Cinta Pertama Yang Sempurna

Cinta Pertama Yang Sempurna
Canggung


__ADS_3

HAPPY READING!


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Setelah acara selesai mereka kembali ke dalam kamar mereka masing-masing, Fahri masih memikirkan kenapa mertuanya tidak kunjung hadir juga, bahkan Fahri juga sudah beberapa kali menghubungi papa mertuanya tapi tidak kunjung mendapat balasan apapun. Ditambah lagi nomornya tidak bisa di hubungi sama sekali.


Fahri juga sudah meminta bantuan dari Alfin tapi hasilnya tetap sama. Namun, Fahri tidak mengatakan apapun kepada Syakilla takut istrinya merasa khawatir.


"Sebenarnya kemana papanya Syakilla, aku merasa ada yang tidak beres. Semoga saja beliau baik-baik saja" batin Fahri yang menatap istrinya yang sudah terlelap terlebih dahulu.


Lama Fahri menatap istrinya yang terlelap dengan wajah yang begitu damai. Fahri mengusap wajah istrinya pelan takut membangunkan sang istri yang terlelap, karena hari ini cukup lelah bagi semua keluarganya,termasuk dirinya sendiri.


Karena Fahri yang terus mengelus pelan wajah Syakilla, Syakilla yang merasa terganggu mulai membuka matanya perlahan dan melihat sang suami sedang menatapnya sambil tangan Fahri yang mengelus wajahnya.


"Mas! Kenapa kamu bangun?"Tanya Syakilla dengan suara serak dan melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul 2 malam.


"Mas nggak bisa tidur sayang, maaf karena mas kamu terbangun. Sekarang kamu bisa lanjutkan tidur kamu, mas janji nggak akan mengganggu kamu lagi" jawab Fahri menarik Syakilla agar tidur di lengannya agar Syakilla kembali tidur


"Mas lagi mikirin apa sih?Aku perhatikan dari sejak tadi pagi mas terus melamun?" Tanya Syakilla mendongak melihat wajah Fahri.


"Mas nggak mikirin apa-apa sayang" balas Fahri mencium kening Syakilla


"Mas nggak mau jujur sama aku!" Ucap Syakilla menjauh dari Fahri.


"Bukan sayang, mas nggak mikirin apa-apa," balas Fahri yang tidak mau berkata jujur kepada Syakilla.


" Mas bohong!" Balas Syakilla yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan Fahri padanya.


"Beneran kamu pengen tau apa yang mas pikirkan?"Tanya Fahri menatap Syakilla dengan tatapan penuh cinta. Fahri tidak bisa melihat Syakilla merajuk dengannya.


" Aku tidak akan memaksa mas mengatakannya" balas Syakilla cuek dan tetap membelakangi Fahri.


" Lihat sini dulu, suaminya di sini bukan di sana" ucap Fahri.

__ADS_1


Setelah Syakilla berpaling ke arahnya, dengan tatapan jaim Fahri kembali bertanya pada Syakilla apa dia sungguh ingin tau apa yang di pikirkan.


" Kamu ingin tau apa yang mas pikirkan?" Tanya Fahri lagi.


" Iya, aku ingin tau apa yang mas pikirkan sampai tidak bisa tidur seperti ini, mas tidak memikirkan perempuan lain kan?" Balas Syakilla.


Taakk!


Suara sentilan Fahri di kening Syakilla, saking Fahri gemasnya dengan Syakilla yang selalu mengatakan seenaknya.


" Kenapa Mas, memukulku?" Tanya Syakilla mengelus keningnya.


" Lain kali kalau mau bicara di saring dulu, jangan asal. Mas nggak akan pernah ada niatan menduakan kamu. Ingat itu!" Ucap Fahri.


" Iya, maaf" balas Syakilla. Syakilla hanya takut kalau Fahri juga akan menduakan, apalagi Fahri adalah ustadz yang paham agama. Ditambah banyak ustadz yang berpoligami.


" Sekarang tidurlah!"Pinta Fahri.


