
HAPPY READING!!!!πΉπΉπΉπΉπΉ
"Ummi juga, tapi kapan kamu akan membawanya ke sini?," sambung Aminah.
"Fahri sudah berusaha mengajaknya tapi dia belum mau, tapi Abi, Ummi, kak, sepertinya dia sudah mengenal kalian tapi Fahri juga tidak yakin mengenai hal itu." kata Fahri
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?," Tanya Zahra.
" Karena pada saat Fahri mengajaknya ke sini, dia bilang kenapa Fahri mengajaknya bukan orang yang Fahri suka seperti yang Abi bilang," ungkap Fahri.
"Dari mana dia bisa tau?," Tanya Zahra bingung.
"Itulah yang menjadi pertanyaan Fahri, pada saat Fahri menanyakan dari mana dia bisa tau, dia bilang dikasih tau sama Bunda," jawab Fahri.
"Apa Bunda juga mengenalnya?," Giliran Ilham yang bertanya.
"Iya, dia juga merupakan donatur tetap di panti Bunda dan sering mengunjungi panti bahkan lebih lama dari Fahri" jawab Fahri.
"Apa Abi atau Ummi yang sudah menceritakan perihal ini pada Bunda? Mengenai apa yang Fahri katakan tempo hari?," Tanya Fahri menyelesaikan makannya.
"Mengenai apa?," Tanya Ilham.
" Mengenai perempuan yang Fahri suka," balas Fahri.
"Abi belum menceritakan masalah itu kepada siapapun kecuali sama Ummi dan kakak kamu," jawab Ilham.
"Tapi bagaimana dia bisa tau?," Gumam Fahri semakin penasaran.
" Bukankah ada satu orang lagi yang mengetahuinya?," Ujar Zahra.
"Siapa kak," Tanya Fahri antusias.
"Syakilla, karena pada saat itu dia juga ada di sana, pada saat hari pertunangan kakak, kakak bertanya sama dia bagaimana kalau dia menjadi adik ipar kakak," ungkap Zahra.
"Apa kakak juga mau menjodohkan Fahri dengannya?" Tanya Fahri.
"Maaf, pada saat itu kakak tidak tau kalau kamu sudah menyukai wanita lain, untung Abi bilang pada saat itu, Abi bilang! Kamu sudah menyukai seseorang, makanya hari ini kakak ingin memastikannya langsung sama kamu." Jawab Zahra.
"Zahra benar! Dalam masalah perjodohan ini, kakak kamu yang sangat antusias," sahut Aminah.
" Kenapa kakak sangat ingin aku menikahi gadis itu?" Tanya Fahri.
"Kerena kakak merasa dia bisa membuat kamu berubah dengan kelembutan hatinya, tapi jauh dari itu kakak sudah bosan melihat kamu sendirian terus" jawab Zahra tersenyum tanpa merasa bersalah.
__ADS_1
Karena perkataannya Zahra mendapat pukulan kecil dari Fahri.
"Apa mungkin mereka adalah orang yang sama, tapi tidak mungkin wanita yang Fahri sukai dia tidak memakai cadar walaupun namanya sama," gumam Fahri tapi masih bisa terdengar oleh Abi, Ummi, dan Zahra.
"Siapa nama gadis yang kamu sukai?," Tanya Ilham.
"Kata Bunda, Syakilla tapi untuk nama lengkapnya Fahri juga tidak tau," jawab Fahri.
"Kenapa kamu tidak menanyakan langsung sama Bunda, kata Bunda kemarin dia juga mengenal Syakilla yang kakak maksud," saran Zahra.
"Kenapa kakak gak kasih tau dari kemaren, tau gitu Fahri bisa menanyakannya sama Bunda tadi pagi!," Ucap Fahri.
"Kenapa malah salahkan kakak, mana kakak tau kalau kamu menyukai gadis yang Bunda kenal," sahut Zahra.
"Ohh iya, terima kasih kakakku yang pintar dan baik hati," ujar Fahri memeluk kakaknya dan mencium pipinya.
"Fahri jangan bersikap seperti anak kecil lagi, main cium- cium aja, gimana kalau calon suami kakak lihat," kata Zahra kesal. Karena Fahri suka sekali mencium pipinya.
" Yang Fahri cium juga pipi kakak Fahri sendiri, emangnya ada larangan? Enggak ada kan Bi, Ummi," ucap Fahri meminta pembelaan orang tuanya.
