
''Kalian mau terus berbisik bisik atau mau makan?,'' tutur Bunda Fatimah.
Kali ini mereka berdua benar benar terdiam dan menghabiskan makan mereka tanpa bercanda lagi.
Selesai makan siang dan merapikan meja makan serta mencuci piring yang mereka gunakan tadi tanpa terkecuali semua ikut membantu termasuk Fahri.
''Syakilla bisa bantu saya bawakan ini,'' ucap Fahri.
''Apa?,'' tanya Syakilla cuek.
''Makanya lihat ke sini dulu,'' ujar Fahri.
Syakilla pun menoleh ke arah Fahri dengan muka masam. Betapa Syakilla syok melihat apa yang di suruh bawakan oleh Fahri. Syakilla langung melihat ada apa di tangan Fahri sampai mengangkat satu gelas saja harus meminta bantuan Syakilla yang jelas jelas tengah memegang banyak piring di tangannya.
'' Fahri yang benar saja, lihat saya sedang bawa piring di tangan saya dan kamu tidak memegang apapun, kenapa malah minta bantuan saya?,'' ujar Syakilla.
''Kamu bilang apa tadi?,'' tanya Fahri.
''Saya bilang apa memangnya?,'' ujar Syakilla.
''Kamu barusan menyebut nama saya, wah satu kemajuan yang bagus,'' ujar Fahri.
Syakilla benar benar pusing menghadapi sikap kekanakannya Fahri yang menurutnya sangat tidak waras itu.
''Sudah ya mending kita selesaikan ini saja, saya tidak mau dimarahi Bunda lagi gara gara kamu,'' ucap Syakilla membawa piring kotor yang ada di tangannya untuk di cuci.
''Saya juga lagi bantu ini, kamu pikir saya lagi apa?,'' ucap Fahri sambil mengikuti kemana Syakilla pergi. membuat Syakilla semakin merasa kesal dan itulah yang di inginkan Fahri membuat Syakilla kesal.
Syakilla sangat risih dengan kelakuan Fahri tapi dia berusaha untuk tidak memperdulikan Fahri yabg terus mengajaknya bertengkar, sampai semua selesai Fahri masih saja membuat Syakilla kesal setengah mati walaupun sudah ditegur Bunda tetap saja kalau tidak dekat Bunda Fahri masih saja membuatnya kesal.
''Kak Fahri, kak Qilla kita main di depan yok,'' ajak Nia.
''Ayo,'' jawab Fahri menggandeng tangannya Nia.
''Ayok Syakilla kita main sama anak anak, syukur syukur sambil belajar,'' ucap Fahri.
''Kakak gak main ya Nia, kalian main sama kakak ini saja, kak Qilla mau ketemu Bunda dulu,'' ucap Syakilla mencari alasan supaya tidak bisa ikut bermain bersama Fahri.
''Ayolah kak,'' ajak Nia lagi.
''Kamu tega banget sih nolak anak semanis Nia ini,'' ucap Fahri.
''Kakak ketemu Bunda dulu habis itu baru kakak main sama kalian oke,'' ujar Syakilla lagi.
''Baiklah kak, kami tunggu di depan ya, yok kak,'' ucap Nia sambil menarik tangannya Fahri mengajaknya bermain.
''Kami tunggu jangan lama lama,'' ucap Fahri pergi sambil menggendong Nia.
__ADS_1
''Apa dia memang selalu seperti itu? dasar laki laki semua sama saja,'' batin Syakilla.
''Tadi kata Mbak Salma sopan, soleh, soleh apaan begitu dasar,'' umpat Syakilla.
''Dia memang ceria seperti itu anaknya jadi kamu gak usah heran tapi sepertinya dia menyukai kamu, karena setahu Bunda dia sellau menjaga jarak sama perempuan '' ucap Bunda Fatimah tiba tiba.
''Bunda, kapan datangnya,'' ucap Syakilla terkejut.
''Sejak kamu ngomel ngomel gak jelas di sini,'' jawab Bunda Fatimah.
''Kenapa gak ikutan main sama anak anak?,'' tanya Bunda Fatimah lagi.
''Malas Bun, kalau aku ikut main yang ada kepala aku bakal pecah hadapin pria kayak gitu, udah tua tapi masih seperti anak kecil,'' jawab Syakilla benar benar merasa kesal terhadap Fahri.
''Jangan terlalu kesal nanti bisa jadi kalian adalah jodoh, Dia anak yang baik tapi ya kadang kadang membuat orang kesal juga, tapi Bunda sangat mengenal orang tuanya, pasti anaknya juga baik, inn Syaa Allah'' ujar Bunda Fatimah.
''Amit amit Bun, belum tentu juga kan Bun anaknya baik, lihat saja kelakuannya'' ucap Syakilla.
