
"cindi bangun"rafa mengelus lembut pipi cindi dengan ibujarinya.
cindi menggeliat seakan tidak ingin membuka matanya.dan melihat cindi, rafa hanya tersenyum gemas melihat gadis didepannya.katanya insomnia tapi setiap dengan rafa tidurnya malah kayak kebo.
rafa mengecup kening cindi tapi dilihatnya tidak ada respon dari sang gadis,kemudian turun mengecup hidung cindi,juga tidak ada respon.saat rafa menurunkan bibir nya yang akan menyentuh bibir cindi,tiba-tiba ada sesuatu yang menghalangi bibirnya.
rafa sedikit menjauhkan wajahnya,ternyata cindi sudah membuka matanya dan yang menghalangi nya adalah jari telunjuk cindi yang menempel pada bibirnya.
"bagaimana perasaanmu?" tanya rafa
"ha?"bukannya menjawab cindi malah kembali bertanya karna merasa bingung dengan pertanyaan rafa.
"perasaanmu tentang perasaanku kepadamu?"ucap rafa yang membuat cindi semakin tidak mengerti.melihat cindi yang bingung,rafa mengusap wajah cindi karna gemas dengan ekspresi cindi. "bercanda...bagaimana keadaan mu? apa masih ada yang terasa sakit?"
cindi menggeleng "tidak...aku sudah lebih baik"
"kalau begitu,cepat bersiap...kita sarapan dulu"ucap rafa kemudian pergi menuju meja makan,dan menunggu cindi.
setelah mencuci muka dan gosok gigi, cindi keluar dari kamar dan hanya memakai kemeja rafa yang rafa pakaikan tadi malam.
rafa yang melihatnya merasa sangat kesusahan menelan salivanya,apa lagi karna baju rafa yang kebesaran menjadikan pundak cindi telihat karna tidak membenarkan baju yang iya pakai kerahnya jadi melorot sebelah,memperlihatkan pundaknya yang mulus.
" eghm..."rafa berdehem dan mengalihkan pandangannya dari cindi,karna dia takut tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
"tidak kerja?"tanya cindi setelah duduk disamping rafa.
rafa semakin panik karna setelah duduk,paha mulus cindi menjadi terekspose.astaga jerit rafa dalam hati.
"mau menguji imanku?".
__ADS_1
"hah?"cindi heran.
"kenapa pakai baju seperti itu?" ucap rafa agak frustasi.
"hah?"cindi memperhatikan penampilannya sendiri "bukannya kamu sendiri yang mengganti bajuku? lagi pula kamu sendiri tahu,bajuku kotor dan kenapa semalam tidak mencucinya?" cindi menyudutkan rafa dengan pernyataanya. dan membuat rafa tidak bisa berkata lagi "lagi pula celana mu terlalu kebesaran, setiap aku pakai selalu melorot" ucap cindi sambil menundukan wajah nya.
"ya sudah"rafa mengusap wajah nya sendiri menetralkan dirinya agar tidak berpikir yang iya-iya"sebentar lagi ilham mengantarkan baju ganti untukmu"ucap rafa kembali fokus dengan roti bakar didepannya.
"kamu tidak kerja?"cindi mengulangi pertanyaannya
"aku mengambil cuti...nanti mau kerumah papamu"ucap rafa sambil memakan roti bakar dengan selai coklatnya.
"ada urusan apa"
rafa menghela nafasnya "mau melamar anak gadisnya"ucapan rafa sontak membuat cindi tersedak,karna cindi yang baru saja meminum air putih dihadapannya."kenapa?"rafa mengulurkan tisu didepannya
"sejak kapan aku berhubungan dengan ivy?"rafa mencubit hidung mancung cindi, dan membuat nya meringis kesakitan"tentu saja lamaranku untukmu"
"tapi-"
"tidak ada tapi...aku sudah mendapat persetujuan mu,jadi aku akan meminta izin dari papa mu"rafa memotong pernyataan cindi
"memang siapa yang sudah setuju?"
rafa mengangkat tangan cindi dan memperlihatkan jari manisnya yang sudah dihuni oleh cincin cantik diatasnya.
"kamu tidak melepaskan cincinnya berarti kamu setuju"rafa tersenyum puas karna merasa menang.
"raf...kita masih muda,dan aku masih ingin menyelesaikan kuliah kemudian ingin bekerja"cindi menunduk dengan suara pelan,agar tidak membuat rafa kecewa
__ADS_1
mendengar ucapan cindi yang masih menolaknya tentu rafa merasa kecewa,
rafa mengelus kepala cindi lembut "kamu masih belum membuka hatimu?"
cindi menatap rafa lekat seolah dia tahu jika rafa kecewa pada nya,cindi bangkit dari duduknya kemudian duduk di pangkuan rafa
"raf...aku sudah membuka hati ku untukmu,karna itu aku ingin menjadi seseorang yang pantas duduk disampingmu,aku sudah lelah menutup telinga dengan omongan orang-orang yang mengatai ku"cindi menghentikan ucapannya.dan rafa masih memperhatikan wajah cindi seolah bertanya apa yang oran-orang katakan tentang dirinya"mereka selalu mengatakan jika pencapaianku itu semua karna aku sudah merayumu dengan naik keranjangmu...ya walaupun yang mereka katakan itu memang tidak salah" jelas cindi kemudian memalingkan wajahnya dari tatapan rafa.
rafa menangkap wajah cindi untuk kembali menatapnya "bukan kamu yang merayuku...tapi aku yang menarikmu" ucap rafa pelan tepat ditelinga cindi yang berhasil membuat wajah cindi memerah.
rafa mendekatkan wajahnya kemudian mencium tengkuk cindi yang seakan mencium aroma tubuh cindi sudah menjadi candu baginya.
cindi yang merasa rafa semakin tenggelam kemudian langsung beranjak dari pangkuan rafa lalu berlari menuju kamar untuk melarikan diri,dia takut jika rafa akan kehilangan akal sehatnya kemudian menyerangnya. cindi sadar jika dialah yang memancing rafa dan tidak mau bertanggung jawab.
rafa hanya tersenyum melihat tingkah cindi,dan kemudian menuju kulkas untuk mengambil air dingin untuk menetralkan tubuh dan hatinya. rayuanmu memang membuatku semakin fristasi ucap rafa dalam hati
di bayangan author,rafa tuh kaya aktor di atas.
ini adalah cindi.
mungkin digambar mata cindi tidak biru ya...jadi di bayangin aja kalau mata cindi biru.
happy reading semua...
__ADS_1