Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Tangan Jahil


__ADS_3

Jangan lupa tinggalin jejak yaa, like komen dan vote setelah baca😘😘😘


Happy reading 🤗🤗🤗🤗🤗


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Januar memacu kereta besinya menuju apartemen Naya, dari raut wajahnya terlihat amarah yang ia pendam.


Naya mencengkeram pinggiran kursi mobil dengan do'a yang terus ia panjatkan, Ia tak ingin emosi menguasai jalan pikiran Januar yang sedang kalut.


Senja mulai gelap lampu jalanan pun mulai menyala di sisi jalan.


"Apa kau masih marah?" tanya Naya polos.


Januar hanya menoleh sekilas lalu kembali fokus ke arah jalan, masih terbayang saat Kevin yang dengan percaya diri akan meminang Naya dengan harta yang di milikinya.


Ciiittt.


Tubuh Naya bahkan terhempas ke depan saat Januar menge rem laju mobil mendadak, untung saja seatbelt terpasang sempurna hingga ia masih selamat.


"Katakan siapa yang kau pilih di antara kami?!"tanya Januar dengan jarak wajah hanya beberapa centi dari Naya.


"Apa maksudmu?, apa kau masih tak percaya saat ku katakan kalau aku hanya mencintaimu, hanya kau yang membuatku berdebar sekaligus sakit kala ada gadis lain mengharap cintamu" jawab Naya histeris karena kesal bercampur luapan cemburunya pada Anis.


"Lalu kenapa kau masih terlihat ragu dan bingung untuk memutuskan siapa pemilik hatimu sesungguhnya, katakan pada semua bahwa akulah pria pilihanmu,katakan agar aku tak merasa kalau aku berjuang sendiri, agar aku merasa pasti bahwa yang aku perjuangkan pun membalas cintaku."

__ADS_1


Naya menatap Januar tajam.


"Bukan aku ragu atau pun tidak ingin mengatakan pada mereka, aku hanya ingin memastikan apakah aku pantas bersanding denganmu, untuk saat ini aku hanya ingin pengertianmu, yakinlah bahwa perasaanku ladanu sama seperti apa yang kau rasakan, jadi jangan pernah kau tanyakan lagi siapa pemilik hati ini sesunguhnya "


"Tapi aku tak akan merasa tenang sebelum kau menjadi miliku."


Tiid tiiid.


Suara klakson mobil di belakang mengagetkan mereka, dengan kesal Januar kembali melajukan mobil menuju parkiran apartemen.


Dengan wajah dingin Januar melepaskan seatbelt Naya dan menarik perlahan tangannya untuk turun dari mobil.


Naya hanya diam menurut kala tangan kekar Januar tetap memegangnya bahkan saat di dalam lift, beberapa pengunjung melirik ke arah keduanya namun Januar tetap acuh meski wajah Naya kini merah merona.


Ingin Naya melepas tangan Januar namun genggaman pria itu begitu kuat.


Ceklek.


Dengan tak sabar Januar masuk ke dalam sambil menarik Naya.


"Ayo kita menikah" ucap Januar lantang sesampainya di dalam apartement.


Mulut Naya terkunci rapat, rasanya lucu dalam sehari Naya mendapat dua ajakan menikah dari dua orang pria sekaligus.


"Kenapa kau diam sayang, jika kau benar mencintaiku maka ayo kita menikah, aku akan meminangmu langsung di depan ibumu, seberapa pun yang ibumu minta sebagai mahar akan aku berikan, bahkan jiwa dan raga pun aku rela asal kau menjadi istriku, tentang keluargaku kau tenang saja, ku yang akan mengurusnya."

__ADS_1


Naya tersenyum gemas, Januar bak seorang bocah yang sedang ingin di belikan gulali kesukaannya.


"Pernikahan tak segampang itu sayangku...cintaku, kita akan menikah dan hidup bersama tapi sekarang belum saatnya, masih banyak yang harus kita pikir dan pertimbangkan, bukan hanya restu dari orang tua kita tapi lahir dan batin kita juga harus siap, aku mau kelak pernikahanku untuk selamanya, setelah kehancuran hubunganku dengan Mas Danu rasanya sakit hati ini pun masih terasa , bahkan lukanya masih basah dan berdarah..."Naya bertutur lirih, kesedihan terpancar jelas dari sinar matanya.


"Maaf, maafkan aku sayang, bukan aku ingin kau mengingat kembali lukamu, sungguh maafkan aku yang terlalu egois ini" Januar merengkuh tubuh Naya ke dalam pelukannya, ada rasa sesal di hatinya, ia yang terlalu egois hingga tak memikirkan bagaimana tentang luka hati Naya.


"Apakah kau masih mau bersabar menungguku?" tanya Naya lirih dengan mata berkaca menatap Januar.


Pria tampan itu mengangguk lirih lalu mencium puncak kepala Naya lembut.


"Aku akan sabar menunggumu sayang, hingga kau siap menerimaku menjadi pasangan hidup yang akan menemani hingga hari tuamu, hanya satu permintaanku..."


Naya kembali mendongakkan kepalanya menatap Januar.


"Jangan pernah kau menyisakan tempat di hatimu untuk pria lain."


Naya mengangguk dengan senyum tulus, dan entah sejak kalan bibir keduanya kini telah menyatu dalam ciuman hangat, sesapan demi sesapan membuat tubuh mereka kian erat, Januar bahkan menekan tengkuk Naya untuk memperdalam ciumannya.


Januar mengurai ciumannya mengambil jeda untuk bernafas, kening keduanya saling beradu, setelah beberapa saat kembali Januar ******* benda kenyal nan lembut Naya, kali ini bahkan lebih panas dan bergairah, sesapan kuat membuat Naya merasa semakin terhanyut dalam drkaoan hangat pria tamban itu.


"Sayang cukup" Naya cepat-cepat mengurai tubuh januar saat gerakan tangan pria itu kian tak terkendali, bahkan beberapa kancing bajunya sudah terbuka tanpa ia sadar.


Sungguh Naya tidak mengetahui hal itu, ketrampilan tangan Januar membuatnya harus lebih waspada.


"Hmm maaf" ucap Januar dengan suara berat dan nafas memburu menahan sesuatu di tubuhnya yang ingin segera tersalurkan.

__ADS_1


Naya tersenyum masam, karena dirinya pun hampir saja ikut terhanyut dalam permainana Januar yang begitu hangat dan lembut.


__ADS_2