
HAPPY READING!!!🌹🌹🌹🌹🌹🌹
" Gimana keadaan mertua saya dok," Tanya Fahri mewakili Syakilla.
"Sebelumnya saya minta maaf..." ucap Dokter.
" Apa maksud dokter dengan minta maaf," potong Syakilla.
" Mama saya pasti baik-baik saja kan dok," sambung Syakilla.
" Yang maha kuasa lebih sayang dengan Mamanya," ucap Dokter.
" Enggak," ucap Syakilla menggelengkan kepalanya tidak percaya.
" Sayang kamu harus ikhlas, ini yang terbaik untuk Mama," ucap Fahri.
" Enggak mas, dokter cuma lagi bercanda. Beneran kan dok? Dokter lagi bercanda, ini gak lucu dok," Tanya Syakilla menangis.
" Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik, tapi Allah berkata lain, Mama anda sudah meninggal" ucap Dokter.
" Enggak," ucap Syakilla.
Kini tangisnya sudah pecah dia tidak bisa lagi menyembunyikan air matanya dan langsung tidak sadarkan diri. Untung Fahri dengan sigap menangkap tubuh Syakilla.
"Sayang, bangun!," Ucap Fahri menahan tubuh Syakilla yang sudah tidak sadarkan diri.
Fahri mengangkat tubuh Syakilla dan membawanya kamar yang di samping kamar Mamanya berada tapi masih berseblahan.
"Dok, tolongin istri saya," ucap Fahri panik.
"Maaf, " ucap Dokter.
" Istri anda baik-baik saja, hanya syok, sebentar lagi juga akan sadar, saya permisi dulu," ucap Dokter
"Terima kasih dok," ucap Fahri.
" Sama- sama" balas Dokter sebelum keluar dari kamar tersebut.
" Sayang, sadarlah," ucap Fahri.
"Aku harus kasih tau Abi dulu," gumam Fahri dan mengeluarkan ponselnya.
Tutttt tutttt
Tidak ada jawaban dari Abinya. Mungkin karena sudah tengah malam jadi tidak ada yang mengangkatnya. Yang bisa Fahri andalkan sekarang adalah Alfin, dia menghubungi Alfin dan memintanya untuk ke rumah sakit di tengah malam begini.
Tutttt tutttt
"Assalamualaikum, Alfin kamu tolong ke sini secepatnya, saya butuh bantuan kamu," ucap Fahri tanpa menunggu jawaban salam dari Alfin.
Setelah itu Fahri mematikan ponselnya dan memasukkan lagi ke dalam saku celananya.
"Sayang sadar, aku mohon," lirih Fahri mengusap-usap tangan Syakilla supaya terbangun.
__ADS_1
Fahri dengan setia menunggu istrinya tersadar sampai Alfin menelponnya kembali.
Drettt
Suara dari ponsel Fahri yang berdering.
"Waalaikumsalam. Saya ada di kamar tepat di sebelah mertua saya," ucap Fahri di telpon dan mematikannya lagi.
Fahri melihat jam yang ada di tangannya yang sudah hampir menunjukkan waktu subuh.
" Assalamualaikum," ucap Alfin.
" Waalaikumsalam, Alfin masuklah" ucap Fahri
"Ada keperluan apa sampai harus memanggil saya di tengah malam begini?," Tanya Alfin.
" Tolong urus kepulangan Mama mertua saya," ucap Fahri.
" Apa Tante sudah boleh pulang? Kenapa tidak besok saja?," Tanya Alfin.
" Mama mertua saya sudah meninggal," ucap Fahri dengan nada berat.
" Innalillahiwainnailaihirajiun," ucap Alfin.
"Enggak Mas, ini semua gak benar kan? Mama masih hidup kan Mas, Mama gak mungkin ninggalin aku sendiri," ucap Syakilla baru sadar dari pingsannya.
" Sayang kamu harus ikhlas, kasian Mama kalau kamu begini," ucap Fahri memeluk Syakilla.
" Alfin tolong urus semuanya, tolong kasih tau Abi dan Ummi saya juga," pinta Fahri.
" Saya mengerti " ucap Alfin keluar dari kamar tersebut.
" Mas.. kenapa semua orang... yang aku sayang pergi ninggalin aku...dulu Papa... sekarang Mama...juga ikut ninggalin aku, apa selanjutnya adalah kamu...," ucap Syakilla sesenggukan.
" Sayang," ucap Fahri semakin mengeratkan pelukannya.
" Kalau, Mas ingin ninggalin aku juga, sebaiknya sekarang saja," ucap Syakilla melepaskan pelukannya dari Fahri.
