
"Mama tidak setuju! " ucap mama Cindi yang tiba-tiba masuk kedalam ruang kerja papa Rafa,yang didalam nya sudah ada Zaf dan Papa Rafa.
Mereka sedang membahas keberangkatan Zaf ke Paris untuk menyusul Kenz, Namun tentu saja mama Cindi yang mendengarnya langsung masuk kedalam ruangan tersebut.
Kedua tatapan ayah dan anak itu langsung tertuju pada Cindi yang memasuki ruangan tersebut.
Zaf dengan berat menghela nafas, dia sudah mati-matian meminta izin kepada Daddynya dan itu hampir berhasil.
Namun untuk Mommynya pasti akan sangat sulit.
"Mom... cuma dua minggu, Zaf cuma minta waktu dua minggu untuk liburan kesana" rayu Zaf setelah mama Cindi duduk diatas sofa yang tersedia "Zaf sudah dewasa mom, bisa menjaga diri Zaf dengan baik".
Sedangkan Rafa, hanya diam untuk menyaksikan kedua wanita yang paling ia cintai didunia, dan tentu saja ada ia juga mencintai mama Elina.
Diam sejenak kemudian Cindi memberi syarat "Baiklah, mommy izinkan untuk kamu pergi kesana, tapi dengan syarat tentunya".
Zaf tak bersuara, gadis itu masih ingin mendengar ucapan mommynya yang selanjutnya.
"Mommy ingin kamu pindah jurusan, entah itu hukum, bisnis,atau ekonomi terserah pada mu... mommy tidak ingin kamu melanjutkan pendidikanmu dibidang seni itu" ucap Mama Cindi "Sementara kamu berpikir,pasport kamu mommy tahan" imbuh mama Cindi.
Zaf kini terlihat bingung,bagai mana ia harus menukar jurusan yang ia sukai dengan pergi ke Paris, bagai mana bisa mommy nya sekejam itu?
Zaf sangat suka melukis, walau ia tahu mommy nya sangat ingin ia belajar tentang bisnis tapi keinginannya juga termasuk penting baginya.
Dengan gontai ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya, sementara Cindi masih disana bersama suaminya.
"Jangan bilang kamu akan mengijinkan Zaf pergi jika aku tidak datang tadi" ucap Cindi kepada suaminya.
"Sebenarnya tidak juga, aku hanya bingung ingin memberi alasan apa untuk menolak Zaf, kamu tahu sendiri kan aku tidak bisa menolak keinginannya" Rafa membela dirinya.
"Seperti itulah dirimu"cibir Cindi.
***
"Jadi kamu akan pindah jurusan? " tanya Lila sahabat baik Zaf.
Zaf dengan lesu menganggukan kepalanya "Itu satu-satunya cara agar mommy mengijinkan ku ke Paris".
"Kapan kamu berangkat? "kembali Lila bertanya.
__ADS_1
"Segera setelah aku menukar surat tanda perpindahan dengan pasport ku"kembali gadis itu menghela nafasnya.
"Apa sudah ada tempat untuk tinggal? "
"Tidak, belum ada akan ku pikirkan setelah sampai disana nanti"
"Sepupuku ada yang tinggal disana, kau mau kukenalkan, biar dia yang menjemput mu di bandara nantinya"Lila mengusulkan,ia berharap bisa membantu sahabatnya walau hanya sedikit.
"Boleh" Jawab Zaf.
Lila mengambil Poselnya kemudian menunjukan sebuah foto Lila bersama seorang pemuda "ini dia, nama nya Oliver" Lila berucap.
Zaf melirik sebentar kemudian mengangguk.
"Aku akan memberitahunya kalau sahabatku akan kesana,dan meminta bantuannya agar dia bisa membantu mu disana"kembali Lila meneruskan ucapannya. "Jangan lesu begitu dong, kamu harus bersemangat untuk mendapatkan hati Kenz, aku yakin suatu saat dia akan bisa Membuk hatinya untuk Zaf tercantik"Lila berusaha menyemangati.
Setelah menyelasaikan registrasinya, Zaf kemudian pulang kerumah untuk menukarkan surat dari kampus dengan paspornya.
Mama Cindi kemudian menyerahkan Paspor milik Zaf "Kapan akan berangkat? ".
"Belum tau mom" jawab Zaf.
"Kenapa seperti tidak bernyawa seperti itu? kamu tidak senang mendapat kan paspor mu? " tanya mama Cindi karna tidak melihat gurat bahagia dari wajah putrinya.
