
mohon maaf...author lama update karna ponsel author lagi bermasalah. insya allah author akan berusaha agar bisa update lebih cepat..
semoga suka dengan ceritanya...
***
sesuai jadwal,hari ini adalah hari rafa operasi. dan kini operasi sedang berlangsung, cindi dan mama elina menunggu dengan cemas di depan ruang operasi.
sesekali mama elina memeluk cindi agar tidak terlalu cemas.
"tenang sayang...rafa akan baik-baik saja" ucap mama elina sambil mengusap punggung cindi "dokter yang menanganinya semua profesional" lanjutnya.
cindi hanya mengangguk.
empat jam berlalu dan seorang dokter keluar dari ruangan nya, "bagai mana dok?" tanya mama elina segera setelah mendekati dokter
"operasi berjalan dengan lancar dan pasien akan segera dipindahkan keruang perawatan" jawab dokter
"bisa kami masuk?" tanya cindi
"boleh...hanya satu orang saja,agar pasien tidak terganggu"
"terima kasih dok" ucap mama elina
"sayang...kamu masuklah" mama elina berkata setelah dokter meninggalkan mereka
"tapi ma..." cindi merasa ragu,karna cindi fikir mungkin mama elina lebih ingin menemui putranya.
"tidak apa-apa sayang...rafa pasti lebih butuh kamu" bujuk mama elina
cindi mengangguk dan masuk kedalam ruang operasi.
dilihatnya rafa yang masih terbaring lemah dan seorang suster yang telah membereskan peralatan medis sedang seorang lagi sedang mempersiapkan rafa untuk pindah ruangan.
cindi hanya diam dan memperhatikan rafa yang terlihat pucat dan belum sadarkan diri.
***
hari berikutnya setelah operasi,
cindi duduk disamping ranjang rafa,menunggu rafa siuman.
tak henti hentinya cindi memandang rafa sambil terus menggenggam tangannya sesekali ia tertidur tapi hanya sebentar lalu terjaga kembali.
dirasakannya tangan rafa bergerak,cindi terkejut dan langsung ingin berlari memanggil dokter.
namun langkahnya terhenti karna tangan rafa menggenggamnya kuat.
cindi berbalik dan dilihatnya rafa sudah membuka matanya.
dia terlihat tersenyum karna merasa senang. seseorang yang ia cintai adalah seseorang yang pertama kali dilihatnya.
"aku akan panggil dokter" ucap cindi. entah mengapa dia merasa gugup karna dipandang begitu intens oleh rafa.
"tidak usah...aku tidak butuh dokter" rafa mengeratkan genggaman tangannya.
cindi kembali duduk dikursi sebelah ranjang rafa
"kenapa duduk disitu?" ucap rafa
cindi menatap nya heran,lantas dia harus duduk dimana?
__ADS_1
" kemarilah" rafa bergeser dan menepuk-nepuk disampingnya
cindi hanya menurut dan duduk disamping rafa.
"tidurlah sebentar...kamu pasti tidak bisa tidur kan selama aku belum sadar" ucap rafa yang mengerti kebiasaan cindi.
cindi pun berbaring disamping rafa dan memejamkan matanya. rasa nyaman itu membuatnya terlelap.
tak lama dokter dan seorang suster masuk kedalam dan rafa mengisyaratkan agar mereka diam dan keluar dari ruangan itu.
dokter dan suster pun hanya menurut dan keluar dari ruang perawatan rafa dan akan kembali setelah mereka merasa cindi sudah cukup istirahat.
rafa mendapatkan perlakuan istimewa karna ayah rafa adalah pemegang saham tertinggi di rumah sakit rafa dirawat.
***
tiga hari berlalu
cindi yang baru datang dengan membawa makanan terkejut karna ruangan rafa terdengar ramai.
setelah masuk,ternyata beberapa karyawan rafa datang berkunjung.
rafa menyambut cindi dengan senyumannya dan sontak membuat para rekan kerja rafa terkejut.