" Sayang percaya sama Mas, Mas tidak akan meninggalkan kamu, Mas akan tetap ada di samping kamu, sekarang kamu harus mengikhlaskan kepergian Mama," ucap Fahri.
"Aku mau lihat Mama untuk terakhir kalinya," ucap Syakilla turun dari ranjang rumah sakit.
" Sini Mas bantu," ucap Fahri.
Syakilla masuk ke ruangan di mana Mamanya berada Fahri sengaja meminta petugas untuk tidak membawa jenazah Mama mertuanya terlebih dahulu.
" Tapi, kamu harus janji sama aku, jangan menangis di atas jenazah Mama, itu akan semakin menyakitkan untuknya," ucap Fahri.
" Ia, Mas" jawab Syakilla air matanya terus mengalir begitu saja.
Fahri menghapus air mata istrinya dengan begitu lembut sebelum memasuki kamar yang ada mertuanya di dalam.
Begitu Syakilla masuk dan melihat tubuh Mamanya sudah di tutupi kain berwarna putih, lagi-lagi Syakilla tidak bisa menahan air matanya untuk tidak tumpah. Air matanya tumpah begitu saja walaupun Syakilla sudah berusaha untuk menahannya.
__ADS_1
" Mama, kenapa ninggalin Syakilla begitu cepat," ucap Syakilla berderai air mata.
" Kenapa Mama tega ninggalin Syakilla sendirian? Sekarang Syakilla tidak punya siapapun lagi kalau Mas Fahri ninggalin Qilla seperti Papa," ucap Syakilla.
" Sayang," ucap Fahri.
"Maafin aku, Mas. Sekarang aku tidak punya siapapun lagi selain kamu, kalau kamu juga ninggalin aku," ucap Syakilla.
" Sayang aku tidak akan pernah meninggalkan kamu," potong Fahri.
" Jangan pernah meninggalkan aku sendirian" ucap Syakilla.
Syakilla memeluk suaminya dan menumpahkan semua air matanya di pelukan Fahri.
" Sayang aku mohon berhenti untuk menangis, aku gak tega lihat kamu seperti ini," ucap Fahri meneteskan air matanya.
" Kita shalat subuh dulu ya," ucap Fahri karena sudah terdengar suara azan.
" Tapi, Mama," ucap Syakilla.
"Setelah shalat kita akan mengurus kepulangannya, aku juga sudah meminta bantuan Alfin," ucap Fahri.
"Ia, Mas," jawab Syakilla pasrah walaupun air matanya tidak pernah kering.
" Jangan menangis lagi," pinta Fahri menghapus air mata Syakilla untuk ke sekian kalinya.
Syakilla dan Fahri shalat di dalam kamar yang berisi jenazah Mamanya Syakilla yang sudah terbaring kaku.
Setelah shalat subuh Syakilla kembali jatuh pingsan, Fahri langsung membawanya ke dalam kamar sebelumnya di sebelah kamar yang berada di sebelah kamar yang ada jenazah Mamanya Syakilla.
Fahri meletakkan tubuh lemah Syakilla di sana dan meninggalkan Syakilla sendirian di sana untuk menemui Alfin yang sudah menunggunya di depan.
Alfin sudah mengurus acara pemakamannya di tempat pemakaman umun di daerah tempat tinggalnya Fahri. Karena di rumah Syakilla tidak ada siapapun jadi Fahri putuskan untuk membawa jenazah mertuanya di pondok.
"Tunggu di sini dulu, mas akan mengurus kepulangan Mama, maaf Mas tidak meminta pendapat kamu dulu, Mas akan memakamkan Mama di pemakaman dekat pondok," lirih Fahri mencium kening Syakilla dan keluar dari kamar.
" Alfin bagaimana pemakamannya?" Tanya Fahri.
" Semua sudah di bantu sama Kiyai, Ummi sebentar lagi akan ke sini bersama kak Zahra," jelas Alfin.
" Terima kasih sudah membantu saya,dan tolong jemput Bunda di Panti, kalau ada Bunda pasti istri saya bisa lebih tenang," ucap Fahri.
" Bagaimana keadaan nona Syakilla sekarang?" Tanya Alfin
" Dia masih sangat syok dengan kejadian ini" jawab Fahri mengusap wajahnya.
" Semoga nona Syakilla bisa tabah dan ikhlas menerima semua ini," ucap Alfin.
"Terima kasih atas doanya," ucap Fahri.
" Saya permisi dulu untuk menjemput Bunda, apa saya juga harus menghubungi sahabat-sahabatnya nona Syakilla?" Tanya Alfin.
" Saya hampir lupa, kabari mereka juga," ucap Fahri.
__ADS_1