
HAPPY READING!!!!!!🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Kak" panggil Syakilla dia ingin menanyakan sesuatu yang sudah beberapa hari mengganjal di hatinya tapi belum sempat dia tanyakan kepada siapapun termasuk Fahri.
" Iya, kenapa?" Tanya Zahra yang lagi menyimpan gaunnya di samping lemari agar tidak mengganggu.
" Enggak jadi," ucap Syakilla, Syakilla ingin menanyakannya tapi teringat dengan omongan Fahri sebelum pergi ke pondok bahwa dia akan menjelaskan semuanya setelah pulang.
"Kalau mau tanya, tanya saja. Kalau kakak bisa jawab pasti kakak jawab" ucap Zahra yang sudah selesai menyimpan kotak gaunnya dan duduk di atas kasur bersama dengan Syakilla.
" Nanti Syakilla tanya sama Mas Fahri saja" balas Syakilla jujur dengan Zahra.
" Tanyakan saja, kalau harus nunggu Fahri pulang kamu yang akan merasa penasaran sendiri" sahut Zahra.
"Tapi jangan kasih tau sama Mas Fahri kalau Syakilla nanya ni sama kakak" ucap Syakilla.
" Iya," balas Zahra.
" Siapa ustazah Nabila sebenarnya?" Tanya Syakilla akhirnya setelah dia pikir-pikir benar juga apa yang di katakan Zahra kalau harus menunggu Fahri itu akan sangat lama.
" Maksudnya? Kakak tidak mengerti!" Balas Zahra kurang mengerti maksud dari pertanyaan Syakilla.
" Maksud Syakilla, apa sebelumnya Mas Fahri dan ustazah Nabilla punya hubungan sesuatu?," Tanya Syakilla. Itu juga yang ingin dia tanyakan kepada Fahri semalam tapi tidak jadi karena drama yang terjadi di antara keduanya.
" Kenapa kamu bisa bertanya seperti itu? Apa ustazah Nabila mengatakan sesuatu sama kamu?" Tanya Zahra.
" Jujur saat Syakilla melihat ustazah Nabila menatap Mas Fahri tempo hari, Syakilla merasa kalau ustazah Nabila menyukai Mas Fahri. Maaf kalau Syakilla salah" jelas Syakilla, dia tidak bisa menyimpan perasaannya lagi, ada rasa cemburu saat wanita lain menatap suaminya dengan tatapan lain.
" Kamu tidak usah cemburu, memang dulu Abi pernah berniat menjodohkan mereka berdua. Tapi itu sudah berlalu dan Fahri juga tidak mau," ungkap Zahra menjelaskan terus terang kepada Syakilla. Karena sebagai sesama perempuan dia juga mengerti perasaan adik iparnya. Ketika ada wanita lain yang menatap suaminya dengan tatapan yang mengagumi atau bahkan bisa lebih dari itu.
" Jangan terlalu di pikirkan, yang terpenting sekarang kamu adalah istri sahnya. Apapun yang terjadi sebelumnya semua sudah berlalu, kakak harap ini tidak akan menjadi penyebab masalah kalian ke depannya" sambung Zahra.
__ADS_1
" Iya kak, Syakilla mengerti," jawab Syakilla walau hatinya masih tidak enak apalagi sekarang suaminya harus bekerja sama dengan Nabila itu artinya mereka akan sering bertemu, ada perasaan takut di hatinya Syakilla, dia takut kalau juga akan meninggalkannya seperti yang dilakukan oleh Papanya.
" Kita ke belakang yok!" Ajak Zahra. Dia ingin mengalihkan perhatian Syakilla agar tidak terlalu terbawa suasana.
" Iya," jawab Syakilla seadanya.
Syakilla dan Zahra keluar dari kamarnya Zahra menuju halaman belakang. Sampai di sana Syakilla merasa takjub dengan pemandangan yang ada di depan matanya, bagaimana tidak banyak bunga yang indah dan bermacam warna di sana. Syakilla yang baru melihatnya terpana melihatnya.
"Ma Syaa Allah" lirih Syakilla.
" Kamu menyukainya?" Tanya Zahra kepada Syakilla.
" Qilla sangat menyukainya kak, ini indah sekali. Apa ini kakak yang tanam?" Tanya Syakilla.
" Bukan, ini semua ide dari Fahri, dia yang membuat semua ini, katanya biar lebih indah tidak seperti lahan mati" jelas Zahra.
Syakilla dan Zahra duduk di atas bangku yang terletak di bawah pohon mangga yang cukup rindang. Karena mereka berdua tidak punya kegiatan lain, Syakilla dan Zahra menghabiskan waktu luang mereka untuk menanam bunga-bunga.
