Cinta Pertama Yang Sempurna

Cinta Pertama Yang Sempurna
Kehidupan Alfin


__ADS_3

HAPPY READING!!!!!!๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนโœจโœจโœจ


Setelah shalat magrib Fahri kembali dari pondok bersama Abinya, Syakilla, Ummi, dan juga Zahra sudah siap untuk pergi ke hotel yang akan dijadikan tempat pernikahan Zahra besok.


" Sudah siap semuanya, kita berangkat sekarang atau setelah makan malam?" Tanya Fahri duduk di samping Syakilla menatap istrinya.


" Kita sudah siap. Kita pergi sekarang saja, makan malamnya di hotel atau di perjalanan aja nanti keburu malam," balas Zahra.


Setelah memutuskan akan pergi sekarang, Syakilla semua masuk ke dalam kamar terlebih dahulu untuk mengambil koper mereka yang akan mereka bawa ke hotel tempat mereka menginap. Sedari Fahri pulang dari pondok Syakilla tidak berbicara apapun dengannya, Fahri berpikir kalau Syakilla marah dengannya kerena perkataannya sebelum pergi ke pondok.


Fahri juga tidak menegur Syakilla dan membawa koper mereka turun ke bawah, Fahri ingin istrinya berpikir dengan benar. Fahri pergi satu mobil bertiga dengan Zahra sedangkan Ummi dan Abi satu mobil dengan Alfin. Fahri tidak akan membiarkan Abinya membawa mobil sendiri apalagi malam-malam, jadi dia meminta bantuan dari Alfin.


Di dalam mobil yang dikendarai oleh Alfin, semua nampak tenang. Alfin biasanya banyak bicara dengan orang tua Fahri, malam ini terlihat banyak diam.


" Alfin kenapa diam saja dari tadi? Kamu lagi nggak enak badan?" Tanya Ummi Aminah perhatian. Ummi Aminah sudah menganggap Alfin seperti anaknya sendiri sama seperti Fahri dan juga Zahra.


" Alfin baik-baik saja Ummi, tapi..." ucap Alfin menggantungkan ucapannya. Alfin ingin menanyakan tentang sahabat Syakilla, tapi dia ragu untuk menanyakannya. Tapi Ummi Aminah seolah mengerti dengan karakter Alfin yang suka malu-malu saat ingin bertanya tentang sahabat Syakilla padanya seperti tempo hari, apalagi sekarang ada Abi di sampingnya.


" Tapi... Kenapa? Kamu mau tanya mengenai sahabat Syakilla, datang atau tidak besok di acara pernikahan kak Zahra!" Tebak Ummi Aminah. Sebelum menjawab Alfin melihat ke arah Abi Ilham terlebih dahulu sebelum mengangguk.


"Ia Ummi," jawab Alfin malu-malu.

__ADS_1


" Tidak perlu malu dengan Abi, asalkan kamu serius Abi dukung. Peraturannya sama seperti Fahri kalau suka langsung lamar dan nikahi kalau cuma mau main-main jangan harap Abi akan memberikan izin. Abi tau, Abi bukan orang tua kamu tapi kamu sudah Abi anggap seperti anak Abi sendiri, jadi Abi tidak mau anak Abi mengambil langkah yang salah." ucap Abi Ilham tegas.


Dalam pendiriannya, tidak ada pacaran. Dia tidak suka anak-anaknya pacaran, apalagi hanya untuk main-main saja dengan wanita. Dari dulu prinsip itu tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun, peraturan itu juga berlaku untuk para ustadz, ustadzah dan murid yang ada di pondoknya.


" Alfin mengerti Abi. Alfin juga serius suka dengan sahabat dari dek Syakilla. Apa boleh Alfin meminta bantuan Abi dan Ummi melamarnya untuk Alfin," ucap Alfin meminta batuan kepada orang tuanya Fahri untuk melamar sahabat Syakilla untuknya.


" Nanti Ummi tanyakan dulu sama orangnya, tapi Ummi akan bantu kamu," balas Ummi Aminah.


" Terima kasih Ummi, Abi. Kalian berdua selalu ada untuk Alfin selama ini" ucap Alfin.


" Apa Ummi boleh tau dimana orang tua kamu, kenapa tidak meminta mereka melarnya untuk kamu?" Tanya Ummi Aminah yang tidak tau dimana dan siapa orang tua Alfin. Meskipun mereka sudah sangat akrab tapi Alfin belum pernah memperkenalkan orang tuanya kepada mereka. Jangankan memperkenalkan menceritakan saja tidak pernah.


Alfin adalah anak yatim piatu sejak dia baru menginjak sekolah menengah pertama, orang tuanya mengalami kecelakaan yang menghilangkan nyawa kedua orang tuanya dan satu kakak laki-lakinya. Selama ini dia bisa melanjutkan sekolahnya kerena mendapat beasiswa. Alfin termasuk murid yang berprestasi sejak dia sekolah dasar, sehari-hari Alfin bekerja paruh waktu untuk membiayai kebutuhan sehari-harinya sampai dia menamatkan sekolah menengah atas. Alfin mendapatkan beasiswa S1 berkat kecerdasan yang dia miliki. Hingga akhirnya dia bertemu dengan Fahri dan menjadi sahabatnya. Fahri yang banyak bicara dan juga apa adanya membuat Alfin nyaman, dan Alfin bekerja untuk Fahri sampai sekarang. Hanya Fahri yang betah berteman dengannya yang pendiam dan tidak banyak bicara bahkan tersenyum saja hampir tidak pernah.


