Cinta Pertama Yang Sempurna

Cinta Pertama Yang Sempurna
Tidak bisa berhenti menangis


__ADS_3

HAPPY READING!!!!!!🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


" Saya hampir lupa, kabari mereka juga," ucap Fahri.


"Baik. Assalamualaikum" ucap Alfin.


"Waalaikumsalam" jawab Fahri.


Syakilla yang sudah sadar di dalam menangis dalam diam. Saat dia bangun dia melihat tidak ada siapapun di dekatnya.


" Apa ini memang takdirku, selalu di tinggalkan oleh orang yang aku sayang, Mama yang selalu ada untukku selama ini dan berjanji untuk tidak meninggalkan aku sendiri juga pergi ninggalin aku untuk selamanya sekarang," lirih Syakilla pelan.


Begitu pilu nasib Syakilla, dia merasa seorang diri sekarang. Sedangkan Fahri, Fahri menunggu Umminya di depan pintu kamar Syakilla di rawat.


" Assalamualaikum," ucap Aminah dan Zahra yang baru datang.


" Waalaikumsalam, Ummi, kak Zahra. Akhirnya kalian sampai juga," ucap Fahri menyalami Aminah dan Zahra.


" Bagaimana keadaan Syakilla? Pasti dia sangat terpukul sekarang!," Ucap Zahra sedih dengan apa yang terjadi dengan adik iparnya.


" Qilla di dalam Kak, dia pingsan ini udah yang kedua kalinya. Fahri sungguh nggak tega melihatnya seperti itu," balas Fahri memeluk Umminya.


" Sekarang yang terpenting kamu harus selalu ada di sampingnya dan menjaganya. Apalagi di saat- saat seperti ini dia pasti sangat membutuhkan dukungan dari kamu," ucap Aminah membalas pelukan Fahri.


" Kita masuk ke dalam saja, kalau Syakilla bangun terus tidak melihat siapapun dia pasti semakin sedih," ucap Zahra.


Mereka bertiga masuk dan mendapati Syakilla yang sedang menangis di atas ranjang rumah sakit. Fahri yang melihat istrinya sedang menangis langsung berlari menghampiri dan memeluknya, tapi Syakilla malah menolak pelukan darinya. Membuat Fahri bingung dengan kelakuan Syakilla, padahal sebelum pingsan Syakilla tidak ingin berada jauh dari Fahri.


" Sayang kamu kenapa?" Tanya Fahri bingung.


"Mas, jahat. Kenapa ninggalin aku sendirian di sini katanya enggak bakal ninggalin aku," ucap Syakilla menangis.


" Sayang, Mas cuma keluar di depan pintu. Mas enggak kemana- mana," balas Fahri.


" Ummi," panggil Syakilla meminta pelukan dari Aminah.

__ADS_1


" Ummi di sini," ucap Aminah menerima pelukan Syakilla.


" Ummi, Mas Fahri jahat. Dia ninggalin aku sendirian di sini," Syakilla mengadu pada Aminah.


"Ahh sakit kak"pekik Fahri karena dijewer Zahra.


" Kamu lihat kakak sudah menjewernya untuk kamu, sekarang jangan menangis lagi ya!," ucap Zahra


" Kak sakit" ucap Fahri.


" Biarin aja siapa suruh tinggalin adik kakak sendirian" balas Zahra.


" Fahri minta maaf, sayang minta kak Zahra lepasin telinga aku ya!," pinta Fahri.


" Biarin aja," balas Syakilla tersenyum. Meskipun cuma sedikit tapi Fahri merasa bahagia karena melihat Syakilla bisa tersenyum.


"Gimana keadaan anak Ummi sekarang, apa sudah lebih baik?," Tanya Aminah perhatian.


" Ummi, sekarang Mama udah ninggalin Qilla sendirian," ucap Syakilla menunduk.


" Kamu dengar sayang, jadi Mas mohon berhenti bilang kalau kamu sendirian. Kita selalu ada untuk kamu," sambung Fahri.


" Ia, Mas. Aku mau pulang, aku mau lihat Mama," ucap Syakilla bangun dari ranjangnya.


"Sini, Mas bantu," tawar Fahri dan di sambut dengan baik oleh Syakilla.


Karena jenazah Mamanya sudah lebih dulu di bawa pulang oleh mobil jenazah yang di bantu oleh Alfin, jadi mereka langsung pulang saja menggunakan mobil yang di bawa Zahra.


