
Pukul lima pagi Anis seperti biasa memasak menyiapkan sarapan, namun hingga pukul tujuh kurang lima belas menit Januar tak juga muncul dari kamarnya.
Ceklek.
Tiwi keluar dari kamar masih dengan wajah bantalnya menuju Anis.
"Hmm seperti biasa, masakanmu memang selalu istimewa" sanjung Tiwi jujur.
Anis hanya tersenyum tipis, sanjungan itu tak ada artinya jjka Januar hanya menganggapnya biasa.
"Hm mungkin hari ini Januar tidak bekerja Nis"jelas Tiwi berat.
"Kenapa Mbak?" tanya Anis panik, Tiwi hanya bisa memandang trenyuh pada gadis lembut itu, begitu besar perhatian dan kasihnya pada Januar tapi ternyata sang adik mencintai wanita lain.
"Mungkin kepalanya masih terasa pusing, biarlah nanti urusan kantor aku yang akan mengurusnya" ujar Tiwi.
Racauan di kala Januar terpengaruh alkohol membuat Tiwi sadar bahwa selama ini Januar tak pernah menyukai Anis.
Selain menolak pemberiannya, Januar bahkan beberapa kali menyebut kalau Anis tak bisa menggantikan rasa cintanya pada wanitanya, dan yang menjadi tanda tanya besar bagi Tiwi adalah siapa wanita yang di maksud Januar, sedangkan selama ini ia tak pernah menunjukan kedekatan dengan se seorang.
"Ya udah ayo kita makan berdua Mbak, mumpumg masih hangat" ajak Anis setelah menata hidangan di meja.
"Hmm aku mandi dulu Nis sebentar, sayang kalau makanan se lezat ini bercampur dengan ilerku."
Anis tersenyum mendengar kalimat spontan Tiwi, karena keterbukaannya lah Anis merasa nyaman bersahabat dengan Tiwi meski jarak umur mereka lebih dari tiga tahun.
Tak lebih dari lima belas menit Tiwi kembali keluar dari kamar dengan wajah lebih segar dan baju telah berganti mereka lalu menikmati sarapan dengan lahap tanpa Januar.
"Aku berangkat dulu Nis, biarkan saja nanti Januar bangun sendiri."
"Baik Mbak."
__ADS_1
Sesampainya di kantor Tiwi langsung menuju ruang kerja Januar yang ternyata ada Vega yang sedang membereskan berkas.
"Selamat pagi Bu?"sapa nya ramah.
"Pagi juga Ga, hari ini pak Januar tidak masuk, dia sedang tak enak badan" terang tiwi, Vega hanya manggut-manggut.
Setelah memeriksa agenda Tiwi ke ruangan Naya untuk mengajaknya makan siang, namun ternyata ia sudah tidak ada di ruangannya.
"Lu di mana sekarang?" pesan yang tiwi kirim ke Naya.
"Gue di kedai di sebrang gedung Tinar Wi ada Mas Danu, juga Ibu tiri Gue" alis Tiwi mengerut saat membaca balasan Naya.
Untuk apa wanita gila harta itu menemui Naya, batinnya, sambil melangkah menuju lokasi yang Naya sebutkan.
Sementara itu Naya duduk berharapan dengan Ningsih sang ibu, di sebelahnya Danu yang duduk dengan tenang menikmati makan siangnya.
Rupanya Danu sudah menceritakan perihal perpisahan mereka pada Ningsih, pria itu pun menyesali semua yang terjadi dan mengakui kesalahannya, karena itulah Ningsih datang untuk menanyakan secara langsung pada anak tirinya Naya.
"Sudahlah bu, mungkin ini memang sudah jalan hidupku yang tak berjodoh lama dengan Mas danu" jawab Naya sambil melirik ke arah pria tampan yang berstatus mantan suaminya itu.
Danu hanya bisa menelan ludah pahit, sesal memang tak ada artinya lagi, andai Naya memberinya kesempatan kedua, maka Danu akan berusaha sebaik mungkin untuk menyembuhkan luka Naya, tapi memang jalan kehidupan yang penuh misteri, Danu tak bisa menolak saat Naya akhirnya meminta berpisah darinya.
Ketiganya menikmati makan siang dengan khidmat, siang ini Ningsih harus segera kembali karena kesibukannya mengurusi toko kelontongnya di kampung, apalagi setelah Danu memberinya uang sebagai rasa sesal juga balas budinya karena telah menikahkannya dengan Naya yang ternyata berakhir perpisahan.
Meski wajah wanita itu menyiratkan kesedihan namun ternyata hatinya bersorak girang, saat jumlah uang di rekeningnya bertambah yang berasal dari kiriman Danu.
Bahkan mantan menantunya itu memberinya banyak oleh-oleh untuk di bawa ke kampung.
"Hati-hati di jalan Bu, hubungi aku kalau sudah sampai" pesan Naya pada Ningsih lalu memeluk wanita istri ayahnya itu sebagai salam perpisahan.
Danu mengantar Ningsih hingga ke stasiun, wanita itu pulang dengan wajah ceria, setelah berpisah dari Danu, ada anak Pak lurah yang ternyata menyukai Naya dan berniat untuk meminangnya setelah tahu kalau sekarang Naya menjanda.
__ADS_1
Tak tok tak.
"Huff haahh, mana ibu lu Nay?" tanya Tiwi dengan nafas memburu karena berlari.
"Hm sudah pulang Wi? kapan kau datang? dan mana mobilmu?" tanya balik Naya.
"Ada di parkiran, hari ini adik gue nggak masuk jadi Gue takut Elu ke teter" terang tiwi, Naya hanya tersenyum masam, sebenarnya apa yang terjadi denga pria yang sudah membuatnya senam jantung tadi malam karena hampir saja mereka tertangkap basah oleh Vega.
"Elu murung? Kenapa Nay?" tanya Tiwi.
Naya menggeleng pelan, rasanya sungguh berat beban hidupnya, setelah berhasil terlepas dari Danu kini sang ibu kembali berniat menjodohkannya dengan anak lurah di kampungnya.
"Ibu Gue njodohin gue lagi dengan pria pilihannya Wi" jelas Naya lirih.
"Hah!! Apa??bener-bener ibu tiri Elu tuh gila harta ya...dia..."
"Sstt jangan keras-keras, banyak orang denger" Naya menyikut lengan Tiwi keras.
Tiwi pun akhirnya diam hingga mereka berpisah di ruangan Naya.
Ceklek.
Mata Tiwi membulat saat Januar ternyata sudah berada di ruangannya.
"Dasar bocah sialan buat mood gue hancur saja lu, udah hari pertama gue datang bulan, lu bikin masalah lagi...rasanya mau pecah ini kepala" Tiwi mengumpat panjang sambil meremat kepalanya lalu menghempasakn tubuhnya di atas sofa di depan Januar.
Saat datang bulan Tiwi memang cenderung emosinya naik, namun berbeda dengan Naya yang selalu mengalami kram di perutnya, mata Januar membulat senang, ia kini ingat saat di apartemen Naya merasa sakit perut saat datang bulan, jadi..bisa di pastikan kalau Naya tidak sedang hamil.
"Yezz....!"teriak Januar tak sadar.
"Hah yes apa an Lu?"tanya Tiwi penasaran.
__ADS_1