Cinta Sedingin Es

Cinta Sedingin Es
S2 eps 28


__ADS_3

"Dad, bisa urus kepindahan kuliah ku kesini? " Ucap Zaf kepada Daddynya dalam panggilan telepon.


Setelah berpikir cukup lama, memang tidak ada cara lain selain pencabutan tuntutan dari Bryan untuk bisa membebaskan ayah Kenz, jadi Zaf akan memerima persyaratan dari Bryan.


Dan langkah pertamanya adalah pindah kuliah disini agar ayahnya tidak curiga karna Zaf yang akan tinggal lebih lama disini.


"Kau sudah pikirkan itu baik-baik sayang? " Papa Rafa memastikan.


"Iya Dad, Zaf sudah melihat beberapa universitas disini, dan aku sangat tertarik... bisakah Daddy membantu?".


Terdengar helaan nafas dari ujung sana "Lalu bagai mana dengan Mommy mu? apa Mommy akan mengijinkan? " Rafa kembali ingin memastikan kesungguhan anaknya.


"Itu tugas Daddy untuk bisa bicara dengan Mommy, Zaf hanya ingin Daddy mendukung Zaf disini"ucap wanita itu.


Rafa hanya bisa menuruti keinginan putrinya, namun sepertinya ia harus memberanikan diri untuk bisa bicara dengan istrinya.


Bagai mana bisa? sedangkan Cindi sangat tidak ingin berpisah jauh dengan Zaf dalam waktu yang lama.


Ini saja Cindi sudah menekan Rafa agar menyuruh Zaf untuk segera pulang.


Apa yang akan terjadi kalau Rafa mengatakan jika putri mereka ingin kuliah disana?.


Huft, seperti nya Rafa harus bersiap-siap untuk tidur disofa malam ini.


Kembali ke Zaf.


Setelah berbicara dengan ayahnya, Zaf kemudian keluar dari kamarnya.


"Kak"panggil Pedro yang tidak sengaja melihat Zaf dari kamarnya "Kakak mau kemana? apa kakak sudah sembuh? " pertanyaan beruntun Pedro ucapkan.


"Kakak sudah lebih baik, dan ada yang ingin kakak bicarakan dengan tuan Bryan, apa dia ada di ruangannya? bisakah aku kesana? "Zaf menjawab kemudian bertanya.


"Kenapa minta izin kak? bukankah kakak adalah tunangan Daddy? jadi tentu saja kakak bebas jika ingin kemanpun kakak inginkan"ucap Pedro.


Dan Zaf baru teringat dengan kejadian sebelum ia pingsan semalam, ia terkejut karna mendengar Bryan mengumumkan bahwa dia adalah tunangan dari pria tersebut.


Zaf menepuk jidatnya sendiri, kemudian segera mengayunkan langkahnya menuju lantai tiga ke ruangan Bryan tentunya.


Tok... tok...


Zaf mengetuk pintu ruang kerja Bryan sebelum masuk kedalamnya.


Setelah mendengar sahutan dari dalam, zaf kemudian membuka pintu tersebut.


Zaf menarik nafasnya dalam-dalam"Sebenarnya status yang akan aku pakai disini adalah sebagai pengasuh atau sebagai tunanganmu? " ucap Zaf akhirnya.


Tanpa pembuka kata atau basa-basi lainnya, Zaf langsung kepada intinya.

__ADS_1


Bryan yang tadinya fokus kepada kertas laporan didepannya kemudian mengalihkan pandangannya kearah asal suara itu.


Dan itu berasal dari Zaf.


Sedetik kemudian ia berucap "Bukankah tadi malam aku sudah mengatakan,bahkan bukan hanya padamu tapi kepada semua orang yang hadir dalam pesta bahwa kau adalah tunangan ku dan calon nyonya keluarga Abram? jadi, lakukan peranmu dengan baik" ucap Bryan kemudian kembali kepada berkasnya.


"Tapi... mungkin aku bisa bertahan disini sebagai pengasuh tapi jika sebagai tuananganmu... sepertinya... "Zaf tidak bisa melanjutkan ucapannya.


"Karna kau masih ada seseorang yang kau cintai?"ucap Bryan tanpa mengalihkan matanya dari berkas dihadapannya "Kau tenang saja, aku hanya memintamu untuk berada disisiku, aku tidak meminta kau untuk menjauh dari pacarmu itu"sambungnya.


"Baiklah, kalau begitu aku terima untuk berada disisimu, jadi tolong segera cabut tuntutan terhadap tuan Daniel"ucap Zaf yakin,Ia yakin dengan ucapan pria itu karna tidak akan mungkin Bryan akan mengingkari ucapannya sendiri.