''Gak baik gitu, jangan melihat orang lain hanya sekali tebak saja mungkin saja ada maksud lain dia menunjukkan kelakuan seperti itu. kalau Allah sudah menentukan apa yang akan kamu lakukan juga gak akan berpengaruh sayang, Bunda juga setuju kalau kalian berjodoh,'' ujar Bunda Fatimah.
''Bisa mati muda kalau aku beneran sama dia,'' batin Syakilla.
''Beneran gak mau ikutan main sama mereka?,'' tanya Bunda Fatimah.
''Nanti aja Bun, sekarang Qilla benar benar kesal dengan Fahri,'' jawab Syakilla.
''Terus kamu akan berdiri di sini seharian gitu?,'' ucap Bunda Fatimah.
''Bunda mau ke ruangan Bunda sebentar ada keperluan, kalau mau ikut ya sudah ayo,'' ajak Bunda Fatimah.
''Makasih Bu,'' ucap Syakilla mengikuti kemana langkah Bunda Fatimah pergi dan itu melewati anak anak yang lagi bermain.
''Beneran gak mau main sama mereka kelihatannya seru tuh,'' tunjuk Bunda ke arah Fahri juga anak anak yang lagi asik main bersama. Syakilla hanya menggeleng tanda tidak mau.
''Fahri nanti ke ruangan Bunda ya, ada yang mau Bunda tanyakan,'' teriak Bunda Fatimah.
''Iya Bunda,'' jawab Fahri.
''Kenapa Bunda mengajaknya?,'' ucap Syakilla kesal.
''Kalau gitu Qilla main sama anak anak aja,'' ucap Syakilla.
''Lebih bagus lagi, tapi harus ada kamu juga, bukankah tadi Bunda udah bilang sama kalian berdua untuk ke ruangan Bunda setelah makan,'' ucap Bunda Fatimah.
''Janagn pura pura lupa,'' ucap Bunda Fatimah.
''Yah Bunda ayolah, aku mencoba untuk gak ketemu dulu sama tu anak,'' keluh Syakilla.
__ADS_1
''Udah gak usah ngebantah,'' ucap Bunda Fatimah dan Syakilla masih tetap mengikuti Bunda Fatimah.
''Gak jadi main sama mareka?,'' tanya Bunda
'' Enggak, nanti saja,'' jawab Syakilla menahan kesal.
Sampai di ruangan Bunda Fatimah Syakilla merebahkan punggungnya di atas sofa panjang yang ada di ruangan Bunda
''Capek ya, tidur aja kalau gitu,'' suruh Bunda.
''Bun, menurut Bunda aku harus datang gak ya ke tempat lamaran orang yang gak aku kenal?,'' tanya Syakilla memejamkan matanya.
''Kok bisa kamu dapat undangan ke tempat orang gak kamu kenal?,'' tanya Bunda heran.
''Kenal sih Bun, tapi cuma sekadar kenal aja itupun baru dua kali ketemu,'' jawab Syakilla.
''Memangnya siapa?,'' tanya Bunda.
''Itu Bun, langganan di butik Qilla,'' jawab Syakilla.
''Kalau saran Bunda, kamu datang aja, itu pelanggan kamu yang undang, tapi terserah kamu juga sih,'' ujar Bunda Fatimah.
''Aku gak kenal siapa siapa di sana tapi,'' ucap Syakilla lagi.
''Kamu kenal yang undang saja udah cukup kalau menurut Bunda, kapan acaranya?,'' tanya Bunda Fatimah lagi.
''Minggu ini Bun,'' jawab Syakilla.
''Kebetulan sekali Bunda juga ada undangan dari Abi,Umminya Fahri,'' ujar Bunda Fatimah.
''Jadi menurut Bunda Qilla harus datang ya,'' tanya Syakilla sekali lagi
''Datang aja, mereka udah ngundang kamu jadi kamu harus menghadirinya kecuali kamu sudah punya janji sama yang lain,'' jawab Bunda Fatimah.
''Aku datang aja ya, males tapi Bun, akau gak usah datang aja ya?,'' ucap Syakilla
''Kalau kamu masih tetap gak datang kenapa harus tanya Bunda, Qilla, terserah kamu saja,'' jawab Bunda Fatimah.
''Kok Bunda marah sih?,'' ucap Syakilla.
''Bukan marah Qilla tapi Bunda kesal,'' ucap Bunda Fatimah.
''Sama aja Bun,'' ujar Syakilla
'' Terserah kamu saja,'' tutur Bunda Fatimah.
Jangan lupa Like komen vote gift dan hadiahnya teman teman sekalian biar author tambah semangat nulisnya.
__ADS_1
tambahkan juga di daftar favorit kalian semua terima kasih
''Gak Bun, kita ke ruangan Bunda saja,'' jawab Syakilla yakin karena lagi malas berurusan dengan Fahri.