
Naya hanya diam mengikuti Tiwi yang terus meracau merutiki Ningsih, jika Naya memendam semua perasaan kecewa dan lukanya dalam hati, tapi tidak dengan Tiwi.
Berbagai macam umpatan keluar dari mulutnya, bibir tipisnya memang sangat mahir dalam mengeluarkan kata-kata kotor bahkan seluruh isi kebun binatang sudah di absennya satu persatu.
Naya dengan sabar mendengar semua uneg-ineg Tiwi, tanpa menyahut apalagi membantah, ia hanya tersenyum atau pun mengangguk.
Tiwi saat ini hanya perlu pendengar yang baik, Naya pun sebenarnya bingung dengan tingkah Tiwi yang sedikit aneh hari ini.
Emosinya tampak begitu meluap, entah masalah apalagi yang sedang mengusik hatinya.
"Kita mau ke mana Wi, gue kasihan sama Vega, banyak banget kerjaan nggak ada yang bantu."
"Ah udah santai aja, toh Januar tadi udah datang."
Cukup lama Tiwi melajukan mobilnya membuat Naya bertanya dalam hati, kemana Tiwi akan membawanya.
Di sebuah coffe shop terletak di pinggiran kota, Tiwi menghentikan mobil dan memarkirkannya.
Dan senyum tampan Kevin terbit menyambut kedatangan kedua wanita cantik tersebut.
Naya menghela nafas panjang, rupanya mereka sudah bekerja sama, terlihat dari Kevin yang memang sudah memesan tiga minuman untuk mereka.
"Minumlah, aku sengaja memesan kopi kesukaanmu Nay" sapa Kevin lembut, Naya hanya mrngangguk ringan.
Tiwi hanya mengedikan alisnya pasrah, apa yang di pesan Kevin untuknya tak sesuai dengan seleranya.
"Memang kalau lelaki pasti tahu semua kesukaan dan selera wanita yang di sukainya, sedangkan sahabatnya di masa bodo in" gerutunya kesal.
Kevin hanya terkekeh.
"Sorry Wi, gue lupa kalau Lu nggak gitu suka kopi"Kevin membela diri hingga Naya kikuk.
__ADS_1
"Hm beruntung Lu Nay, si Kevin masih ngejar Elu, meski tahu kau sudah jendes" ucap Tiwi jujur.
Naya menatap Kevin serius, ia sungguh tak tahu kalau Kevin masih tetap mengharapkan dirinya.
Mendapat tatapan tajam dari Naya, Kevin pun balas menatapnya tapi dengan tatapan teduh penuh cinta.
"Aku akan selalu menunggunya, karena dialah satu-satunya wanita yang selalu hadir dalam mimpiku" ucap Kevin lembut.
"K kenapa harus aku Vin?" kini Naya mulai ber aku, Kamu, ia ingin menjelaskan pada pada Kevin kalau ia pantas mendapatkan wanita yang lebih darinya, karena sebenarnya kini hatinya sudah berpunya, itulah alasan utama Naya.
"Karena kau lah satu-satunya wanita masa depanku, mungkin kau baru tahu kalau perasaanku ladamu sungguh-sungguh, tapi sebenarnya sejak pertaka kali aku bertemu dengamu di bangku kuliah dulu hatiku langsung terparti untukmu Nay."
"Naahhh....mumpung sekarang kita lagi kumpul nih yaa, Lu mending lamar dia aja Vin, sebelum ada lelaki lain yang akan bawa kabur dia?"
Naya memandang Tiwi protes, ia sebenarnya tak ingin menggemborkan rencana ibu tiri padanya, Naya ingin mengatasinya sendiri.
"Apa maksudmu Wi, siapa yang akan bawa kabur Naya?" tanya Kevin terkejut.
Kevin membulat dan memandang Naya, bertanya lewat tatapan apakah benar yang Tiwi ucap.
Naya mengangguk pasrah, sudah kepalan tanggung, pikirnya.
"Apa benar hal itu Nay?lalu apakah kau akan lembali menerima perjodohan ini setelah pernikahanmu dengan Danu berakhir singkat dan menyakitkan, apa kau masih akan menuruti permintaan gila ibu tirimu itu?" Kevin tersulut emosinya kala Naya hanya diam dan seakan pasrah.
"Hmm hmm, mungkin Naya tak bisa secepat itu menerima mu Vin?"tiba-tiba terdengar suara berat berasal dari salah satu pria yang melangkah mendekat ke arah mereka.
"Aslan" sapa Tiwi terkejut, apalagi ia datang bersama Januar yang memandangnya dengan sinis.
"Apa kabar kalian?"sapa Aslan tapi matanya menatap Tiwi dalam.
Rupanya Januar langsung menghubungi Aslan untuk menyusulnya mengikuti Tiwi yang membawa Naya untuk bertemu Kevin.
__ADS_1
Kevin menatap Aslan dengan tatapan tak senang, pria itu seakan mengetahui tentang isi hati Naya.
Karena meja tersebut hanya terdapat empat kursi, Aslan mengambil kursi dari meja lain yang kosong lalu duduk di sebelah Tiwi sedangkan Januar sengaja mendekatkan kursinya ke arah Naya.
"Dari mana kalian? dan kenapa bisa datang bersamaan?" tanya Tiwi.
"Hmn adikmu kebetulan melewati kantorku jadi ku pikir tak ada salahnya aku ikut berkumpul dan menyapa kalian" jawab Aslan santai, meski cenderung ketus dan apa adanya tapi Aslan sungguh menyukai sifat Tiwi, terkadang bar-bar dan dan acuh, itulah yang membuatnya semakin penasaran padanya.
"Oiya Nay, apakah kau akan secepat itu melepas masa janda mu? dan siapa pria yang kau pilih? Kevin atau anak lurah itu?" tanya Aslan santai, membuat Januar spontan menendang ujung sepatunya dengan kesal.
"Sialan Lu, kau hanya sebut Kevin dan anak lurah itu, lalu kau pikir aku apa?" ucap Januar lewat tatapan sinis ke arah Aslan.
"Tenang saja bro, kita harus pintar bersandiwara jangan sampai kakakmu tahu kalau kita bekerja sama" jawab Aslan lewat kedikan alis dan senyum smirknya.
"Aku sebenarnya tak ingin hal ini mengganggu kalian, sudah cukup kalian aku repotkan, aku akan mencoba menyelesaikan masalah ini sendiri" jawab Naya bijak.
"Tapi aku tak rela kau tetap menuruti kemauan ibu tirimu Nay" ucapan kalimat Kevin yang penuh perhatian membuat kuping Januar panas.
"Aku akan mengatakan langsung pada ibuku, dan pasti ibu juga menghargai keputusanku"tolak Naya halus.
"Tapi Gue tahu Ibu Lu itu tak akan tinggal diam meski kau menolaknya, di otak dia hanya ada duit, uang, dan fulus Nay, tak ada yang lain, dia tak akan mengerti apa isi hatimu, ia tak perduli tentang perasaanmu" protes Tiwi.
"Kalau begitu aku akan melamarnya seberapapun yang akan ibunya minta" ucap Kevin dengan lantang.
Namun tiba-tiba Januar bangkit dan meraih tangan Naya untuk pergi dari cafe tersebut.
"Aku ada urusan penting dengannya, maaf kalian kami tinggal dulu" kalimat Januar datar dan dingin.
Hanya satu yang tersenyum melihat adegan tersebut.
Kau memang calon adik ipar kebanggaanku.
__ADS_1