Cinta Sedingin Es

Cinta Sedingin Es
bab#52


__ADS_3

cindi pulang ke apartement rafa sekitar pukul 20:00. dilihatnya,rafa sudah pulang tidur di ranjang besarnya sambil menutup matanya dengan lengan kanan nya.


cindi yang melihatnya kemudian langsung menuju kamar mandi membersihkan diri.


usai membersihkan diri,cindi langsung menghempaskan tubuhnya disamping rafa dan memeluk pinggang rafa.


namun tidak ada respon,tadinya cindi fikir rafa hanya berpura-pura tidur, karna biasanya rafa akan langsung membalas pelukan cindi.


cindi menyingkirkan lengan rafa yang menutupi matanya,dan dilihatnya mata indah rafa yang terpejam.kemudian mengecup bibirnya sekilas tapi rafa masih tidak bergeming.


cindi merasa ada yang aneh dengan sikap rafa yang tidak menanggapinya.


baru sebentar memejamkan mata, suara dering ponsel cindi menggangu tidurnya.


dilihatnya layar ponsel yang tertera nama kevin memanggil


"hallo..."ucap cindi saat mengangkat hp nya


". . ."


"iya...tunggu sebentar, saya segera kesana"


tut...tut...tut...


setelah mematikan panggilannya, cindi menuju kamar mandi kemudian membasuh wajahnya.


ia mengganti pakaiannya kemudian pergi menuju kesuatu tempat.


rafa yang dari kepulangan cindi hanya berpura-pura tidur padahal sebenarnya ia memperhatikan semua gerak-gerik cindi,dan mengikuti gadis itu pergi.


***


dan disinilah cindi


disebuah klub malam,begitu masuk dia disambut dengan deruan musik yang memekakan telinga,


melihat keseluruh penjuru arah untuk mencari seseorang.


"mencari siapa nona?" tanya seorang bartender kepada cindi karena terlihat celingukan.


"mmm...saya mencari seseorang, karna tadi ada yang menelfon saya bahwa teman saya mabuk berat disini" jawab cindi


sang bartender terlihat sedikit berpikir "ah...apa maksud anda tuan kevin nona?" mendengar ucapan bartender itu,cindi menganggukan kepalanya "dia ada disana" bartender itu menunjuk kesebuah sofa yang ada disudut ruangan "maaf nona, tadi yang menelfon anda adalah saya,karna saat saya memeriksa ponselnya nomor pertama yang saya temukan adalah nomor anda, dan melihat nama yang tertulis disana saya pikir anda adalah kekasihnya"tutur bartender itu panjang lebar dan tentu diselingi senyuman yang membuat pemuda itu terlihat tampan.


setelah nengucapkan terimakasih,cindi menuju dimana kevin berada,


kevin tidak sadarkan diri, dan sesekali ia mengigau.


"vin"cindi menepuk-nepuk pipi kevin berniat membangunkannya.

__ADS_1


kevin terbangun,dan kembali mengigau tak jelas"ndi...i miss you so much..." oceh kevin yang membuat cindi berdecak karna kevin tiba-tiba memeluk tubuh cindi.


dan tentu lebih membuat cindi naik darah karna setelah kevin melepas kan pelukannya, kevin mencium bibir cindi secara paksa.


sontak cindi melayangkan tamparannya kepada kevin,dan membuat pemuda itu terhuyung jatuh ke sofa.


cindi hanya bisa geleng-geleng kepala.


dan setelah mendapat bantuan dari security disana,cindi berhasil memapah kevin kedalam taksi yang masih menunggu cindi di parkiran atas permintaan cindi saat tiba di klub itu.


cindi mengambil ponsel kevin yang ada disaku celananya dan menghubungi seseorang


tuut...tuut...


"hallo,vin...ada apa?" jawab seseorang disebrang sana yang tidak lain adalah agus,dia adalah seorang dosen,rekan kerja kevin


"maaf pak,ini cindi"jawab cindi


"cindi?oh...ada apa?kenapa menelfon pakai nomor kevin?"


