Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Januar Pasang Badan


__ADS_3

Akhir minggu adalah hari santai dan waktunya me time bagi Naya, ia bisa bangun siang kapanpun ia mau, seperti pagi ini, pukul sembilan ia masih betah di ranjangnya menikmati suasana gerimis yang membasahi kaca jendela di balkon apartemennya.


Tubuhnya masih terbalut selimut tebal saat suara bel pintu membuyarkan lamunan.


Tak ada janji jumpa maupun rencana hiling dengan seseorang membuat Naya bertanya-tanya dalam hati, siapa kah gerangan tamu yang datang di weekend ini.


Ceklek.


Naya tertegun, dua pria yang tempo hari memberikan tote bag dari Daniel kini berdiri tepat di depan pintu dan membungkuk hormat.


"Maaf Nona, kami di suruh Tuan Daniel untuk memanggil Non Naya untuk ikut makan bersama Tuan Daniel, dan kami menunggu di lobi" ucapnya ramah.


"Maaf juga, tolong katakan padanya saya tidak menerima ajakan Tuan mu itu, dan ini..."Naya bergegas mengambil tote bag lalu ia berikan pada dua pria bertubuh tegap tersebut.


"Berikan semua ini pada Tuanmu, saya tidak butuh itu" ucap Naya ketus.


"Maaf Nona, itu bukan wewenang kami, kami hanya di perintahkan untuk memanggil Nona, soal pengembalian hadiah itu, Nona bisa mengatakan langsung pada Tuan Daniel nanti" dua pria itu menunduk hormat lalu meninggalkan Naya yang berdiri dengan wajah kesal.


Bergegas Naya masuk kembali untuk mandi dan bersiap, ia harus mengatakan langsung pada Daniel tentang Januar, juga tentang rencana pernikahan mereka yang tak mungkin di lakukan.


Mata Naya menyisir ruangan lobi yang tampak sepi, satu lambaian tangan bonus senyuman dari wajah tampan Daniel membuat Naya mendekat meski enggan.


"Jangan kau perlihatkan wajah ketusmu pada calon suamimu ini cantik" sindir sarkas Daniel membuat Naya memutar matanya jengah.


Braakk.

__ADS_1


Naya menghempaskan tote bag yang di bawanya ke lantai, membuat Daniel mengerutkan alisnya, meski anak buah sudah melaporkan perihal Naya yang menolak pemberiannya tapi Daniel cukup terkejut dengan keberanian Naya.


"Bawa kembali semua pemberianmu, aku tak butuh itu semua" ucap Naya sinis.


"Kenapa? apa kau tak menyukainya? baiklah besok akan ku ganti dengan yang sesuai keinginanmu" ujar Daniel tenang.


"Hei dengar ya Tuan..Daniel, entah apa yang sudah ibuku janjikan padamu tapi yang perlu kau ketahui, aku tak akan mau menjadi istrimu, aku tak mau lagi hidup tersiksa karena perjodohan yang ia tentukan tanpa sepengetahuanku, berapapun yang sudah kau beri pada ibuku aku akan mengembalikannya."


Daniel tersenyum sinis, andai Naya tahu apa saja yang sudah di miliki Ningsih dari perjodohan paksa tanpa sepengetahuannya itu.


"Tapi aku tak meminta imbalan atau pun bayaran terhadap apa yang telah aku berikan pada ibumu, aku hanya mau kau setuju menjadi istriku, tak ada yang lain" Daniel masih tampak tenang dan santai menjawab kekesalan hati Naya.


"Sudah ku bilang aku tidak mau menjadi istrimu titik."


Naya mengerutkan alisnya, bagaimana mungkin Daniel menyukainya sejak lama sedang mereka baru pertama kali bertemu.


"Kau pasti bermimpi" ucap Naya ketus.


"Terserah apapun yang kau katakan, yang pasti..aku yakin kau akan menjadi milikku."


"Kau boleh memilikinya ....tapi, langkahi dulu mayatku" tiba-tiba terdengar suara Januar yang datang dan langsung berdiri menghalangi Naya dengan dada membusung.


Daniel membuang matanya.


Cih dasar bocah ingusan kurang ajar, mengganggu pemandangan saja, umpatnya dalam hati.

__ADS_1


Daniel memang sudah menyelidiki semua tentang Naya, juga orang-orang di sekitarnya, termasuk sosok Januar yang diam-diam membuatnya merasa iri karena ternyata Naya lebih memilih pemuda itu.


Januar delapan tahun lebih muda darinya, mana rela Daniel menyerahkan Naya begitu saja pada berondong itu.


"Kau naiklah ke atas sayang, biar dia.. aku yang tangani" bisik Januar lirih.


"T tapi, aku mau..."


"Ssst serahkan saja pada kekasihmu ini, nanti aku menyusulmu kalau buaya darat ini sudah pergi" Januar sengaja menaikan nada suaranya agar Daniel mendengar jelas.


Panas darah Daniel rasanya, bocah ingusan itu berani menyebutnya buaya darat, andai ia tahu, tak pernah sekalipun Daniel menerima perasaan cinta seorang wanita lain, karena hatinya hanya untuk Naya seorang.


Daniel masih berusaha tenang meski Januar begitu memprofokasi hatinya yang dengan terang-terangan bersikap manis bahkan mencium puncak kepala Naya di depan matanya.


Januar memandang langkah terakhir Naya yang menghilang di balik pintu lift.


"Aku akan berterus terang padamu, meski aku tahu kau adalah pria pilihan ibunya tapi ketahuilah, kami saling mencintai dan tak akan ada yang bisa memisahkan kami berdua, jadi jangan harap kau bisa memiliknya."


Daniel tersenyum sinis, keberanian pria yang beberapa tahun lebih muda darinya itu cukup layak di perhitungkan jika di banding dengan pria lain yang menaruh perasaan suka pada Naya.


Ia tahu selain Januar ada beberapa pria lain yang juga menyukai Naya dengan hebat, Daniel sudah banyak mendapat informasi dari anak buahnya yang ia sebar untuk memata-matai Naya.


"Kau begitu percaya diri sekali bocah, apa kau tak tahu, bakti Naya pada ibunya begitu besar, tak mungkin ia menolak apa yang ibunya titahkan padanya" ucap Daniel tenang.


"Bagiku itu bukan penghalang bagi cinta kami, karena aku yakin cinta Naya padaku sedalam cintaku untuknya" Daniel mencebik sinis, ingin rasanya mengirim pria di hadapannya ke luar angkasa agar tak lagi mengganggu Naya nya.

__ADS_1


__ADS_2