Cinta Sedingin Es

Cinta Sedingin Es
S2 eps 35


__ADS_3

sebenarnya tubuh Zaf sudah bergetar menahan rasa takut dalam dadanya, namun ia berusaha agar terlihat kuat di mata Bryan, sehingga membuat pria itu yakin bahwa Zaf benar-benar akan mencelakai Luci.


Obat yang Zaf berikan kepada Luci adalah obat yang Zayn kembangkan, itu seperti psikotropika namun akan berakibat fatal jika tidak segera diberi penawar.


Zaf mendapatkan obat itu dari Kenz yang baru bertemu dengan Rama, Rama memberikan obat tersebut agar Kenz memberikannya kepada Zaf.


Karna Rama tahu jika rencana Kenz yang pertama pasti akan gagal,yaitu rencana tentang kehamilan Mirela.


Dengan bantuan Adelia, Kenz memalsukan laporan kehamilan Mirela waktu itu.


Tapi sayangnya tebakan Rama benar, Bryan tidak akan mau bertanggung jawab, ia bersedia mengakui bayi Mirela namun tidak dengan permintaan Mirela agar Bryan bersedia menikahinya.


Dan disinilah Zaf sekarang, menghadapi Bryan dengan emosi yang sudah tingkat ubun-ubun.


"Dampak dari obat itu adalah tertidur seperti orang mati pada awalnya, tapi dia akan merambat ke otak Luci jika tidak segera diberi penawarnya"Zaf kembali bersuara karna Bryan sama sekali tak berbicara.


"Berikan penawarnya! "ulang Bryan.


"Aku akan memberikannya setelah kau setuju melepaskanku"ucap Zaf.


"Berikan penawarnya jalang! "Sudah tidak bisa menahan lagi, kini Bryan benar-benar hilang kendali.


Ia beranjak dari duduknya kemudian berjalan cepat menuju Zaf.


Zaf yang merasa gentar, melangkahkan kakinya kebelakang.


Namun karna langkah Bryan yang terlalu cepat,pria itu tiba-tiba sudah berada didepan Zaf.


Tanpa ampun, Bryan mengankat tangannya kemudian mencekik leher Zaf membuat gadis itu sontak tak mampu bernafas.


"Beraninya kau memberiku pilihan"geramnya dengan mencengkram leher Zaf hingga membuat gadis itu semakin sulit bernafas."Kau pikir aku tidak berani membunuhmu? " Bryan menampilkan senyum iblisnya.


"Maka kau juga akan kehilangan putri mu" ucap Zaf dengan suara yang berat karna nafasnya yang semakin habis.


"Kau pikir setelah menghabisimu,maka aku tidak bisa mendapatkan penawarnya?! " Suara Bryan meninggi.


"Sayangnya, hanya adikku lah yang memiliki penawarnya, karna obat itu memang dia yang menciptakannya"ucap Zaf lagi yang seakan tidak takut nyawanya yang sudah diambang bahaya.


Bryan merasa geram, kemudian menghempaskan tubuh Zaf hingga terlepas cengkramannya.

__ADS_1


Zaf yang tersungkur dengan terbatuk-batuk kemudian dengan susah payah berusaha kembali menegakkan tubuhnya.


"Semua pilihan ada ditangan mu tuan Bryan" ucap Zaf dengan masih mengatur nafasnya.


"Kau hanya perlu melepaskan ku untuk bisa menyelamatkan putri mu, bukankah itu bukanlah pilihan yang sulit? "Zaf masih berusaha agar Bryan menyetujui persyaratannya. "Aku bukanlah siapa-siapa bagi mu, sedangkan Luci sangat berharga,jadi segera lah membuat pilihan Tuan".


Bryan kembali memberikan tatapan tajam kepada Zaf, dia memang tidak mungkin membiarkan putrinya menderita, namun jika itu harus dengan melepaskan Zaf, itu sangat sulit.


Ia akui ia begitu bodoh bisa jatuh cinta dengan gadis yang bahkan tak mau melihatnya.


Namun itu semua bukan lah yang ia inginkan, apakah ia bisa mengatur hatinya untuk bisa mencintai siapa yang ia inginkan?.


Jika memang bisa mungkin ia juga tidak akan menempatkan Zaf pada urutan pertama.


"Berikan penawarnya"Bryan memijit pangkal hidungnya, kepalanya terasa pening dan serasa akan meledak.


