Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Rintangan


__ADS_3

Jeremy hanya memandang punggung sang putra yang keluar dengan tergesa lalu melihat ke arah sang istri.


"Apa yang membuatnya rela meninggalkanmu bahkan baru beberapa menit ia datang" baru kali ini Jeremy melihat putranya pergi tergesa meninggalkan ibu yang sangat di sayanginya.


"Dia pergi untuk menemui calon menantuku" jawab Kathlin dengan senyum smirk lalu melangkah kembali ke balkon.


Jeremy menyusul sang istri dengan penuh tanda tanya.


"Apa dia mengatakan padamu siapa gadis beruntung itu?" bisik Jeremy, Kathlin memggeleng namun di hatinya merasa pasti bahwa gadis itu akan Januar dapatkan.


Sementara itu Januar memacu mobilnya kembali menuju apartement meninggalkan Jefry di parkiran.


Naya menelpon dan mengatakan bahwa saat ini ia sudah kembali ke apartementya.


Daniel keluar dari lobi apartement dengan dadanya yang terasa sesak, harapannya untuk mendapatkan Naya, kini pupus karena dari sinar mata gadis kecil nya, tak ada nyala yang ia harapkan, Daniel sadar bahwa Naya memang tak memiliki hati untuknya, bocah itu sudah menempati hati Naya seutuhnya begitupun Januar, dari keterangan informasi yang anak buahnya dapat, bocah itu sangat terpukul saat Naya menghilang, dua hari saja Naya meninggalkannya seakan separuh hidup Januar sirna, Daniel tahu betapa kalang kabut pemuda itu saat Naya tak ada.


Dengan gontai Daniel memasuki mobil dan melaju ke hotel di mana ia menginap.Anak buahnya mengatakan kalau orang suruhan Ningsih sudah tak lagi mengejar Naya mungkin mereka kehilangan jejak karena memang anak buahnya yang lihai mengecoh.


Senyum Aslan menyambutnya di pintu lobi, rupanya pria campuran timur tengah itu sudah menunggunya.


"Ada apa bro?muram sekali wajahmu? lihatalah, ketampananmu pun bahkan tertutup awan kelabu" ledek Aslan sambil berjalan mengikuti Daniel menuju kamarnya.


Daniel menganggapi hanya dengan seulas senyum tipis, harapannya kini benar-benar mulai menghilang.


Apa gunanya wajah tampanku ini jika wanita pujaanku pun tak melihat ke arahku.


Ceklek.

__ADS_1


Daniel menghempaskan tubuhnya di atas sofa, sedang Aslan mengambil minuman dari dalam kulkas.


"Minum dulu bro, tenangkan hatimu" ucapnya lirih, ia merasa ikut sedih saat Daniel terlihat sungguh kalut, ia meremat kepalanya bahkan rahangnya pun mengembung.


Ia melangkah gontai menuju balkon,tatapannya jauh menembus hitamnya malam.


Haruskah aku benar-benar melepasmu untuknya, ia membatin lirih.


Sepeninggal Januar ternyata Tiwi pulang beberapa menit setelah kepergiannya.


"Apa kau tak berpapasan dengan adikmu Wi?" tanya Kathlin pada Tiwi.


"Hm tidak, apa bocah itu sudah ke sini Bu? kenapa malah pergi lagi?" tanya balik Tiwi kaget.


Kathlin hanya mengangguk dengan senyum tipis.


"Benarkah Yah, kenapa Januar pergi, aku kan mau bicara penting dengannya" rengek Tiwi kesal.


"Panggilan? dari siapa?" tanya Tiwi.


"Hanya seseorang yang di cintai Januar yang bisa membuatnya berubah se bucin itu pada seorang gadis" ujar Kathlin.


"Kau tahu siapa dia Wi? Ibu ingin tahu siapa gadis yang membuat adikmu yang sedingin beruang kutub berubah menjadi sehangat sinar mentari pagi"tanya Kathlin puitis.


"Ehm a um anu..." serasa kelu lidah tiwi untuk mengatakan yang sejujurnya pada kedua orang tuanya itu.


"Katakanlah, kami tahu pada siapa lagi adikmu akan berbagi cerita jika bukan pada kakaknya sendiri.."Jeremy menimpali dengan bijak.

__ADS_1


Kini Tiwi berdiri di antara dua sisi, antara bercerita dengan kedua orang tuanya, atau masih tetap menyimpan rahasia sang adik hingga nanti Januar sendiri yang akan mengatakan pada mereka.


********


Langkah Januar panjang melewati lobi apartement lalu memasuki pintu lift.


Teet.


Ceklek, Januar berdiri di tengah pintu, hanya dua hari ia tak melihat Naya tapi serasa bertahun-tahun mereka berpisah.


"Kau sakit, maaf aku membuatmu kesal lagi " ucap Naya dengan wajah polos dan senyum mautnya.


Rasa rindu dan sesak dada Januar saat ini, bagaimana mungkin Naya masih bisa tersenyum dengan manis saat dirinya seakan merasa hancur karena kepergiannya.


Perlahan Naya mengulurkan tangannya ke arah kening Januar karena pria tampan itu tetap saja berdiri mematung dengan wajah yang lusuh.


Greepp.


Bukan tangan Naya yang sampai di kening Januar tapi tubuh Januar lah yang merengkuh Naya ke dalam pelukannya.


Untuk sesaat keduanya saling diam melepas rindu, begitu erat pelukan Januar seakan tak rela Naya kembali pergi meninggalkannya.


"Kenapa kau meninggalkan aku sayang?" tanya Januar dengan suara berat dalam pelukan Naya.


"M maaf, aku pergi ke makam Ayah dan Ibuku.."


"Apakah kau tak ingin mengenalkanku pada mereka?"

__ADS_1


Naya mengurai pelukan perlahan, netra bening Januar memandang penuh hiba padanya, tatapan cinta yang tulus yang ia pun tak akan pernah bisa berpaling dari ketulusannya.


Namun kini rintangan semakin berat, saat Jeremy bahkan menyangka kalau dialah yang akan menjadi istri Daniel.


__ADS_2