" Mas jawab dulu, apa yang sebenarnya mas pikirkan, kalau mas Fahri tidak jawab mendingan mas jangan bicara sama aku" ucap Syakilla tetap ingin tahu apa yang mengganggu pikiran suaminya sampai tidak bisa tidur.


Blush!


Wajah Syakilla memerah saat pernyataan itu keluar dari mulut suaminya, Syakilla tau malam pengantin yang di maksud Fahri adalah untuk kakaknya bukan dirinya.


" Itu untuk kak Zahra mas, bukan kita" balas Syakilla.


" Kita juga masih pengantin baru sayang, tapi sekarang kamu lagi berhalangan." balas Fahri lesu.


" Sekarang lebih baik mas tidur daripada semakin melantur" ucap Syakilla memeluk Fahri dan memejamkan matanya.


Fahri lega karena dia bisa membuat Syakilla mempercayai ucapannya, karena bukan itu yang Fahri pikirkan. Tapi tidak berbohong juga, dia iri dengan ustadz Zaki malam ini.


" Maafkan mas sayang, mas tidak bermaksud membohongi kamu. Tapi, mas akan mencari tahu yang sebenarnya terlebih dahulu" batin Fahri mengelus rambut Syakilla yang ada di dalam pelukannya dan sesekali menciumnya.

__ADS_1


Syakilla dan Fahri sama-sama tertidur dengan berpelukan satu sama lain, sementara di kamar pengantin Zaki dan Zahra masih terlihat malu-malu. Zaki yang tidak pernah bersentuhan dengan perempuan merasa malu berada satu kamar dengan perempuan meskipun mereka sudah sah di mata agama dan juga hukum.


Posisi duduk mereka juga terlihat seperti dua orang asing yang terpaksa menikah, Zahra duduk di samping tempat tidur dan Zaki berada di sofa. Sungguh tidak terlihat seperti suami istri yang menikah karena keinginan mereka sendiri.


Suasana yang sepi membuat keduanya terlihat sangat canggung, Zaki bangun dari tempat duduknya, berjalan menuju kamar mandi. Semua yang di lakukan Zaki tidak lepas dari perhatian Zahra.


Zahra yang biasa banyak bicara juga merasa canggung satu sama lain. Zahra merasa deg degan, dia masih tidak percaya orang yang diam-diam dia doakan setiap malam kini tepat berada di dekatnya, bahkan sudah menjadi suaminya.


Hati wanita mana yang tidak senang di kalau orang yang selalu berada di setiap doa yang kita panjatkan menjadi kenyataan.


" Kenapa jadi gugup begini!" ucap Zahra tidak habis pikir dengan kelakuan Zaki yang pendiam.


" Apa ustadz Zaki tidak mau melihat wajahku, kenapa jadi begini" sambung Zahra.


Ceklek!


Suara pintu terbuka menyadarkan Zahra dan menoleh ke arah Zaki yang berjalan ke arahnya. Zahra yang awalnya canggung berubah menjadi deg degan, saat Zaki semakin dekat dengannya.


" Ustadz..." ucap Zahra sangat pelan bahkan hampir tidak bisa di dengar Zaki.


"Maaf suasananya jadi canggung begini, saya tidak pernah berada di satu ruangan bersama dengan perempuan kecuali Mama saya" ucap Zaki duduk di dekat Zahra tapi masih ada jarak yang cukup jauh, menatap Zahra yang masih memakai cadarnya meskipun sudah mengganti bajunya.


" Apa dia pikir aku terbiasa!" batin Zahra.


" Saya mengerti ustadz," balas Zahra.


Zaki yang belum terbiasa dengan suasana yang begitu canggung tidak berbicara hanya mencuri pandang ke arah Zahra.


" Apa saya bisa melihat wajah kamu... Saya tidak memaksa... Saya... " ucap Zaki gugup dan menundukkan kepalanya.


Zahra tertawa melihat Zaki yang terlihat gugup sehingga bahunya sedikit bergoyang, Zaki yang melihat Zahra yang tertawa merasa malu dan juga sedikit kesal dengan dirinya sendiri. Karena tidak bisa mengontrol diri.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE.

__ADS_1


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2