Terlihat sedikit senyum diwajah tampan Bryan, Ia sepertinya sudah merasa menang sekarang.


"Aku akan segera menghubungi pengacaraku" ucapnya.


"Tapi aku ada satu syarat lagi"Zaf berucap.


"Katakan"ucap Bryan dingin,apa lagi yang ia inginkan? batin Bryan.


"Aku belum menyelesaikan urusan sekolahku, jadi aku meminta izin kepada anda agar aku bisa tetap melanjutkan pendidikanku"


Ia cukup lega karna ternyata hanya itu syarat yang Zaf ajukan. "Selama masih ada dikota ini, aku tidak masalah"ucap Bryan.


Mendengar itu Zaf merasa bisa bernafas lega, Ia kemudian pamit untuk undur diri agar bisa menyampaikan berita baik ini kepada Kenz segera.


"Tunggu"panggil Bryan sebelum Zaf melangkah pergi.


Zaf berbalik untuk mendengar apa yang akan Bryan katakan selanjutnya.


"Semua orang tahu jika kamu adalah tunanganku, jadi jika kau ingin bertemu dengan orang itu, kuharap kau bisa ingat siapa dirimu"ucap Bryan yang seakan tak sudi menyebut nama Kenz.


Ia mengatakan itu karna ia sendiri melihat bagaimana kemesraan Zaf saat bertemu dengan Kenz tempo hari lalu, dan itu benar-benar memuakan bagi Bryan.


Zaf hanya bisa mengatakan iya agar ia bisa segera menghubungi Kenz, dan ia pun segera menuju kamarnya setelah Bryan mengijinkannya.


Zaf kemudian segera menghubungi Kenz melalui sambungan telepon.


"Zaf, kau baik-baik saja? " tiba-tiba Kenz bertanya saat ia mengangkat panggilannya.


"Aku baik Kenz, ada apa, kenapa terdengar panik? " tanya Zaf.


"Syukurlah, aku khawatir karna pagi tadi saat aku menelponmu ternyata yang mengangkatnya adalah Bryan"ucap Kenz.


"Tidak apa-apa Kenz, tadi pagi aku memang agak kurang sehat tapi sekarang aku sudah merasa lebih baik".Zaf yang tidak mungkin mengatakan kalau dia pingsan semalam.


"Baik Zaf, bisakah kita bertemu? ".

__ADS_1


"Tentu saja Kenz, ada sesuatu yang ingin aku katakan pada mu".


"Kapan kau bisa keluar dari sana? "Tanya Kenz.


"Nanti akan aku kirim kan waktu dan tempatnya".


"Baik"ucap Kenz kemudian Zaf mematikan panggilannya.


Zaf melihat kanvasnya yang berdiri disamping jendela dengan masih tertutup oleh kain putih.


Ia kemudian menghampirinya dan membuka penutup itu, Sepertinya aku tahu bagaimana cara untuk bisa keluar sebentar, gumamnya.


Zaf kemudian membawa kanvas itu menuju kamar Luciana,sedikit kerepotan karna ukuran kanvas yang besar.


Tok... tok... tok...


Bukan suara pintu yang diketuk, namun bibir Zaf yang berucap karna kedua tangannya yang tidak bisa mengetuk pintu tersebut.


Cklek... Luci membukakan pintu kamarnya, nampak terkejut saat melihat kanvas yang seakan terbang didepan wajahnya.


"Hai Luci..."Zaf mengintip dari balik kanvas tersebut.


"Kakak... ternyata kakak... ada apa? "tanya Luci yang melihat Zaf kerepotan.


"Ini lukisannya mau ditaruh dimana? "tanya Zaf.


"Oh, iya... bawa masuk kak"Luci kemudian menyingkir dari pintu untuk memberi ruang Zaf memasuki kamarnya.


Setelah meletakan lukisannya pada dinding kamar Luci, ia kemudian membuka kain penutup kanvas tersebut.


"Waaahhh... "Luci benar-benar kagum dengan lukisan Zaf yang ia berikan untuknya.


Lukisan yang sama persis seperti sketsa yang Zaf beri untuknya kemarin.


"Luci suka? "tanya Zaf.


Gadis itu mengangguk dengan senyuman yang tak pudar dari bibirnya.


"Lalu, apa yang akan Luci beri untuk kakak sebagai imbalannya? ".


"Mmm...? kakak ingin imbalan? "tanya gadis itu.


Zaf mengangguk "Tentu saja, bukankah akan sangat mahal bila membeli lukisan seperti ini? " ucapnya.


Gadis itu mengangguk, benar juga gumamnya.


"Kakak ingin apa? "tanya Luci, dengan polosnya.

__ADS_1


Zaf tersenyum memikirkan apa yang akan ia pinta.


__ADS_2