Cinta Sedingin Es

Cinta Sedingin Es
S2 eps 23


__ADS_3

Ciuman bertubi-tubi Kenz daratkan pada pipi kanan dan kiri Zaf, dan terakhir sebuah kecupan di bibir wanita itu.


"Bagai mana keadaan mu? " tanya Kenz khawtir dan masih bertanya-tanya kenapa Zaf memintanya untuk bertemu sepagi ini.


"Aku baik-baik saja Kenz, kau bisa lihat sendiri kan, anggota tubuhku masih utuh"jawab Zaf memutar tubuhnya agar Kenz dapat melihat dirinya baik-baik saja.


Kenz menghela nafasnya "syukurlah" lirihnya "Ada apa kau meminta ku kemari? " Kenz bertanya.


Zaf memberikan sebuah flashdisc ketangan pria tersebut.


"Ini data yang ku dapat kan tadi malam" lanjut Zaf.


Senyuman terukir dibibir Kenz saat menerima benda kecil tersebut "Kalau begitu, ayo kita pergi"ajaknya.


Zaf menggeleng "Tidak bisa Kenz, tadi malam aku ketahuan oleh Bryan" ucapan Zaf itu membuat Kenz terkejut.


"Lalu,apa yang dia lakukan terhadapmu" Kenz kembali memperhatikan tubuh Zaf dari atas hingga kebawah.


"Dia tidak melakukan apa-apa pada ku Kenz, hanya saja aku belum bisa pergi dari rumahnya, karna jika aku pergi dia akan melaporkan aku ke polisi atas tuduhan pencurian" Zaf menjelaskan.


Mendengar itu Kenz meremas tangannya sendiri sebagai pelampiasan atas kemarahannya.


"Tidak masalah Kenz, aku bisa menjaga diriku dengan baik" ucap Zaf berusaha meredam Kenz.


Zaf kemudian memeluk tubuh pria tersebut "Aku akan mencari cara untuk mengeluarkanmu dari sana" ucap Kenz membalas pelukan dari Zaf.


Flash back on...


"kau bisa menyalinnya, dan memberikan laporan itu kepada rekanmu" ucap Bryan kepada Zaf.


Zaf hanya diam tak menjawab.


"Tapi kau tidak bisa pergi dari sini sesuka hati mu"sambungnya lagi "Jika kau berani kabur dari sini, sampai ke ujung duniapun aku tidak akan melepaskan mu,kau akan mendekam didalam penjara seumur hidupmu".


Mendengar itu,entah mengapa membuat tubuh Zaf tiba-tiba bergetar, apa dia akan terjebak disini?.


Bryan kemudian mendekat dan menekan satu tombol pada laptopnya untuk menyalin laporan yang Zaf dapatkan tadi.


Setelah selesai, ia kemudian melemparkan sebuah flashdisc yang baru ia cabut dari laptopnya kepada Zaf.


"Berterima kasih lah pada ku, karna aku tidak langsung membunuh mu"ucap Bryan.

__ADS_1


Zaf yang mendengar itu,kemudian segera mengayunkan langkahnya meninggalkan kamar tersebut.


Flash back off...


"Pulang lah, aku juga akan segera kembali"ucap Zaf setelah melepaskan pelukannya.


Saat pelukan mereka terlepas, Kenz dapat dengan jelas melihat mata bening gadis tersebut.


Ia mamandang nya dengan lama, tatapan mereka beradu, dan Kenz pun kembali mendaratkan ciumannya kepada bibir Zaf yang begitu menagih untuknya.


Sebuah ******* halus Kenz berikan, dan Zaf juga dengan lembut menyambut dan membalasnya.


Seakan tak ingin terpisah, bibir mereka yang saling beradu itu amat berat untuk berpisah.


Setelah berpisah, Zaf kemudian kembali keMansion keluarga Abram.


Sesampainya dikamar, ternyata disana Luciana sudah mencarinya.


"Kakak! "panggil gadis kecil itu celingukan mencari keberadaan Zaf.


"Aku disini nona kecil" jawab Zaf setelah masuk kakamarnya.


"Kakak dari mana saja, aku mencari mu dari tadi"cicit Luciana.


"Apa lukisannya sudah selesai? " tanya nya.


Oh iya, Zaf baru ingat dengan janjinya kepada Luciana, karna pikirannya berkecamuk semalam ia sampai melupakan hal itu.


