
HAPPY READING!!!!!!!!🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Kini sepasang suami istri itu sudah tiba di panti Kasih Bunda, mereka juga membawa hadiah untuk anak-anak dan juga makanan untuk mereka tidak lupa juga buat seluruh pengurus panti. Sekarang Syakilla dan Fahri ada di ruangan Bunda Fatimah.
"Assalamualaikum," ucap Syakilla dan Fahri saat memasuki panti.
" Waalaikumsalam," jawab Mbak Salma dan yang lainnya
" Wah ada pengantin baru," ucap Mbak Salma menggoda Syakilla dan Fahri.
" Mbak bisa aja, anak-anak mana Mbak? Kok nggak ada di depan?" Tanya Syakilla. Sedangkan Fahri dia hanya tersenyum simpul kepada Salma dan juga yang lainnya. Bukan karena dia sombong tapi begitulah Fahri yang sesungguhnya tidak banyak bicara dengan wanita, dia bicara karena perlu saja selebihnya dia akan diam. Kecuali dengan Syakilla sat pertama bertemu saja sudah beda ada rasa kenyamanan seperti mereka sudah pernah dekat sebelumnya.
" Anak-anak ada di kamar mereka lebih suka menghabiskan waktu di sana kalau kalian tidak datang ke sini" jawab Salma.
" Syakilla sama mas Fahri bawa makanan dan juga mainan kesukaan mereka, boleh Syakilla minta tolong Mbak untuk bawain ke kamar? Syakilla juga ikut bantu!" Ucap Syakilla.
"Tentu saja boleh," jawab Salma.
" Terima kasih Mbak" ucap Syakilla.
" Tidak usah bilang makasih," balas Salma.
Salma dan juga beberapa pengurus panti ikut membantu Syakilla dan Fahri menurunkan belanjaan mereka yang ada di dalam mobil. Biasanya Syakilla membawakan anak-anak seperlunya saja tapi kali ini dia menggabungkan dengan punya Fahri jadi semakin banyak.
" Banyak sekali" ucap Salma.
" Ini dari kami berdua makanya sedikit lebih dari biasanya. Mbak pisahkan saja menurut kebutuhan kerena ada buat keperluan dapur juga," jelas Syakilla.
" Ia, nanti Mbak pisahkan. Sekarang kita anterin mainan ini untuk anak-anak biar kebutuhan dapur di urus sama yang lain," balas Salma memberikan solusi.
" Ide bagus," ucap Syakilla.
Jadilah mereka membagi seperti dua tim yang satu membereskan kebutuhan dapur dan makan siang yang sudah di bawakan, ada juga yang menyiapkan keperluan dapur sedangkan Syakilla, Fahri dan Salma membawakan mainan dan juga alat tulis untuk anak-anak ke kamarnya.
Setelah mengantarnya ke dalam kamar anak-anak Syakilla dan Fahri pergi ke ruangan Bunda Fatimah setelah bilang ke anak-anak kalau mereka akan menemui Bunda Fatimah terlebih dahulu.
"Bagaimana keadaan kamu sekarang? Maaf Bunda tidak sempat ke rumah lagi setelah hari itu, karena ada anak yang lagi sakit di panti jadi Bunda tidak bisa meninggalkan mereka!" Ucap Bunda Fatimah.
__ADS_1
"Siapa yang sakit Bunda?" Tanya Syakilla terkejut.
" Dimas! Dia sempat mengalami demam yang cukup tinggi tapi sekarang sudah pulih." ucap Bunda Fatimah.
" Alhamdulillah," ucap Syakilla dan Fahri secara bersamaan mereka lega karena Dimas sudah baik-baik saja.
" Jawab Bunda dulu, bagaimana dengan kamu sendiri?" Tanya Bunda Fatimah mengulang pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.
" Alhamdulillah Qilla baik Bunda. Semua berkat Bunda dan keluarga mas Fahri kalau tidak ada kalian semua , Qilla nggak tau apa yang akan terjadi dengan Qilla. Terima kasih" ucap Syakilla sambil menatap Fahri.
"Bunda senang kalau kamu sudah bisa menerima takdir kamu. Semua sudah menjadi ketetapan yang Maha Kuasa, kamu juga sudah Bunda anggap sebagai anak Bunda sendiri, jadi tidak perlu berterima kasih. Dan semoga pernikahan kalian selalu bahagia. Rasanya Bunda masih tidak percaya kalau sekarang kalian adalah suami istri. Baru kemaren kamu bilang nggak akan mau sama Fahri yang seperti anak-anak" ucap Bunda Fatimah tersenyum.
" Bunda benar awalnya aku nggak mau menjalin hubungan dengan pria manapun apalagi dengan mas Fahri! Bunda bisa lihat sendiri bukan bagaiman sikap mas Fahri selama ini, tapi siapa sangka kehadiran mas Fahri membuka hati dan pikiran Syakilla. Apalagi Mama! Mama sangat ingin menjadikan mas Fahri sebagai menantunya. Mama selalu mendesak Syakilla untuk menerima mas Fahri setelah hari itu" ungkap Syakilla.
" Mas ini memang menantu idaman sayang tidak heran kalau Mama sangat menginginkan mas untuk dijadikan menantunya," ucap Fahri membuat Syakilla tersenyum.
" Dasar ustadz narsis" ucap Syakilla dan di tertawa kan Bunda Fatimah.