Mama Cindi menghela nafasnya "Bukan kah Zaf bilang kalau Zaf sudah dewasa? dan bisa menentukan mana yang baik dan tidak? kenapa sekarang Zaf ragu dengan keputusan Zaf sendiri?"mama Cindi memberikan pertanyaan beruntun "Mommy hanya memberikan dua pilihan, dan tidak memaksa Zaf untuk menuruti kemauan mommy, karna mommy memberi Zaf kebebasan untuk memilih diantara keduanya" tutur mama.
"Bisa bantu Zaf untuk memesan tiket pesawatnya mom? " Zaf mengalihkan pembicaraan.
"Hm"mama Cindi mengangguk "Baik lah"
Setelah berbicara dengan mamanya, Zaf menuju kamarnya dan langsung mengehempaskan tubuhnya diatas ranjang empuknya.
"Huft" sungguh pilihan yang sulit, benar-benar berat bagi Zaf jika harus meninggalkan dunia melukisnya karna itu adalah kesukaannya.
Tapi jika dipikir-pikir tidak ada darah seni dalam dirinya, papanya dan para kakeknya adalah seorang pembisnis, lalu bagai mana bisa ia sangat menyukai melukis?
Ia kemudian berguling dan mengambil sesuatu didalam laci nakasnya.
Sebuah kertas dengan sketsa Kenz disana, gambar Kenz dengan bertelanjang dada.
__ADS_1
Sungguh Zaf ingin memiliki potret Kenz dengan pose seperti itu, namun tidak bisa ia dapat karna ia memang tidak memiliki kesempatan memotretnya.
Dan setelah belajar menggambar, akhirnya Zaf bisa menggambar sketsa Kenz dengan pose yang ia inginkan.
Daya imajinasinya memang sungguh luar biasa, coretan dalam sketsa tersebut begitu mirip dengan aslinya, karna itu Zaf memiliki ambisi untuk menjadi seorang pelukis karna keberhasilannya membuat gambar Kenz.
Pagi menjelang, dan Mama Cindi mengatakan jika hari ini adalah hari keberangkatan Zaf.
"Sudah siap? "mama Cindi yang baru masuk kedalam kamar Zaf pun bertanya.
"Sudah Mom" jawab Zaf dengan sebuah koper besar disampingnya.
mama Cindi mengangguk kemudian langsung berhambur memeluk putrinya "hati-hati, Daddy akan mengantarkan mu" ucap mama masih belum melepaskan pelukannya.
"Mom, jangan begini... Zaf hanya jalan-jalan dan itu tidak akan lama" ucap Zaf yang berusaha menenangkan mommynya, Zaf memang tidak pernah pergi jauh sendiri selama ini, karna jika ia liburan akan pergi bersama salah satu anggota keluarga.
"Mommy tidak apa-apa" ucap mama Cindi berusaha tegar, ia secepatnya menghapus air matanya sebelum Zaf melepaskan pelukannya.
"Iya mommy tidak apa-apa, Zaf bisa melihatnya" ucap Zaf, pada hal gadis itu tahu jika tadi mama nya menangis dibelakangnya. "Mom"
"Hm? "
"Walau kita sering berselisih paham, tapi Zaf selalu menyayangi Mommy, Zaf juga tahu Mommy hanya ingin yang terbaik untuk Zaf" Zaf berucap, sambil berjalan keluar bersama mama Cindi.
"Nah itu tahu" Mama Cindi menjewer telinga Zaf dan tentu tanpa tenaga, namun gadis itu tetap meringis,reflek karna takut jika mama nya akan benar-benar menjewer nya.
"Sudah siap? " tanya papa Rafa yang sudah bersiap disamping mobilnya.
Zaf dan mama Cindi mengangguk bersamaan, dan Zaf pun memasuki mobil tersebut dengan papa Rafa yang menyetir.
Semoga Zaf bisa meyakinkan hatinya sendiri mau pun Kenz,entah bagai mana tanggapan Kenz saat melihatnya disana, namun Zaf berharap pria itu akan menyambutnya dengan baik.
Mungkin membawa Kenz untuk segera kenbali itu akan sulit namun Zaf yakin ia akan berhasil.
Namun, kalau pun Kenz pada akhir tidak bersedia pulang bersamanya Zaf tetap akan berusaha.
Membuka Hatinya, memasukinya dan menjadi penghuni didalamnya.
__ADS_1
fiuhhh.... agak ngebul ya usahanya buat bisa up tiap hari, makanya minta penyemangat nya dong, klik jempol sama komen nya ya...😘😘