"Ah, itu...nona tahu kan melukis itu tidak mudah? "Gadis itu mengangguk "Jadi kakak belum menyelesaikannya".


Mendengar itu terlihat sekali raut kecewa di wajah Luciana.


"Jangan khawatir, kakak akan segera menyelesaikanny yah... "Hibur Zaf saat melihat wajah Luciana yang tampak kusut itu.


Gadis itu kembali mengangguk dan kemudian kembali kekamarnya setelah Zaf mengatakan akan menyelesaikan lukisannya


Huft... tapi, diamana aku meletakan kanvas dan alat lukisnya semalam ya? pikir Zaf mengingat-ingat.


Benar juga, semalam ia menitipkannya kepada supir saat menjemput Bryan di bar.


Zaf kemudian segera menemui supir untuk menanyakan tentang alat lukisnya.

__ADS_1


***


Plakkk...


Beberapa lembar kertas Kenz lempar diatas meja dihadapan Daniel ayahnya.


"Apa maksud dari semua ini?! "(dalam bahasa Perancis) ucap Kenz dengan penuh amarah.


Daniel pun menujukan pandangannya kepada kertas-kertas tersebut.


Bagai mana bisa Kenz mendapatkan itu semua?. batin pria itu.


"Kau terkejut aku mendapatkannya? " cerca Kenz "Kau terkejut aku bisa tahu kebusukanmu?! " Kembali amarah Kenz tersulut karna Daniel tak mengatakan apapun.


"Jika aku tahu apa yang kamu katakan itu semua adalah bohong, aku tidak akan mengorban kan seseorang untuk menyelamatkanmu! " seru Kenz.


"Kau sudah tahu semuanya" ucap Daniel akhirnya "Sepertinya aku tidak akan mungkin bisa menyembunyikannya selamanya".


"Apa maksudmu? bagaiman kau bisa setega itu kepada istri mu sendiri? "ucap Kenz masih dengan amarahnya.


"Sepertinya kau dibesarkan dengan baik oleh seseorang yang mengasuhmu" ucap Daniel "Sehingga kau tidak pernah merasakan bagai mana rasanya dihina"sambungnya.


"Orang yang hidup di kalangan bawah memang akan selalu menjadi yang tersakiti"Daniel berucap lagi karna Kenz hanya diam "Ck... Dia yang mandul masih berani menghina kalau aku lah yang tidak bisa memberikan keturunan" Ucap Daniel mengenang kehidupannya yang pahit.


"Kau tahu, setelah kedatangan dan pengakuanmu, itu membuatku merasa bahwa aku memang benar, sudah benar bagi jalanku untuk menghabisinya atas semua tuduhannya kepadaku... karna buktinya aku memang bisa memiliki putra" ucapnya bangga seolah apa yang sudah ia lakukan adalah hal yang benar.


"Tapi, membunuh seseorang itu sama sekali tidak dibenarkan" Kenz berucap.


"Ya, itu karna kau tidak pernah merasakan diposisi ku... setiap hari mendapat hinaan dari orang yang tahu latar belakang ku, bahkan seseorang yang ku cintai pada akhirnya juga melampiaskan kekecewaanya pada ku" Daniel menjawab.


"Jadi, kau membenarkan apa yang sudah kau lakukan? "Cecar Kenz.


Daniel menatap Kenz tajam "Kau tidak tau apa yang kurasakan, jadi jangan mencoba untuk menghakimiku".


"Kalau begitu mendekamlah selamanya di penjara! " Kenz kemudian langsung beranjak, dan meninggalkan Daniel ditempatnya yang memandang punggung lelaki itu dengan tatapan nanar.


Kau tidak akan pernah tahu apa yang kurasakan, tapi aku sudah merasa cukup tenang setelah tahu kau besar dengan sangat baik.


Sepertinya aku memang harus berterima kasih kepada wanita itu.


Senyum terukir diwajah tuanya, ia memang merasa bersalah kepada tiga orang wanita itu sekaligus. Karna itu Daniel merasa lebih baik jika dia di hukum atas apa yang ia lakukan.

__ADS_1


Ia tidak menyesali keadaanya yang ada di dalam bui tersebut, karna saat dia disana perasaan bersalahnya yang begitu berat terasa lebih ringan, karna apa yang terjadi pada nya itu adalah hukuman yang tuhan beri untuk semua perbuatan jahatnya dimasa lalu.



__ADS_2