Di perjalanan Syakilla hanya diam tidak bicara, tatapannya masih kosong. Zahra, Fahri, dan Aminah yang melihatnya sungguh tidak tega, Syakilla yang periang tiba-tiba diam seribu bahasa sekarang.


" Sayang," panggil Fahri menoleh ke arah Syakilla yang berada di sampingnya. Menggenggam tangan Syakilla erat dengan tangan satunya karena yang satunya lagi untuk menyetir.


" Ia, Mas. Aku akan belajar ikhlas," ucap Syakilla seolah tau maksud dari genggaman tangannya Fahri


Zahra dan Aminah yang duduk di belakang terharu sekaligus sedih melihat Syakilla.

__ADS_1


" Kamu anak yang kuat sayang, Ummi tau kamu bisa melewati ini semua," batin Aminah meneteskan air matanya.


Tidak jauh dari Aminah, Zahra juga sempat meneteskan air matanya untuk Syakilla. Siapa yang tidak bersimpati melihat Syakilla yang di tinggalkan oleh orang yang telah melahirkannya pasti dia sangat terpukul. Tapi, lihat apa yang di lakukan seorang Syakilla walaupun air matanya terus mengalir dia tetap diam tidak banyak menuntut dan pasrah dengan keadaan.


Sampai di pondok Syakilla sempat bingung kenapa Fahri membawanya ke sana bukan ke rumahnya sendiri.


" Mas, kenapa kamu bawa aku ke sini?," Tanya Syakilla.


" Maaf sayang, tapi di rumah kamu tidak ada siapapun jadi kita akan semayamkan di sini, tidak apa-apa kan?," Tanya Fahri.


" Ia, tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengurus jenazah Mama untuk aku," ucap Syakilla.


" Sekarang aku adalah suami kamu, jadi Mama kamu juga Mama aku sayang. Tidak perlu berterima kasih," balas Fahri.


" Sekarang kita turun" ucap Aminah.


Begitu turun Syakilla begitu terharu karena melihat begitu banyak orang di sana, para santri dan santriwati yang ada di pondok ikut mendoakan Mamanya. Padahal selama ini mereka hanya berdua saja.


Untuk ke sekian kalinya Syakilla tidak bisa menahan tangisnya, Fahri tau! Mungkin mulut Syakilla bilang akan ikhlas tapi hati kecilnya tidak bisa berbohong kalau dia sangat sedih.


" Sayang, jangan menangis lagi," ucap Fahri memeluk Syakilla.


Beberapa santriwati yang baru datang dari arah pondok melihat Fahri memeluk seorang wanita terkejut, karena setau mereka ustadz sekaligus anak dari pemilik pesantren tempat mereka belajar belum memiliki istri. Tapi, Ummi yang ada di sampingnya tidak menegur Fahri yang memeluk seorang perempuan, mereka semakin bingung tapi mereka tidak bertanya dan berlalu masuk ke dalam rumah Kiyai.


" Sekarang kamu tenang, kita masuk ke dalam," ucap Fahri.


Zahra, Aminah, Syakilla dan Fahri masuk ke dalam yang sudah banyak orang di dalamnya. Di dalam sudah penuh dengan para pelayat dan juga penuh dengan para santri. Di dalam juga sudah ada Bunda Fatimah dan kedua sahabat Syakilla.


"Nangan menangis lagi, kamu harus tabah," ucap Fahri.


Syakilla masuk dan duduk di samping Mamanya yang sudah kaku dan sudah di kafani. Hati anak mana yang tidak menangis saat melihat pemandangan itu tepat di depan matanya sendiri. Syakilla menumpahkan air matanya melihat sang Mama sudah tidak bernyawa lagi, dia pergi untuk selamanya. Sisil dan Dita yang melihat itu memeluk Syakilla untuk menguatkannya. Mereka juga tidak bisa berbuat banyak, yang bisa mereka lakukan adalah tetap di samping sahabatnya yang lagi berduka.


" Syakilla aku mohon kamu harus ikhlas jangan menangis lagi, " ucap Sisil ikut menangis.


Saat pertama di beritahukan kalau Mamanya Syakilla sudah meninggal mereka sangat syok dan tidak percaya. Antara kasin dengan nasib sahabatnya dan juga mereka juga seperti kehilangan Mama mereka sendiri.

__ADS_1


"Mama sudah pergi Sil, Ta," ucap Syakilla terdengar pilu.


__ADS_2