*ternyata tuan rafa seperti itu saat tersenyum...
tuan rafa tersenyum??ya tuhan aku baru melihat seorang malaikat tampan*
dan beberapa isi hati para karyawan yang baru melihat rafa tersenyum.
rafa memang bukan bos yang kejam,tapi dia jarang sekali berekspresi tersenyum didepan karyawannya.
karna itu hampir semua karyawan terkejut saat melihat nya.
***
" memang sudah boleh?" selidik cindi
"sebentar lagi dokter datang"
tidak lama dokter datang,dan bersiap untuk membuka perban dikepala rafa.
setelah perban dibuka,kepala rafa terlihat pelontos,karna sebelum operasi dilakukan para dokter mencukur rambut rafa agar tidak menghalangi jalannya operasi.
"sepertinya kita tidak jadi jalan-jalan" ucap rafa kecewa setelah melihat pantulan dirinya dicermin
cindi mengerti masud rafa"kenapa?" tanya cindi berpura-pura tidak tahu
rafa menunjuk kepala nya yang terlihat pelontos.
cindi tersenyum "sepertinya calon suamiku lebih mempesona jika tidak punya rambut" goda cindi
mendengar kata 'calon suami' dari cindi entah kenapa membuat rafa merasa senang hingga senyum hangat kembali tercetak di wajah tampannya
"apa aku harus botak dulu biar kamu mau menyebutku calon suami mu?" kara rafa
"hahaha...ayo kita jalan-jalan" ucap cindi sambil membantu rafa duduk diatas kursi rodanya.
cindi mendorong kursi roda rafa hingga ketaman didepan rumah sakit,untuk sesaat keluar dari ruangan membuat rafa dan cindi merasa senang bisa menghirup udara segar.
disana terlihat banyak pasien yang juga menghabiskan waktu agar tidak selalu menghirup desinfektan didalam rumay sakit.
__ADS_1
ada anak-anak yang sedang melihat ikan ada juga kakek-kakek yang sedang mengobrol dengan anak nya.
sangat menyenangkan.
"kamu tidak lupa kan dengan janjimu?" ucap rafa memecah keheningan diantara mereka
kini cindi duduk di kursi taman dan rafa masih diatas kursi rodanya
"yang mana?" tanya cindi balik
"tentang pernikahan" jawab rafa
cindi tersenyum dan menggenggam tangan rafa"mana mungkin aku lupa" cindi menjeda ucapannya "aku sudah memantapkan hatiku"
"terima kasih" rafa mencium tangan cindi yang tadi menggenggamnya.
***
satu bulan kemudian
rafa sudah pulih dari sakitnya, dan para orang tua juga sudah menyetujui pernikahan mereka.
pernikahan akan diadakan satu bulan lagi, semua persiapan ditangani oleh mama elina.
dan hari ini cindi kembali kekotaA untuk memenuhi permintaan mama elina untuk bertemu dengan WO kenalan mama elina
dan disini lah dia.didepan sebuah kafe bintang.
kringggg....
ponsel cindi berbunyi.
"halo ma"
"sayang sudah sampai mana?"
"cindi sudah didepan kafe ma"
"oh gitu ya...ya udah kamu langsung masuk ya sayang mama ada didalam... mama tunggu ya"
"iya ma"
mama elina menutup panggilannnya
"dia sudah diluar la"ucap mama elina dengan WO kenalannya
" okei...jadi keputusannya nunggu calon menantumu kan?"ucap sang WO
"iya dong itu kan pernikahan calon menantuku" mama elina menekan kata calon menantuku untuk membuat WO didepannya cemburu
mama elina merasa menang karna dia bisa lebih dulu punya menantu dari pada WO didepannya yang juga sahabatnya
"eh itu dia" mama elina menunjuk arah pintu kafe dan melambaikan tangannya kepada cindi
terlihat cindi juga membalas lambaian mama elina
"cindi"ucap WO itu terkejut
"tante nila" cindi pun tidak kalah terkejutnya
happy reading semua...
__ADS_1
jangan lupa like nya