
HAPPY READING!!!πΉπΉπΉπΉπΉ
Setelah kepergian Arka, Tidak lama Sisil dan Dita datang secara bersamaan walaupun dengan menggunakan mobil mereka masing- masing.
"Panjang umur itu orang berdua, baru juga diomongin," gumam Syakilla.
" Lama banget sih kalian," ucap Syakilla begitu Sisil dan Dita menghampirinya.
" Kamu aja yang kepagian, tumben udah datang biasanya kita duluan yang sampai" Tanya Sisil.
"Emang nggak boleh," jawab Syakilla sambil tersenyum.
" Sepertinya ada kabar bahagia ini!," Ujar Sisil.
"Setuju, nggak biasanya senyum-senyum seperti ini," ucap Dita.
"Udah masuk aja yok,"ajak Syakilla.
"Cerita dulu ada apa?," Kata Sisil.
"Cerita apa?," Tanya Syakilla.
"Enggak ada apa-apa Dita, Sisil, masuk aja," sambung Syakilla.
"Gak percaya," ujar Sisil.
"Yaudah kalau nggak percaya nggak ada yang maksa juga," ucap Syakilla membuat Sisil dan Dita semakin penasaran.
"Atau kamu lagi_ " ucap Sisil menggantungkan ucapannya.
"Atau lagi apa?," Tanya Syakilla bingung.
"Jatuh cinta," ucap Sisil dan Dita.
"Enggak usah mengarang, udah ayo masuk," ucap Syakilla.
"Beneran kan tebakan kita," goda Sisil.
"Enggak," jawab Syakilla singkat tapi tersenyum.
"Wahh, sepertinya tebakan kita benar, teman kita yang anti sama laki-laki ini sudah mulai jatuh cinta, ayo bilang sama siapa," paksa Dita.
"Sama cowok yang itu ya, yang bantu kamu dari Rico?," Tebak Sisil.
"Siapa? kak Arka! enak aja, enggak," balas Syakilla cepat.
"Terus siapa? Kasih tau kita dong? Tapi, benarkan kamu lagi jatuh cinta!" paksa Sisil.
"Enggak usah sok tau!," Balas Syakilla.
"Beneran juga gak pa- pa kali La, jatuh cinta itu nggak salah semua orang pasti pernah jatuh cinta, yang salah itu jatuh cinta sama sesama jenis, itu yang enggak benar" ujar Dita.
"Kamu benar, kita senang kalau kamu jatuh cinta berarti sahabat kita ini masih normal," Sisil.
__ADS_1
Plakk plakkk
Sisil dan Dita mendapat pukulan kecil dari Syakilla akibat perkataannya yang mengatai Syakilla tidak normal.
"Kalian pikir aku tidak normal selama ini?," Kata Syakilla kesal.
"Kalau di pikir-pikir, selama ini kamu selalu sama kita, kemana-mana sama kita, kalau enggak ya kerja, siapa yang nggak akan berpikir seperti itu coba," balas Sisil tanpa rasa bersalah.
" Tega banget sih," ucap Syakilla pura-para cemberut.
" Udah enggak usah cemberut, kita senang lihat sahabat kita ini bahagia terlepas dari jatuh cinta atau bukan, terus bahagia seperti ini ya," ucap Sisil bijak.
"Terima kasih kalian selalu ada buat aku selama ini, mulai dari aku bukan siapa-siapa sampai aku bisa menggapai impian aku seperti ini, terima kasih," ucap Syakilla dan mereka bertiga berpelukan.
"Udah enggak usah pada mewek-mewek lagi, kita masuk aja, " ucap Dita melepaskan pelukannya.
"Ayo," jawab Sisil dan Syakilla barengan dan tertawa setelahnya.
"Enggak terasa ya sebentar lagi kita bakal lulus," ucap Syakilla saat menuju kelas.
"Iya! Walaupun sebentar lagi kita lulus, tapi kita harus tetap bersahabat seperti ini," ucap Sisil merangkul Syakilla dan Dita.
"Iya, kita sahabat selamanya," jawab Dita.
...----------------...
Di rumah Fahri.
"Abi, Ummi nanti Fahri mau ke tempat Bunda, kalian mau ikut?," Tanya Fahri saat sarapan.
"Kalau Abi, nanti sekalian ada yang mau Fahri kenalin, kalau ada Abi sekalian aja" ujar Fahri.
" Siapa?," Tanya Zahra yang baru duduk.
"Nanti aja Fahri kasih taunya," ucap Fahri
"Pasti Syakilla kamu itu ya, udah ketebak sama kakak," balas Zahra.
