
HAPPY READING!!!!🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Setelah acara tahlilan Fahri, sebelum pulang semua memberikan selamat kepada Fahri dan juga Syakilla, termasuk Nabila dan Salman.
" Semoga pernikahannya sakinah mawaddah warahmah. Maaf tadi saya tidak mengenali kamu," ucap Nabila saat bersalaman dengan Syakilla.
" Tidak apa-apa" balas Syakilla tersenyum.
" Selamat untuk pernikahannya ustadz Fahri, semoga cepat di berikan momongan," ucap Nabila saat bersalaman dengan Fahri tapi salam jarak jauh.
" Aamiin, terima kasih doanya," ucap Fahri tersenyum ke arah Nabila. Membuat Syakilla cemburu tapi dia tidak memperlihatkannya.
Sekarang tiba giliran Salman yang memberikan ucapan selamat.
" Semoga pernikahannya bahagia selalu dan kalian selalu bersama sampai maut yang memisahkan," ucap Salman.
"Terima kasih," ucap Syakilla sengaja tersenyum ke arah Salman untuk membuat suaminya cemburu.
" Selamat untuk pernikahannya," ucap Salman memeluk sahabatnya
" Jadi ini yang kamu maksud, cantik," ucap Salman.
" Awas kalau ustadz berani macam-macam," ancam Fahri melepaskan pelukan mereka.
Kini Fahri dan keluarga sudah sampai di rumah mereka dan sudah berada di ruang keluarga.
" Alhamdulillah acara hari ini berjalan dengan lancar," ucap Aminah.
" Kalian istirahatlah, Fahri ajak istrimu ke kamar untuk istirahat." Ucap Ilham.
" Ia, Ummi, Abi, kak. Fahri ke kamar dulu," ucap Fahri.
" Ayo sayang," ajak Fahri.
" Ia, Mas." sahut Syakilla.
" Sini dulu, peluk kakak," ucap Zahra merentangkan tangannya supaya Syakilla bisa masuk ke dalam pelukannya.
" Setelah hari ini jangan pernah merasa sendiri lagi, kakak akan selalu ada untuk kamu. Sekarang kami juga keluargamu," ucap Zahra saat memeluk Syakilla. Zahra mengerti gimana perasaan Syakilla sekarang meskipun dia berusaha menutupinya.
" Terima kasih, kak Zahra udah sayang dengan Syakilla," balas Syakilla.
" Sekarang istirahatlah, kakak tunggu keponakan kakak hadir di dunia ini," ucap Zahra melepaskan pelukan mereka.
" Kakak bicara apa sih?" balas Syakilla malu.
" Enggak usah malu begitu," ucap Zahra sengaja menggoda Syakilla supaya tidak terlalu raut dalam kesedihan.
" Kami ke kamar dulu, Assalamualaikum," ucap Fahri.
" Waalaikumsalam," jawab Abi,Ummi,dan Zahra.
Sekarang Fahri dan juga Syakilla sudah berada di dalam kamar. Entah kenapa malam ini suasana sedikit berbeda dari sebelumnya, padahal mereka sudah pernah berada di posisi di mana mereka hanya berdua saja di dalam kamar. Tapi malam ini sungguh berbeda Syakilla yang merasa gugup tanpa sebab.
__ADS_1
" Kalau kamu belum nyaman, Mas akan tidur di sofa saja," ucap Fahri mengerti.
" Jangan," ucap Syakilla.
" Maksud Qilla, Mas bisa tidur di atas kasur bersama dengan Qilla," sambung Syakilla.
" Baiklah, saya akan ganti baju dulu, tidak nyaman kalau tidur menggunakan baju ini," ucap Fahri mengambil pakaiannya di dalam lemari dan masuk ke dalam kamar mandi.
" Mas, aku bisa masukkan baju aku ke dalam lemari ini?," Tanya Syakilla.
" Ia, masukkan saja, Kalau tidak muat nanti kita beli lemari satu lagi," ucap Fahri
"Ia,Mas," jawab Syakilla.
Setelah Fahri masuk ke dalam kamar mandi Syakilla melamun sebentar sebelum memasukkan bajunya ke dalam lemari.
" Kenapa aku jadi gugup dan canggung seperti ini malam ini, Syakilla ini bukan pertama kalinya kamu berada dalam satu ruangan dengan suami kamu, ini semua karena omongan kak Zahra." gumam Syakilla.
" Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan sekarang? Semoga mas Fahri tidak meminta haknya malam ini juga," sambung Syakilla.
Seraya dia menunggu Fahri keluar dari kamar mandi Syakilla merapikan baju-bajunya ke dalam lemari.
Di dalam kamar mandi Fahri yang sudah mengganti pakaiannya juga terlihat gugup seperti Syakilla.
