Cinta Pertama Yang Sempurna

Cinta Pertama Yang Sempurna
Pernikahan


__ADS_3

Setelah acara ijab kabul selesai, Syakilla dan Fahri duduk bersama teman-temannya yang lain, termasuk Alfin. Alfin yang dari tadi terus memperhatikan Sisil secara diam-diam. Fahri yang melihat Alfin yang terus melihat ke arah sahabat dari istrinya tersenyum.


" Sayang," bisik Fahri di telinga Syakilla yang berada di dekatnya.


" Apa sih mas?" Tanya Syakilla kesal karena dia tengah berbicara dengan sahabatnya.


" Kamu lihat Alfin, dia sedang menatap sahabat kamu! Sepertinya itu anak menyukai sahabat kamu yang itu! ternyata kulkas bisa suka sama orang juga!" Ucap Fahri.


" Mas pikir kak Alfin tidak normal begitu, dasar!" Ucap Syakilla tidak suka saat Fahri mengatakan seperti itu tentang Alfin. Bukan karena apa-apa hanya saja Syakilla tidak suka dengan perkataan Fahri.


" Bukan itu maksud mas sayang! Ternyata Alfin menyukai sahabat kamu, bukan yang lain. Mas juga tau kalau Alfin masih normal, meskipun mas sedikit curiga sama dia. Hehehe" balas Fahri menjelaskan kepada Syakilla tentang maksudnya berkata seperti itu tentang Alfin meskipun dia juga sempat berpikir yang bukan-bukan tentang Alfin karena sifat Alfin yang terlalu tertutup dan pendiam.


Syakilla melihat kemana arah Fahri melihat dan benar saja, Alfin tidak berhenti menatap Sisil sahabatnya. Syakilla yang sudah tau kalau Alfin menyukai Sisil tidak merasa heran dengan tingkah Alfin, malah dia merasa kasian dengan Alfin takutnya Sisil tidak akan menerima Alfin.


" Apa dia yang Alfin sukai?" Tanya Fahri yang belum mengetahui siapa yang di sukai Asisten yang sudah dianggap seperti saudaranya sendiri.

__ADS_1


" Iya, udah jangan kepo. Dan jangan coba-coba untuk mempermalukan kak Alfin." balas Syakilla dan kembali fokus pada sahabatnya.


" Jadi kamu sudah tau? Kapan kamu tau kalau Alfin menyukai sahabat kamu? Siapa nama sahabat kamu itu?" Tanya Fahri.


" Aku tau semalam saat Ummi meminta ikut bersamanya. Namanya Sisil," balas Syakilla.


" Jadi semalam kamu bersama Alfin dan tidak mengajak suami kamu?" Tanya Fahri merasa cemburu. Syakilla yang sudah kenal watak suaminya menghela napas berat.


" Mas! Semalam kamu sendiri yang mengizinkan aku pergi sama Ummi. Aku juga tidak tau kalau ada kak Alfin juga di sana." jawab Syakilla terus terang.


" Terserah mas aja," ucap Syakilla tidak mau berdebat apalagi di acara sakral begini.


"Apa dia beneran seorang ustadz kenapa tingkahnya sangat bertolak belakang," batin Syakilla tidak habis pikir dengan tingkah suaminya yang kekanakan menurutnya.


" Ustadz juga manusia sayang," ucap Fahri seolah tau apa yang sedang Syakilla pikirkan tentang dirinya saat ini. Namun, Syakilla tidak lagi peduli dengan pendapat Fahri.

__ADS_1


Fahri yang di cuekin pindah ke samping Alfin yang masih menatap Sisil berniat ingin menggoda Alfin.


Euhmm.


Gumam Fahri duduk di samping yang tidak lepas matanya dari Sisil. Alfin yang ketahuan merasa malu dengan Fahri tapi dia masih bersikap seperti biasa saja dan tetap cool, apalagi selama ini Alfin tidak pernah menceritakan apapun pada Fahri karena dia tau kalau dia menceritakan kepada Fahri tentang perasaannya yang ada Fahri akan terus mengganggunya. Meskipun Alfin yakin kalau Zahra pasti sudah menceritakan semua pada adiknya.


" Sudah samperin kalau berani jangan dilihatin terus! Kalau perlu besok saya akan melamarnya untuk kamu! " Ucap Fahri memancing Alfin supaya berbicara dengannya. Meskipun Fahri orang yang sangat jaim dengan Alfin tapi dia juga tau kalau memendam perasaan itu tidak enak. Apalagi yang di idam-idamkan belum tentu mau dengan kita.


Fahri berkata seperti itu karena dia sangat yakin kalau asistennya itu tidak akan berani menghampiri Sisil, apalagi ada Ummi di samping mereka. Fahri tidak tau saja kalau Alfin sudah meminta bantuan dari Ummi Aminah untuk melamar Sisil untuknya, Bagaimana kalau Fahri tau, pasti dia akan menggoda Alfin habis-habisan dan akan mengejeknya tanpa henti.


Alfin menanggapi Fahri dengan senyuman saja, dia tidak menjawab apapun atau membalas Fahri. Fahri yang merasa diabaikan merasa kesal dengan sifat Alfin yang tidak bicara dengannya.


" Bicara denganmu seperti bicara dengan patung saja, dasar! Allah menciptakan mulut itu untuk berbicara. " gumam Fahri menyerah menggoda Alfin yang tidak mudah goyah dan berbicara jujur dengannya. Fahri yang gagal membuat Alfin berbicara dengannya kembali duduk di samping istrinya, seraya menunggu seseorang yang sudah lama di nantikan kehadirannya, tapi orang itu tak kunjung hadir juga.


" Apa beliau akan datang nanti malam ya! Atau jangan-jangan beliau nggak akan datang," batin Fahri mencari di sekitar mata memandang.

__ADS_1


Kira-kira siapa yang di tunggu Fahri ya!


__ADS_2