Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Tetanggaku Idolaku


__ADS_3

Kendra terdiam membisu, mendengar jawaban Naya serasa ada batu besar menghantam tubuhnya, dadanya terasa begitu sesak.


Meski jawaban itu sudah terlintas di benaknya, tapi mendengar langsung dari mulutnya, terasa sembilu menusuk tepat di ulu hatinya.


"Apakah kau sudah memikirkan nya baik-baik?" tanya Kendra sinis.


Naya menunduk dengan mata sendu, ia tahu luka hati Kendra, tapi ia memang harus jujur bahwa taka ada kesempatan lagi untuk sahabatnya itu.


"Aku sadar se sadar-sadarnya status dan posisiku saat ini, namun aku akan berusaha semampuku, jika kisah pernikahanku yang kemarin hancur maka kali ini aku akan berusaha semampuku, aku ingin memperjuangkan cinta dan asa ku sekuat tenaga yang aku punya."


Lemas rasanya tubuh Kendra mendengar kalimat Naya, tak pernah ia lihat Naya se percaya diri itu.


Sebesar itukah rasa cintamu pada bocah itu hingga hatimu pun tak tergoyahkan.


Kendra tersenyum masam sambil mengangguk lemas, sedalam apapun rasa cintanya pada Naya, tapi ia harus tetap menghormati apapun keputusannya.


"Hei kalian berdua, kejam banget nggak nunggu Gue" umpat Elis dengan wajah cemberut, sedangkan Naya menyeringai bahagia, untunglah Elis segera membaca pesan daruratnya, kalau tidak maka suasana canggung akan berlangsung lama.


"Hm, kebetulan kau datang, kau temani lah dia, aku ada leperluan lain" ujar Naya hangat.


"Lu nggak keberatan kalau gue temenin Ken?"tanya Elis ragu.


Kendra menggeleng pasrah, ia tahu itu semua tak tik Naya untuk menjodohkannya dengan Elis.


Naya pun melambai dan melangkah pergi dari kedai menuju apartement, entah kenapa hatinya tiba-tiba merasa rindu dengan Januar, tapi gengsi rasanya untuk menghubunginya terlebih dahulu.


Setelah turun dari taxi Naya berjalan menuju lobi apartement, sementara Januar dan Tiwi sudah dalam perjalanan pulang karena mereka tak bisa menemukan keberadaan Ningsih.

__ADS_1


Yang membuat Januar semakin kesal, rupanya Daniel sudah memberikan fasilitas kehidupan yang amat layak pada ibu tiri Naya tersebut, hidup mereka pasti sudah tenang tanpa harus di pusingkan dengan biaya sekolah anak-anaknya juga untuk kebutuhan makan.


Daniel sudah menjamin hidup mereka, itu semua adalah keterangan informasi yang mereka dapat dari penduduk sekitar yang tahu akan perjodohan anak lurah mereka dengan Naya putri tiri Ningsih.


Geram hati Januar, ia tak rela Naya di jadikan barang yang bisa di tukar dengan harta dan benda.


Begitupun Tiwi, meski ia masih terlihat tenang tapi hatinya begitu bergemuruh menahan amarah pada Ningsih.


Keduanya pulang dengan tangan kosong, Ningsih pergi berlibur dengan anak-anaknya, dan kepala desa yang akan menjadi calon mertua Naya punsedang dalam perjalanan bisnis ke luar kota.


Sedang Daniel saingan Januar, memang jarang berada di kampung tersebut karena dialah yang bertugas mengurusi bisnis sang ayah.


Hari mulai gelap, Januar terus melajukan kendaraannya meski dengan tubuh penat, sedang Tiwi tidur lelap di kursi di sampingnya.


Januar hanya memandang tajam ke depan, hatinya begitu tak tenang apalagi Kendra yang meminta Naya untuk menemuinya, bisa saja Januar menanyakan lewat telepon tapi ia ingin menanyakan langsung pada Naya nanti.


Hari mulai gelap saat Januar sampai di parkiran gedung apartementnya.


"Kita di mana?" tanyanya dengan suara serak.


"Lihat saja, kau pasti paham,ayo turun"ajak Januar.


Tiwi masih dengan nyawa yang belum kumpul sempurna menuruti Januar dan mengikutinya dari belakang.


"Bukankah di sini apartemen Naya?" tanya Tiwi.


Januar mengangguk meng iya kan namun langkahnya tetap menuju lift.

__ADS_1


"Hei Gue ngantuk, gue mau tidur di kamar Gue Jan" pekik Tiwi kesal, namun Januar tak menggubrisnya.


"Jan...Naya mungkin sudah tidur, kita jangan ganggu dia, nggak enak ah" kembali ucap Tiwi.


Januar tetap diam seribu bahasa.


"Hei sudah ku bi...."ucapan Tiwi terhenti saat Januar ternyata melewati pintu apartement Naya, dan rasa terkejut semakin menjadi kala Januar memencet pin pintu apartement di sebelah unit Naya.


"Hei ..jangan bilang apartement ini sudah kau beli?."


Januar hanya mengedikan alis dan memonyongkan bibirnya tanda dugaan Tiwi adalah benar.


Dan mulut Tiwi menganga lebar saat Januar membuka pintu apartement.


"Jadi demi dia Lu belain beli apartement yang bersebelahan dengannya" pekik Tiwi antusias.


Januar menaruh telunjuk di bibirnya agar Tiwi menurunkan nada suaranya.


"Hah kenapa?"bisik Tiwi.


"Dia belum tahu aku tetangganya Mbak."


Kembali mulut Tiwi mengangga lebar.


Ia sungguh tak habis pikir dengan ke bucinan sang adik pada Naya, hingga rela membeli satu unit apartement sederhana hanya untuk bisa berdekatan dengan sang pujaan.


"Ku harap sekarang kau sadar Mbak, bahwa cintaku padanya bukan hanya cinta yang terbawa perasaan, cintaku sesungguhnya yang berasal dari hati yang paling dalam, dan satu pintaku, dukunglah adik tampanmu ini untuk menggapai cinta dan cita nya, jangan lagi kau mengingkari hati kecilmu dengan menjodohkan wanita yang aku cintai dengan lelaki lain, karena itu akan sangat melukai hatiku Mbak" ucap Januar dalam.

__ADS_1


Tiwi tersenyum haru lalu memeluk sang adik.


Sekarang kau benar-benar sudah dewasa adikku.


__ADS_2