" Fahri ingat Syakilla baru saja mengalami musibah dia baru saja kehilangan Mamanya, jadi jangan macam-macam," gumam Fahri mencoba menasehati dirinya sendiri.
Huuh!
Fahri menghembuskan napas pelan, dia sangat gugup dan khawatir tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Syakilla terkejut saat mendengar suara pintu yang dibuka.
" Kamu tidak ganti baju dulu, apa akan nyaman tidur dengan baju seperti itu?" Tanya Fahri berusaha tenang.
" Ia, Mas, aku ganti baju dulu" balas Syakilla mengambil bajunya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Fahri naik ke atas tempat tidurnya menunggu Syakilla keluar dari kamar mandi. Sambilan menunggu Fahri memainkan ponselnya.
Ceklek,
Suara Syakilla membuka pintu. Fahri yang melihat Syakilla keluar dari kamar mandi tapi masih menggunakan hijabnya.
" Kenapa tidak kamu lepaskan saja jilbabnya, Mas juga sudah pernah melihat rambut kamu," Ucap Fahri
" Tapi waktu itu aku tidak sadar," Balas Syakilla.
" Kamu tidak akan nyaman tidur dengan menggunakan hijab seperti itu, lepaskan saja. Mas juga ingin melihat rambut istri Mas," ucap Fahri.
Ragu-ragu Syakilla melepaskan jilbabnya di depan Fahri. Dia mencoba meyakinkan hatinya kalau ini sungguh tidak apa-apa.
Fahri terpana melihat istrinya yang cantik natural apalagi dengan uraian rambut yang menjuntai seperti itu. Fahri terus menatap Syakilla dengan perasaan yang tidak menentu, tapi dia tetap mengontrol dirinya.
Syakilla berjalan dan naik ke atas tempat tidur yang bersebelahan dengan Fahri, ada perasaan canggung di hatinya saat harus satu tempat tidur dengan seorang laki-laki meskipun itu adalah suaminya.
__ADS_1
" Mas tidur di atas sofa saja, kalau kamu tidak nyaman" ucap Fahri merasa kalau Syakilla masih tidak nyaman kalau harus satu tempat tidur dengannya.
" Tidak apa-apa Mas, aku gak mau jadi istri durhaka dengan membiarkan suamiku harus tidur di atas sofa." ucap Syakilla meyakinkan hatinya.
"Sekarang tidurlah, Mas janji tidak akan menyentuh kamu," ucap Fahri.
" Maaf," ucap Syakilla.
" Tidak apa-apa, Mas tau kamu masih dalam suana berduka. Tapi..." ucap Fahri mau melanjutkan ucapannya tapi tidak enak.
" Tapi...kenapa?" Tanya Syakilla.
" Bukan apa-apa" jawab Fahri.
" Katakan saja Mas" ucap Syakilla
" Apa Mas boleh memeluk kamu?" Tanya Fahri akhirnya.
" Cuma memeluk?" Tanya Syakilla.
Fahri mengangguk mengiyakan ucapan Syakilla.
" Tidak lebih? Mas janji!" Ucap Syakilla.
" Mas janji" balas Fahri.
" Iya," ucap Syakilla.
Syakilla membiarkan Fahri memeluknya karena dia merasa akan menjadi istri durhaka menolak suaminya apalagi hanya sebuah pelukan. Lagi pula ini yang dia butuhkan sekarang sebuah pelukan dari orang yang dia cintai.
Syakilla menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Fahri. Fahri membiarkan Syakilla tidur di lengannya dan memeluknya.
" Ini lebih baik," batin Fahri. Fahri memeluk Syakilla seraya memainkan rambut indah istrinya.
Setelah beberapa saat Syakilla belum bisa tidur.
" Mas"panggil Syakilla mendongak ke atas. Dia masih kepikiran dengan Nabila.
" Ia, kenapa?" Tanya Fahri melihat Syakilla tidak sengaja bibirnya menyentuh kening Syakilla. Seketika keduanya mematung untuk beberapa saat. Syakilla merasa jantungnya sudah tidak aman jadi dia menjauhkan tubuhnya dari Fahri.
Tidak jauh berbeda dari Syakilla Fahri juga merasa sangat deg degan saat posisi mereka sedekat itu.
"Ehem," Fahri berdehem untuk menyembunyikan perasaan gugupnya.
" Kamu mau menanyakan apa tadi?" Tanya Fahri.
" Enggak jadi kita tidur aja" ucap Syakilla menarik selimutnya.
" Sebaiknya memang seperti itu, selamat malam. Assalamualaikum" ucap Fahri.
" Selamat malam. Waalaikumsalam" jawab Syakilla memejamkan matanya.
Syakilla dan Fahri tidur sendiri-sendiri setelah itu.
__ADS_1
" Tidak jadi pelukan sama istri," batin Fahri. Juga ikut tidur.