"mmm...begini pak,sekarang pak kevin sedang sakit dan tidak menjawab saat saya menanyakan alamat nya, bisakah anda memberi tahu saya alamat pak kevin?" ucap cindi sedikit berbohong, karna tidak mungkin cindi mengatakan bahwa kevin sedang mabuk berat...bisa habis reputasinya sebagai dosen


"oh...itu...iya nanti saya kirimkan alamat nya"jawab dosen agus.


setelah mendapat alamat dari agus, cindi meberitahukan supir taksinya dan menuju alamat yang dimaksud.


dan dengan dibantu supir taksi, cindi memapah kevin di apartement nya.


setelah selesai,cindi kembali ke apartement rafa dengan taksi yang sama.


sesampainya di apartemen,cindi melihat ranjang nya kosong dimana rafa? gumam cindi.


setelah berganti pakaian,cindi merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


dan suara ponselnya membuatnya kembali terbangun.


"hallo..."suara cindi parau


"...."


"ha..."mendengar ucapan seseorang di seberang membuat mata cindi yang tadinya masih terpejam menjadi membulat sempurna


***


"nona lagi?"ucap bartender yang beberapa jam lalu ia jumpai saat menjemput kevin.


"apa kamu lagi yang tadi menelfon saya mengatakan ada seseorang yang mabuk berat disini?"tanya cindi


"astaga...pacar nona ini ada berapa sih? boleh dong daftar" goda bartender itu sambil menaik-turunkan alisnya

__ADS_1


dan hanya di tanggapi cebikan dari cindi "dia tunangan saya, dan yang tadi dosen saya" jawab cindi agar si bartender itu tidak berfikir macam-macam "dimana rafa?"


"eh...nama nya rafa?dia tunangan anda?" cindi melotot kepada bartender itu bukannya dijawab malah balik bertanya. "eh maaf...dia ada di sofa tempat nona menjemput yang katanya dosen anda itu" ucapan bartender itu membuat cindi semakin pusing hingga dia memijit pangkal hudung nya sendiri,kemudian menghampiri rafa berada.


astaga... ini seperti dejavu bagi cindi


seperti saat menjemput kevin,cindi kembali maminta bantuan kepada securuti disana dan meninggalkan bar tersebut


masih meninggalkan tanda tanya bagi sang bartender yang cindi tinggal kan tadi kalau memang hanya mahasiswi dan dosen kenapa nama di posel pria tadi tertulis my angel??? bartender itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.


***


pagi sekali cindi sudah bangun untuk membuat kan sup agar mengurangi rasa pengar pada rafa


hanya bermodal kan handphon, melalui google cindi membuatkan sup spesial untuk rafa.


saat hendak membangunkan rafa,cindi tidak menemukan lelaki itu diranjangnya.


setelah mencari,ternyara rafa sudah duduk di sofa didepan televisi.


brukh...


suara mangkuk yang cindi taruh diatas meja didepan rafa dengan sedikit menghentak.dan hanya ditanggapi dengan tatapan dingin dari rafa


cindi kesal melihat rafa yang dengan santai sedang menonton tv sambil merokok.


tunggu...merokok? sejak kapan rafa merokok?


"sejak kapan?" tanya cindi memecah keheningan setelah tadi terdengar suara gaduh dari mangkuk


rafa hanya diam menatap cindi yang terlihat semakin naik darah


"jadi mau mendiamkan aku?" kembali cindi bersuara sedikit menaikan volume nya


"dari dulu aku memang perokok... kamu saja yang tidak tahu, dan lagi,bukankah kamu memang tidak tahu apa-apa tentangku?"


deg...


ucapan rafa yang tidak seberapa itu seperti sebuah pisau belati yang menghujam jantungnya.


happy reading semua...


maap ya up ny lama terus soalnya author lagi sibuk


jan lupa jempolnya ya jan cuma buat scrooll aja tapi tekan like and paporit nya



dukung kami ya...

__ADS_1


i love you....



__ADS_2