"Enggak!,"Jawab Ilham tersenyum senang melihat anak- anaknya yang saling sayang dan peduli satu sama lain, walaupun sering iseng.
Zahra tidak menjawab lagi tapi dia tengah menyusun rencana untuk membalas Fahri. Begitu pula dengan Fahri dia hanya menanggapi dengan senyum kemenangan karena mendapat dukungan dari Abinya
Fahri yang masih duduk di kursi yang sama tidak memperhatikan apa yang Zahra lakukan dan fokus pada buah.
Zahra bangun dari tempat duduknya menghampiri Fahri dan mengambil selai . Kemudian mulai menjahili Fahri.
"Apa yang kakak lakukan?," Ucap Fahri terkejut karena Zahra mengolesi selai di wajahnya.
"Itu adalah balasan karena kamu cium kakak tadi," balas Zahra tertawa.
"Zahra," tegur Ilham.
"Salah Fahri sendiri Abi, dia yang mulai duluan," sahut Zahra.
"Awas ya," ucap Fahri mengambil selai yang sama. Tapi, Zahra sudah kabur duluan.
"Fahri, Zahra, jangan seperti anak kecil,," Tegur Ilham.
"Enggak Abi, Fahri tidak akan berhenti kalau belum membalas kakak," teriak Fahri.
Fahri tidak jadi memakan buahnya dan mengejar Zahra mengelilingi sofa. Begitulah kalau adik kakak itu disatukan ada saja ide iseng dari keduanya. Fahri yang suka sekali mencium kakaknya dan Zahra yang selalu risih di cium adiknya. Umur mereka yang terpaut tidak terlalu jauh membuat keduanya sangat akrap apalagi mereka hanya berdua saja.
__ADS_1
Sebenarnya Fahri tidak hanya suka mencium kakaknya tapi juga Umminya. Berbeda dengan Zahra, Umminya selalu santai saat Fahri menciumnya.
Melihat anak- anaknya yang lagi saling mengejar satu sama lain. kedua orang itu tidak menegurnya. Karena Fahri yang jarang ke rumah dan Zahra yang akan segera menikah. Pasti setelah Zahra menikah mereka tidak dapat melihat kelakuan Fahri yang abstrak itu.
"Apa Abi tidak berniat memisahkan mereka?," Tanya Aminah pada suaminya.
"Biarkan saja, tidak setiap hari kita melihat mereka seperti itu, lagi pula sebentar lagi Zahra akan menikah," kata Ilham memberi pengertian pada istrinya.
"Kalau begitu Abi saja yang bantuin Ummi membereskan ini," ucap Aminah.
"Iya, abi bantuin," jawab Ilham.
Kedua orang tuan itu membereskan meja makan, sedangkan yang muda sibuk berlarian mengejar satu sama lain.
"Fahri sudah cukup, kakak sudah capek!," Seru Zahra.
"Kakak duluan yang mulai," jawab Fahri belum mau menyerah mengejar kakaknya.
" Apa kamu tidak kasihan dengan kakak?," Ucap Zahra dengan dada naik turun.
" Tidak," jawab Fahri.
"Ayolah adik kakak yang paling tampan, kakak minta maaf, udahan aja ya! Kita seperti anak kecil saja," ujar Zahra. Berdiri di sisi kanan sofa dan Fahri di arah sebaliknya.
"Kalau ada maunya saja muji, coba kalau tidak ada" balas Fahri.
" Kalau kamu gak mau berhenti mengejar kakak, kakak tidak akan merestui kamu sama Syakilla itu, dan kakak akan bilang sama Bunda, gimana?," ancam Zahra.
" Kenapa kakak bawa-bawa Syakilla ini semua tidak ada sangkut pautnya dengan dia," bantah Fahri.
"Tentu saja ada, mana mau dia sama laki- laki yang iseng seperti kamu ini," balas Zahra.
" Kakak mau ancam aku?," Tanya Fahri.
"Tidak! Kakak hanya mengatakan yang sebenarnya saja," balas Zahra tersenyum.
" Kalau gitu Fahri juga akan kasih tau kelakuan kakak sama ustad Zaki?," ancam balik Fahri.
Mereka tidak ada yang mau mengalah satu sama lain. Zahra yang sudah capek duduk di atas sofa di sebelah kanan sementara Fahri dia sisi kiri.
"Apa kalian masih bertengkar juga," ucap Aminah. Heran dengan tingkah kedua anaknya.
Like, komen, vote, and fav.
__ADS_1
ππππππππ