
HAPPY READING!!!🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Apa yang mulai? Mama serius sayang! Mama ingin melihat kamu memakai gaun seperti ini, apa itu salah?," Tanya Rosa.
"Bukan salah ma... tapi belum saatnya. Qilla masih muda lagi pula masih banyak impian Qilla yang belum Qilla capai," balas Syakilla.
"Kamu kejar apa lagi sayang, mama ingin melihat anak satu-satunya mama ini menikah, dengan begitu kamu tidak perlu capek-capek seperti ini lagi sayang, mama kasihan melihat kamu yang harus banting tulang mencari uang untuk mama," tutur Rosa.
"Ma, bukankah Qilla sudah bilang sama mama, Qilla melakukan ini karena Qilla suka, Qilla juga bukan melakukannya sendiri, mama selalu bantu Qilla, jadi Qilla mohon berhenti meminta Qilla menikah, kalau Qilla menikah siapa yang jaga mama?," Ucap Syakilla.
"Sayang mama sudah tua, paling sebentar lagi juga mama meninggal." ucap Rosa.
"Ma..." bentak Syakilla tanpa sadar dan membuang semua yang ada di tangannya saat mendengar Mamanya berkata seperti.
Dia benar- benar emosi mendengar perkataan Mamanya sampai dia tidak bisa menahan emosinya lagi.
"Apa mama juga ingin meninggalkan Qilla sendiri seperti yang Papa lakukan..." ucap Syakilla matanya sudah berkaca- kaca saat mengatakan itu.
" Mama hanya bicara kenyataan Qilla, dan sebelum itu terjadi, mama ingin melihat ada seseorang yang bisa menjaga kamu," ucap Rosa.
" Ma... jangan bicara seperti itu, Qilla mohon! Cuma mama yang Qilla punya di dunia ini. " Qilla mengatakan itu dengan air mata yang sudah tumpah membasahi pipinya.
"Sayang, kamu masih punya Papa kamu, Papa kamu masih hidup sayang dia masih ada." ucap Rosa meneteskan air matanya.
" Qilla enggak butuh Papa ma... Qilla cuma butuh mama..., jangan pernah berpikir untuk meninggalkan Qilla sendiri" tangis Qilla benar- benar pecah saat mengatakan itu.
Kemudian, dia meninggalkan Mamanya di dalam ruangan itu sendirian. Sedangkan dia, dia berlalu begitu saja dari hadapan Mamanya.
Dia membanting pintu dengan keras, sambil menangis Syakilla menuju rooftop untuk menenangkan dirinya.
Di sana, dia menangis sejadi- jadinya. Dia tidak dapat menyembunyikan lagi perasaannya sepeti yang dia lakukan bertahun-tahun lamanya.
Dia duduk di atas lantai yang beralas rumput sintesis sambil menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.
"Kenapa... Mama bicara... se...olah akan mening....galkan a...ku..." gumam Syakilla putus- putus karena menangis.
__ADS_1
Syakilla sepanjang malam berada di atas rooftop dan terus menangis. Dia tidak mau turun dan melihat Mamanya. Dia bukan benci ataupun kesal tapi dia sangat marah ketika Mamanya berbicara seperti itu.
Sedangkan Mamanya Syakilla, dia berdiri dan memperhatikan Syakilla dari jarak yang tidak terlalu jauh. Sebenarnya Mamanya Syakilla mengikuti Syakilla saat dia keluar dari ruangan kerjanya. Mamanya takut kalau Syakilla berbuat hal yang nekat dan di luar nalar.
"Maafkan mama sayang, mama tidak bermaksud menyakiti hati kamu, tapi mama juga gak tahu sampai kapan mama bisa bertahan..." gumam Rosa matanya tidak lepas dari Syakilla.
"Sebelum mama pergi untuk selamanya, mama ingin melihat kamu bahagia bersama orang yang mencintai kamu dan yang kamu cintai..." gumam Rosa lagi.
Rosa terus berdiri di situ berjam- jam , melihat Syakilla yang tidak kunjung turun. Ingin sekali dia menghampiri Syakilla dan memeluknya tapi di diurungkannya. Sebab, dia ingin Syakilla berpikir dan membuka pikirannya sendiri.