Alfin tidak pernah menceritakan tentang kehidupannya kepada siapapun termasuk Fahri, dia tidak suka orang lain mengasihaninya. Alfin juga tidak memiliki banyak teman, Alfin hanya berteman dengan Fahri dan juga beberapa orang di kantornya saja. Selebihnya, hanya rekan bisnis itupun dia sangat jarang bicara hanya bicara saat perlu saja.


Alfin tidak pernah berpacaran karena waktunya habis untuk bekerja dan bekerja, dia juga tidak pernah menemukan wanita yang pas meskipun umurnya sudah cukup matang untuk menikah. Alfin menutup hatinya kepada setiap wanita yang mencoba mendekatinya. Alfin tidak kalah tampan dari Fahri, Alfin memiliki kulit putih bersih, wajah yang tampan, tubuh atletis dan juga mata yang tajam.


Baru kali ini dia jatuh hati kepada wanita, yaitu teman dari istri bos sekaligus sahabatnya itu. Alfin yang belum pernah jatuh hati kepada wanita manapun tidak mengerti dengan hatinya, awalnya dia mengabaikan perasaan yang datang tapi lama kelamaan membuatnya tidak nyaman. Hingga akhirnya dia menceritakan sama Ummi Aminah tentang perasaan yang dia rasakan. Karena hanya kepada Ummi Aminah dia bisa menceritakan apa yang dia rasakan, selain Ummi Aminah yang penyayang dan juga lemah lembut, Alfin juga sudah menganggap Ummi Aminah sebagai Mamanya sendiri.


Pada saat Alfin menceritakan tentang perasaannya kepada Ummi Aminah, Ummi Aminah sempat menertawakan dirinya dan mengatakan kalau Alfin terlalu polos untuk laki-laki dengan umur yang sudah matang seperti dirinya. Tapi, Ummi Aminah dapat memaklumi Alfin yang selalu sibuk dengan pekerjaan. Maka dari itu, Alfin merasa malu saat ingin menanyakan tentang gadis yang dia sukai lagi kepada Ummi Aminah ditambah ada Abi Ilham di sampingnya orang yang sangat dia segan.

__ADS_1


Alfin lebih akrab dengan Ummi Aminah ketimbang Abi Ilham. Abi Ilham yang tidak banyak bicara seperti dirinya membuat Alfin segan.


" Maaf Ummi tidak tau, kenapa kamu tidak menceritakan dari dulu kepada Ummi," ucap Ummi Aminah.


" Tidak apa-apa Ummi, walaupun Alfin tidak menceritakannya Ummi dan Abi juga sudah menyayangi Alfin dan menganggap Alfin seperti anak kalian. Alfin sangat berterima kasih sama Ummi, Abi dan keluarga," ucap Alfin.


"Kamu tidak perlu berterima kasih sama kami, mulai sekarang jangan pernah sungkan untuk menceritakan apapun tentang masalah yang sedang kamu hadapi. Kalau kamu takut sama Abi kamu bisa menceritakannya sama Ummi atau Fahri." ucap Abi Ilham. Ilham tahu kalau selama ini Alfin takut padanya, sama seperti Fahri yang lebih akrab dengan Umminya ketimbang dirinya.


Berbeda dengan Zahra yang lebih akrab dengan dirinya, yang memiliki kebiasaan yang sama dan juga sifat yang hampir sama. Sama-sama keras dan juga tegas, berbeda dengan Ummi dan Fahri yang lebih suka bercanda.


" Ia, Abi," balas Alfin menganggukkan kepalanya.


" Makanya Abi jangan judes, kalian ini sebenarnya sangat cocok sebagai anak dan ayah sama-sama tidak banyak bicara sama Zahra juga," ucap Ummi Aminah mengomentari sifat Alfin dan suaminya yang memiliki sifat yang sama.


" Alfin tenang saja mengenai perempuan yang kamu suka biar Ummi yang membicarakannya, besok jangan lupa kasih tau sama Ummi yang mana orangnya biar Ummi bisa tanya sama orangnya atau nanti kamu bilang sama Syakilla dia pasti punya foto mereka," ucap Ummi Aminah.


" Benar kata Ummi kamu sebaiknya kamu minta foto sama Syakilla, supaya besok bisa langsung Ummi dan Abi tanyakan," ucap Abi Ilham.


" Biar Ummi saja yang menanyakan sama Syakilla nanti. Abi seperti tidak mengenal Fahri saja, dia pasti akan mengejek dan membuat candaan," ucap Ummi Aminah.


" Terserah Ummi saja kalau begitu," balas Abi Ilham.

__ADS_1


__ADS_2