"Maka lepaskan aku dulu"ucap Zaf.


Bryan mengangguk lemah "Kau seketika berubah menjadi seorang iblis,atau itu kah kau yang sesungguhnya?"Lirih Bryan menatap Zaf.


Zaf berjalan mendekat "Kau yang memaksaku, aku tidak ada pilihan lain" terangnya kemudian melempar satu botol kecil yang dengan sigap ditangkap oleh Bryan.


"Apa maksudmu dengan dosis pertama? "tanya Bryan yang masih belum mengerti maksud ucapan Zaf.


"Saat bangun, ia tidak akan bisa mengeluarkan suaranya, dan dia akan sembuh setelah memberinya dosis kedua".


Mendengar itu Bryan menggemerutukan giginya emosinya benar-benar memuncak, Ternyata penawarnya tidak ada satu.


"Aku akan memberikan dosis kedua setelah aku sampai dirumah ku"Lancut Zaf kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut.


Setelah keluar dari kamar Luci, Zaf bergegas menuju kamarnya untuk membereskan semua barangnya, seperti maling yang takut ketahuan ia berusaha secepat mungkin beberes.


Setelah beberapa menit ia sudah selesai dan bergegas meninggalkan mansion tersebut.


Didepan pintu gerbang ternyata sudah ada sebuah mobil yang menunggu Zaf.


"Om? "ucap Zaf tak percaya,dia pikir Kenz lah yang akan menjemputnya, tapi ternyata om Rama yang ada disana.


"Hai Zaf"sapa Rama kemudian mempersilahkan Zaf untuk masuk kedalam mobil.

__ADS_1


"Kenapa Om yang menjemput Zaf? dimana Kenz? "tanya Zaf yang masih belum mengerti.


"Om yang akan membawa mu pulang ke Indonesia, "jawab Rama mengemudikan mobilnya.


Zaf menaikan sebelah alisnya karna tidak mengerti maksud ucapan pamannya tersebut.


Rama sedikit melirik ke arah Zaf "Kenz sudah pergi ke Spanyol".


Deg...


Kembali Zaf merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya.


Dia pikir Kenz akan berubah, dia pikir Kenz sudah mau menerima cintanya.


Namun ternyata pria itu kembali mengulangi kesalahan yang sama, ia kabur lagi seperti seorang pengecut.


Entah rasa apa yang kini dirasakan oleh Zaf, ia sangat ingin menangis namun air matanya bahkan tidak mau keluar.


Apa kah tubuh ini sudah mulai lelah? Entahlah, Kini Zaf hanya akan mengikuti arus hidupnya, dia tidak akan kembali menjadi gadis bodoh yang mengejar sesuatu yang memang tidak mengharapkannya.


Berpikir kembali, mungkin ini lah yang saat ini dirasa kan oleh Bryan.


Dan sepertinya ini memang adalah sebuah karma yang harus Zaf tanggung.


Sementara itu Di mansion Abram.


"Berikan ini untuk Luci"Bryan memberikan satu botol kecil obat kepada Dokter Luigi.


Luigi menerimanya, kemudian mengambil suntukan kosong untuk ia gunakan untuk memasukan obat itu kedalam tubuh Luciana.


"Sungguh gadis yang malang" Gumam Luigi melihat Luci yang masih tampak pucat. "Bagai mana bisa kau mengenal gadis monster seperti dia? "Luigi beralih pada Bryan yang sedang duduk di sofa tunggal sambil memijit pangkal hidungnya.


"Dia kemari dengan suka rela sebagai pengasuh Luci dan Pedro"Bryan menjawab namun masih dengan matanya yang terpejam.


Kepalanya masih terasa berat untuk hanya sekedar membuka matanya.


"Benarkah? kalau tujuannya adalah bekerja disini,lalu kenapa dia bisa sampai menumbalkan Luci dengan obat tersebut? "Luigi kembali bertanya.


Namun kini Bryan tak menjawab, ia justru memberi tatapan tajam kepada Luigi agar Pria itu tidak kembali membuka mulutnya untuk mengintrogasi Bryan.

__ADS_1


"Baiklah aku tidak akan bertanya lagi" Luigi mengangkat kedua tangannya sebagai tanda ia tidak akan membuka mulutnya lagi, melihat tatapan Bryan ia sudah mengerti maksud dari mata tajam tersebut.


__ADS_2