Ummi Aminah juga sudah pulang beberapa menit yang lalu, sesibuk apapun jadwal Ummi Aminah, beliau selalu ada di rumah saat suaminya pulang dari pondok, itulah perjanjian mereka dari awal. Tidak meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri hanya karena pekerjaan semata yang jelas-jelas itu bukan kewajiban seorang istri.
" Syakilla," panggil Ummi Aminah.
" Iya, Ummi. Kenapa?" Tanya Syakilla.
" Bagaimana dengan kuliah dan butik kamu?" Tanya Ummi Aminah.
" Untuk kuliah Qilla akan segera menyelesaikannya Ummi, tinggal menunggu ujian dan skripsinya saja. Tapi kalau butik Syakilla belum membicarakan sama Mas Fahri," jawab Syakilla lagi menyiapkan bahan-bahan untuk mereka memasak.
" Ummi yakin Fahri pasti mengizinkan kamu untuk tetap mengurus butik kecuali kalau kamu hamil nanti," ucap Ummi Aminah.
Saat Ummi Aminah menyinggung tentang kehamilan ada perasaan tidak enak di hati Syakilla. Bagaimana tidak sampai saat ini dia belum menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Di tambah lagi sekarang dia tau kalau ada ustazah Nabila di samping Fahri. Walaupun dia percaya dengan Fahri tapi ada perasaan yang membuat tidak percaya diri.
__ADS_1
" Iya Ummi, tapi Syakilla tetap ingin membicarakannya dulu dengan Mas Fahri. Karena sekarang Syakilla sudah punya suami bukan sendiri lagi, dan Syakilla akan menuruti semua yang di katakan mas Fahri" ucap Syakilla. Membuat Zahra dan Ummi Aminah semakin kagum dengan Syakilla.
Padahal kalau wanita lain di suruh berhenti dari pekerjaannya mereka enggan melakukannya apalagi ini usaha yang dia bangun sendiri dengan susah payah. Tapi, Syakilla dia dengan suka rela ingin menanyakannya kepada suaminya.
" Subhanallah, anak Ummi. Ummi bangga sama kamu" ucap Aminah kagum dengan prinsip Syakilla.
" Kakak juga bangga sama kamu, apalagi kalau Fahri sendiri yang mendengarnya langsung. Tapi kalau seandainya Fahri tidak mengizinkan kamu bekerja lagi bagaimana?" Tanya Zahra.
" Syakilla akan berusaha ikhlas karena itu sudah kewajiban Syakilla sebagai istri, Ummi, kak Zahra" ucap Syakilla.
" Lalu butik kamu bagaimana?" Tanya Ummi Aminah.
" Butik semua sudah ada yang urus kak, Ummi" jawab Syakilla.
Dia sadar siapa dirinya sekarang meskipun dia wanita karir tapi sekarang dia hanya seorang istri yang harus patuh kepada suami yang segala sesuatunya harus di bicarakan terlebih dahulu.
Mereka bertiga melanjutkan memasak sambil sesekali tertawa. Setelah satu jam, masakan mereka sudah selesai di hidangkan di meja makan.
" Ummi, kak, Qilla ke kamar dulu ya!" Ucap Syakilla. Dia ingin mandi karena sudah sangat gerah.
" Iya, Ummi juga mau mandi dulu," balas Ummi Aminah.
Syakilla masuk ke kamarnya untuk membersihkan dirinya setelah memasak, di dalam kamar dia kembali teringat apa yang tanyakan oleh Ummi Aminah mengenai butiknya. Karena sebelumnya Syakilla juga sudah berniat membuka butik baru saat masih ada Mamanya, tapi sekarang dia tidak bisa bertindak sendirian.
"Aku harus menanyakannya sama Mas Fahri" gumam Syakilla mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Fahri yang sudah pulang langsung masuk ke dalam kamar karena tidak menemukan siapapun di ruang tamu maupun di dapur. Fahri mengetuk pintu dan mengucapkan salam terlebih dahulu tapi tidak ada sahutan dari dalam, jadi dia langsung masuk saja.
Syakilla yang sudah selesai mandi dan ingin keluar tapi dia lupa membawa baju ganti ke dalam kamar mandi. Syakilla yang berpikir Fahri belum pulang keluar dari kamar mandi dengan PD nya.
Begitu pintu kamar mandi terbuka Syakilla yang tidak melihat Fahri berjalan ke arah lemari. Baru beberapa langkah Syakilla berjalan dia sudah di kejutkan dengan Fahri yang sudah berdiri di menghadap dirinya di jendela kamar mereka.
__ADS_1
" Aaaaa"