"Kalian ini suka sekali bertengkar, sudah menjadi suami istri masih saja bertengkar. Pusing Bunda! Kapan kalian akan kasih Bunda cucu? Kalian tidak menundanya kan?" Tanya Bunda Fatimah.
"Tidak Bunda, doakan saja! Semoga Allah segera menghadirkan malaikat kecil di keluarga kami," balas Fahri.
"Apa kalian tidak akan bermain dengan anak-anak?" Sambung Bunda Fatimah.
" Syakilla mau Bunda, udah lama Qilla nggak main sama mereka, Qilla juga udah janji sama mereka tadi " jawab Syakilla.
" Kalau gitu kita keluar ya! Anak-anak juga selalu menanyakan kamu sama Bunda, " ucap Bunda Fatimah.
" Ia Bunda" jawab Fahri dan Syakilla secara bersamaan.
Bunda Fatimah dan Syakilla berjalan beriringan sementara Fahri di belakang keduanya. Syakilla dan Bunda asik bercerita satu sama lain dan Fahri hanya menjadi pendengar saja.
" Untung saja sayang," batin Fahri dia merasa di abaikan oleh kedua wanita yang ada di depannya. Meskipun, sesekali menoleh ke belakang dan tersenyum ke arah suaminya tapi tetap saja Fahri merasa di abaikan.
Sampai di halaman pondok ternyata anak-anak sudah menunggu Syakilla dan Fahri dengan membawa mainan di tangan mereka masing-masing. Yang pertama Syakilla hampiri adalah Dimas dia ingin menanyakan keadaannya, walaupun Bunda sudah bilang kalau sekarang Dimas sudah pulih. Namun, Syakilla tetaplah Syakilla dia akan lebih lega kalau mendengarnya dari mulut Dimas langsung.
" Sayang bagaimana kondisi kamu? Kakak dengar dari Bunda kalau Dimas demam?" Tanya Syakilla.
__ADS_1
" Alhamdulillah Dimas udah sembuh kok kak, Dimas kan jagoan," balas Dimas menunjukkan otot kecilnya.
"Maaf ya kakak nggak bisa jenguk kamu," ucap Syakilla.
" Nggak pa-pa kok kak, Dimas mengerti kenapa kakak tidak menjenguk Dimas. Malahan Dimas yang minta maaf karena tidak ada di samping kakak. Dimas sudah mengingkari janji Dimas untuk selalu ada di dekat kakak" ucap Dimas seperti orang dewasa saja.
Fahri merasa bangga sekaligus terharu dengan istrinya, di saat apa yang lagi dia alami, dia masih memikirkan anak-anak dan meminta maaf kepada mereka karena tidak bisa menjenguk mereka yang lagi sakit. Fahri ikut bergabung dengan mereka dan menyela pembicaraan Dimas dan juga Syakilla.
"Janji apa?" Tanya Fahri.
" Dimas udah janji sama kak Qilla kalau Dimas akan selalu ada di samping kak Qilla. Jadi kak Qilla tidak akan merasa kesepian lagi walaupun Oma udah meninggal" jelas Dimas dengan polosnya.
" Dimas tenang saja, sekarang kak Qilla tidak akan pernah merasa kesepian lagi karena ada kakak di sampingnya. Jadi, Dimas tidak mengingkari janji Dimas," ucap Fahri.
" Oke, tapi kalau Dimas sudah besar Dimas akan menjaga kak Qilla sendiri jadi tidak perlu Kak Fahri lagi"ucap Dimas membuat Syakilla dan Fahri tertawa mendengar kepolosan Dimas.
" Kamu menyukai kak Qilla?" Tanya Fahri iseng.
" Ia! Kenapa? Kak Fahri juga menyukai kakaknya Dimas? Dimas nggak akan mau kasih kak Qilla untuk kakak, kak Qilla hanya boleh punya Dimas. Benar kan kak?" Tanya Dimas memeluk Syakilla yang masih jongkok di sampingnya.
" Ia, kakak punya Dimas," balas Syakilla.
Wlleee!
" Begini amat saingannya, saingan terberat ini namanya" batin Fahri tersenyum ke arah Syakilla yang juga tersenyum ke arahnya.
Dimas meledek Fahri dan mengeluarkan lidahnya membuat Fahri gemas bukannya marah.
" Enggak bisa, sekarang sampai selamanya kak Qilla punya kak Fahri. Jadi, Dimas nggak boleh memeluk kak Qilla, cepat lepaskan" ucap Fahri ikut memeluk Syakilla dari belakang dan berusaha melepaskan pelukan Dimas.
" Enggak mau, kak Qilla punya Dimas buka punya kakak." balas Dimas tidak mau kalah dari Fahri.
Dimas menunjukkan ekspresi wajah garang dan marah di depan Fahri. Fahri bukannya merasa takut tapi sangat gemas melihat ekspresi wajah Dimas yang sangat menggemaskan. Wajahnya yang tembem membuat ekspresi menjadi sangat lucu.
" Enggak bisa, kak Qilla punya kak Fahri. " balas Fahri lagi tidak mau kalah dari Dimas, Fahri dengan sengaja mencium pipi Syakilla di depan Dimas.
" Bunda! Bunda! Kak Fahri bandel" teriak Dimas.
__ADS_1
" Mas," tegur Syakilla
" Mas suka melihat ekspresi wajahnya sayang. Mas jadi pengen punya anak cepat-cepat," bisik Fahri