Setelah memastikan kalau Syakilla akan baik-baik saja, Rosa turun dan masuk ke kamarnya sendiri.
"Sepertinya aku harus minta bantuan sama Buk Fatimah, hanya dia yang bisa aku percaya sejauh ini," gumam Rosa.
Mamanya Syakilla tidak dapat memejamkan matanya, dia gelisah dan terus memikirkan keadaan Syakilla di atas rooftop.
Sedangkan orang yang di pikirkan sudah turun dan masuk ke dalam kamarnya, tidak berbeda dari sang Mama, Syakilla juga tidak bisa tidur lantaran terus memikirkan Mamanya.
Menjelang subuh Syakilla dan Mamanya baru bisa tidur. Syakilla dan Mamanya tidur dengan posisi air mata yang terus saja mengalir.
Keesokan paginya, Syakilla bangun lebih awal dari biasanya setelah shalat subuh dia pergi begitu saja dari rumah, dia ingin ke tempat Bunda Fatimah , hanya tempat itu yang bisa membuatnya tenang dan bisa melupakan sedikit masalahnya.
Karena jalanan masih sepi Syakilla sampai di Panti lebih cepat dari biasanya. Gerbang Panti saja masih belum di buka.
Syakilla mengambil ponselnya dan menghubungi Bunda Fatimah.
Tut tut tut.
Sudah berkali-kali Syakilla menghubungi Bunda Fatimah tapi tidak mendapat balasan, tapi Syakilla tidak menyerah begitu saja dia terus menghubungi Bunda Fatimah sampai akhirnya terdengar suara seseorang dari seberang.
_"Assalamualaikum, Syakilla ada apa?," Ucap Bunda Fatimah.
"Waalaikum salam bunda, bunda! Qilla sekarang ada di depan panti, Qilla mohon bunda jangan bertanya apa- apa dulu" ucap Syakilla
" Baiklah bunda ke sana sekarang!," balas Bunda Fatimah.
__ADS_1
Di rumah, Mamanya Syakilla sedang mencari keberadaan Syakilla tapi tidak di temukan. Mamanya juga sudah berusaha menghubungi Syakilla tapi tidak di jawab oleh Syakilla setelah beberapa saat nomor Syakilla tidak aktif lagi.
"Apa dia sengaja melakukan ini...." gumam Rosa.
Mamanya tidak kehabisan akal dia juga menghubungi teman- teman Syakilla tapi jawaban mereka semua sama. Mereka tidak tau keberadaan Syakilla.
" Ini adalah harapan terakhirku... semoga saja dia ada di sana" Gumam Rosa dan menghubungi Ibuk Panti.
Sudah beberapa kali mencoba tapi tidak bisa karena panggilan sedang sibuk.
" Sebaiknya aku sendiri yang ke sana, tidak mungkin Qilla ke tempat lain, dia pasti berada di sana" ucap Mama Syakilla yakin.
Di Panti,
Syakilla sudah duduk di dalam ruangan Bunda Fatimah sendirian, sedangkan yang punya ruangan lagi mengambil minum untuk Syakilla.
Di dalam ruangan tersebut Syakilla tidak dapat menyembunyikan perasaan sedihnya.
Bunda Fatimah kembali dengan membawa air dan juga makanan di tangannya.
"Minum dulu," pinta Bunda Fatimah.
"Makasih bunda," ucap Syakilla dan bunda Fatimah hanya menganggukkan kepalanya saja.
" Sebenarnya ada apa sama kamu, bunda tahu kamu pasti lagi ada masalah makanya kamu datang ke sini pagi-pagi," ujar Bunda Fatimah.
"Qilla boleh peluk bunda sebentar..." pinta Syakilla
"Sini...." ucap Bunda Fatimah merentangkan tangannya.
Syakilla masuk ke pelukan Bunda Fatimah dan menangis tapi tidak bersuara.
"Menangis-lah jangan di tahan," ucap Bunda Fatimah.
Hiks...hiks... hiks... ****hiks****...
__ADS_1
Syakilla menangis dalam pelukan Bunda Fatimah. Bunda Fatimah hanya diam membiarkan Syakilla menangis dalam dekapannya tanpa ada niat mengganggu.
Like, komen, vote, and fav.