajahnya.
Pukul enam tiga puluh menit Naya bangun setelah mendengar bunyi suara khas dari dapur.
Bukankah bu Heni sedang tidak ada, lalu siapa yang sedang memasak?, pikir Naya heran.
Ceklek.
"Pak Jan, bisa masak?" tanya nya lirih.
"Heum, lumayan, dulu waktu aku di KL dan ayah Ibu di rumah sakit aku sering di tinggal sendiri di rumah, terpaksa aku masak untuk mengisi perutku agar bisa bertahan hidup."
Naya tersenyum tipis, ternyata Januar memang tidak se dingin wajahnya.
"Apa yang Pak Jan masak?" sambungnya.
"Kebetulan masih ada sisa nasi tadi malam, jadi aku goreng" jawab Januar sambil menyodorkan sepiring nasgor pada Naya.
Naya mengenduskan hidungnya ke arah piring dan matanya terpejam menikmati wangi masakan Januar.
"Makanlah selagi hangat."
"Ehm aku mandi dulu" Naya berlari kecil kembali ke kamarnya.
"Hati-hati jangan lari Nay..."ucap Januar menahan nafas dengan wajah panik, sementara Naya tetap santai.
Dengan celana jeans hotpants dan kaos biru polos lengan pendek Naya keluar dari kamar, wajahnya telihat segar dengan perona bibir merah muda.
Januar hanya bisa menelan ludah kasar, paha putih Naya terpampang nyata, ia terlihat sungguh menggemaskan.
Tak ingin Naya memergokinya Januar membuang matanya ke arah lain untuk menenangkan jantungnya yang kini berdegup kencang.
__ADS_1
"Ayo makan pak, aku sudah lapar" ajak Naya.
"Heum."
Sarapan pagi yang baru pertama kali mereka lewati hanya berdua membuat suasana hening dan sedikit kaku, Naya yang fokus pada piring di hadapannya terus mengunyah dengan wajah ceria.
Sedangkan Januar tampak salah tingkah namun masih sesekali mencuri pandang ke arah Naya.
Istri orang memang menggemaskan.
"Setelah selesai makan, bersiaplah, kita akan pergi ke suatu tempat" ucap Januar.
"Kemana pak?"
"Kau suka pantai?" tanya balik Januar, mata Naya membulat bahagia.
"Suka" jawaban singkat namun kebahagiaan tergambar jelas di wajahnya.
Januar tersenyum tipis.
"Bersiaplah kita berangkat sekarang."
"Hah apa pak Januar tak ke kantor hari ini?"
Januar menggeleng lalu menuju kamarnya untuk bersiap.
Tak butuh waktu lama untuk Naya mempersiapkan perbekalan, baju ganti, handuk dan juga camilan sudah masuk semua dalam tasnya dengan cepat.
Januar hanya tersenyum tipis, wajah Naya sangat bersemangat.
"Apa kita hanya berdua?" tanya Naya ragu, di samping kemudi.
"Aku sudah menghubungi Mbak Elis dan dokter Kendra agar menyusul kita."
Kenapa harus mengajak orang lain sii, ucap hati Januar kesal, lalu ia mengirim pesan pada Elis dan Kendra.
Di sebuah halaman vila di tepi pantai Januar memarkirkan mobilnya, suara debur ombak terdengar keras di telinga.
Tak sabar Naya berlari keluar dari mobil dan menuju pantai yang terletak di belakang vila.
"Hati-hati langkahmu Nay..." teriak Januar sambil ikut berlari menyusul Naya di belakangnya.
Sementara itu, Elis masih duduk tenang di sebelah Kendra yang fokus dengan kemudinya.
"Ada acara apa tiba-tiba bocah itu meminta kita menyusul mereka ke pantai" gumam Elis heran.
"Mungkin ingin menghibur Naya, karena bu Heni beberapa hari akan pulang kampung karena anaknya sakit" terang Kendra.
"Oohh" Elih hanya ber 'oh 'ria.
"Tau aja tu bocah kalau Naya pengagum pantai" timpal Elis membuat Kendra menghela nafas panjang.
"Semoga dugaanku ini salah" gumamnya lirih.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Elih menatap wajah Kendra tajam.
"Aku takut, bocah itu menyimpan rasa pada Naya."