"Kelihatan banget ya!," Ucap Fahri.
"Jadi benar tebakan kakak, sepertinya Fahri akan menyusul Zahra Abi,Ummi," ucap Zahra.
"Alhamdulillah," kata Aminah dan Ilham.
"Doakan saja, hari ini Fahri ingin menyampaikan perasaan Fahri sama dia, walau kemungkinan terbesarnya bakal di tolak," ucap Fahri lesu.
"Tenang saja kakak punya firasat bagus untuk kamu," ucap Zahra.
"Tapi Abi nggak mau kamu pacaran, kalau dia mau langsung nikahin aja, " ucap Ilham tidak setuju Fahri pacaran.
"Kalau dia mau menerima Fahri saat itu juga Abi nikahin Fahri juga nggak pa-pa, makanya Abi ikut ya, biar bisa langsung nikahin Fahri" balas Fahri.
"Kamu ini, bukan seperti itu juga maksud Abi," ucap Zahra.
__ADS_1
" Iya, Fahri tau kak, lagian Fahri cuma bercanda aja tadi" balas Fahri.
"Yaudah nanti Abi ikut, " jawab Ilham.
"Makasih ya Bi," ujar Fahri
"Kakak ikut atau enggak?," Tanya Fahri.
"Kakak lihat nanti soalnya kakak ngajar hari ini," jawab Zahra.
"Udah mau nikah masih ada ngajar," ucap Fahri.
"Kakak ngajarnya hari ini sama besok aja, setelah itu kakak cuti untuk beberapa hari sampai hari pernikahan kakak," jawab Zahra
"Setelah itu kakak nggak ngajar lagi? " Tanya Fahri
"Masalah itu kakak belum tau, gimana sama ustadz Zaki nanti" jawab Zahra.
"Dasar bucin," sindir Fahri.
"Itu bukan bucin, itu kewajiban kakak untuk nurut apa suami kakak," bantah Zahra.
"Kalau nanti gak dibolehin gimana?" Tanya Fahri.
"Ya kakak harus nurut memangnya apalagi!," jawab Zahra.
"Memangnya harus gitu ya Bi, bukannya itu egois ya?," Tanya Fahri.
"Tergantung yang menyikapinya bagaimana, ada sebagian wanita yang bilang kalau itu egois. Tapi yang benar itu, dia harus nurut apa kata suami kalau suami melarang tetapi dia melanggarnya jatuhnya haram, makanya kita juga sebagai laki-laki harus mengerti tidak semua perempuan itu betah di rumah saja. Mungkin sebelum kita menikahi wanita itu, dia sudah terbiasa bekerja mana betah dia di rumah, kecuali kalau dia tidak keberatan," ucap Ilham menasehati Fahri.
"Baiknya gimana Bi?," Tanya Fahri lagi.
"Ya kalian harus berbicara dulu baiknya gimana! Karena istri tidak punya kewajiban untuk bekerja. Kita sebagai laki-laki yang berkewajiban menafkahi dia," kata Ilham.
"Tapi, kenapa Abi masih membiarkan Ummi mengisi tausiah," Tanya Fahri lagi.
" Karena Abi orangnya tidak egois, makanya membiarkan Ummi kamu masih mengisi tausiah. Kasian terus di rumah seharian mana kalian juga nggak ada,," jawab Ilham.
"Kalau Ummi udah punya cucu dari kalian bari Ummi pikirin lagi mau mengisi tausiah lagi apa enggak, kalau Ummi di rumah terus seharian yang ada Ummi bosan, enggak ada yang bisa di ajak bicara," sahut Aminah.
"Nanti Fahri kasih banyak cucu untuk Ummi," ucap Fahri.
" Nikah aja belum udah mau kasih cucu aja, mana calonnya masih gak jelas nerima atau enggak lagi," sindir Zahra.
"Makanya doakan Fahri supaya bisa mendapatkan wanita pilihan Fahri, seperti kakak yang mendapatkan ustadz Zaki," balas Fahri.
"Udah jangan mulai lagi ini masih pagi, sarapan dulu," Tegur Ilham sebelum terjadi pertengkaran seperti biasanya.
"Iya, Bi," jawab Fahri dan Zahra.
"Kalian ini masih seperti anak kecil saja, apa-apa ribut mulu kerjaannya pusing Abi lihatnya," ucap Ilham.
Jangan lupaπ€¦π€¦π€¦
__ADS_1
Like, komen,vote, and fav.
ππππ