Cinta Sedingin Es

Cinta Sedingin Es
bab#17


__ADS_3

Setelah Cindi selesai mengganti pakaiannya,dia pun keluar dengan kakinya yang bergetar karna masih merasakan sakit pada perutnya.


Rafa yang melihat itu langsung menggendong Cindi tanpa meminta izin pada sang empunya tubuh. Cindi yang salah tingkah karna roknya yang terlalu pendek menurutnya, dia khawatir kalau roknya akan tersingkap berusaha memberontak agar Rafa menurunkannya. Tapi Rafa mengabaikannya dan memeluknya semakin erat.


Sampailah mereka didepan mobil mewah yang dibawa oleh pegawai kantor Rafa.


"Buka pintu nya!"ucap Rafa menyuruh Cindi untuk membukakan pintu mobilnya.


Cindi menggeleng"Turunkan aku"


"Eh...supir...nama kamu siapa?"tanya Rafa kepada sisupir mengabaikan ucapan cindi.


"Sa...saya Bagus tuan"jawab sisupir gugup, baru pertama kali ini dia diutus oleh atasannya untum menjemput big bosnya. Merasa heran juga,ternyata bos besarnya masih anak SMA.


"Bagus...buka pintu nya"


"Baik tuan"


Baguspun segera membukakan pintu mobil untuk tuannya.Dengan pelan Rafa menurunkan Cindi untuk duduk didalam mobil tersebut.Disusul Rafa yang duduk disamping Cindi.


"Mau di antar kemana tuan?" tanya sang supir.


"Kerumah sakit" ucap Rafa. Namun dengan cepat Cindi menolaknya.


"Tidak...aku mau pulang saja"Cindi menjawab kata Rafa.


"Kalau tidak mau,kerumah Mamaku saja"


"Tidak...aku tidak mau merepotkan Mamamu"


"Kalau begitu keApartemenku saja"


"Tidak mau..!" Kini Cindi lebih menaikan intonasi suaranya. Berharap Rafa mengantarkannya pulang.


"Jadi kamu mau kerumahmu?dan jika butuh sesuatu kamu mau merepotkan Ibu tirimu?atau kamu lebih senang jika minta bantuan Ayahmu?" kata Rafa panjang kali lebar,sedangkan Cindi terdiam tidak bisa menjawab kata-kata Rafa. Sulit sekali membujuk gadis keras kepala ini.


"Aku tau seperti apa dirimu...kamu orang yang tidak ingin orang lain tau akan masalahmu. Jika kamu mau, saat ditoilet tadi ada banyak siswi yang masuk kesana dan kamu bisa saja meminta bantuan mereka,tapi itu tidak kamu lakukan dan kamu lebih memilih menahan rasa sakitmu"sambung Rafa lagi.

__ADS_1


"Aku juga tidak mengharapkan bantuan mu"ucap Cindi lirih.


"Hehh....jadi kamu mau ada di dalam toilet berapa lama?" kata Rafa sambil tersenyum miris.dan lagi-lagi Cindi hanya diam.


Rafa langsung menarik tengkuk Cindi dan menyandarkan kepala Cindi didadanya.


"Jangan menahan sakitmu sendirian...itu akan membuatku lebih sakit..."


kenapa saat aku bersama dengan Rafa hatiku merasa tenang.kata Cindi dalam hati.Cindi terdiam dan tanpa dia sadari ada setetes air matanya yang mengalir,entah itu karna pelepasan bebannya atau karna keram pada perutnya.


 


Akhirnya merekapun tiba diApartement Rafa.Begitu turun,Rafa kembali menggendong Cindi ala bridal style.


Setibanya didepan lift.


"Tekan tombolnya" perintah Rafa pada Cindi yang berada digendongannya.


Ting...


"Tekan tombol nya" perintah Rafa kembali.


Karna Cindi tidak juga menekan tombol lift Rafa melanjutkan titahnya.


"Lantai 24"ucap Rafa dan Cindi baru menekan tombolnya.


Sesampainya didepan pintu apartement, Rafa kembali menyuruh Cindi untuk menekan codepassnya.


"Cepat tekan codenya...tanganku sudah pegal"kata Rafa menahan pegal pada lengannya.


"Siapa suruh kamu menggendongku...aku bisa berjalan sendiri...berapa codenya?" jawab Cindi ketus.


"Tanggal ulang tahunmu" kata Rafa. Cindi tertegun.


"Cepat tekan!"Rafa agak menekankan kalimatnya karna Cindi malah melamun.


"Berapa tanggal ulang tahunku?" Cindi malah bertanya pada Rafa.sontak Rafa pun terkejut.

__ADS_1


"Kamu bercanda?masa ulang tahun sendiri tidak ingat?"Rafa tersenyum mengejek seakan tidak percaya apa yang dikatakan Cindi. Tapi Cindi malah menaikan pundaknya yang menandakan dia tidak tahu tanggal lahirnya sendiri.


"Aku tidak perduli dengan tanggal lahirku"kata Cindi


"Sudah lah...tekan 010199"ucap Rafa yang seakan malas berdebat karna merasa lengannya sangat pegal.


Setelah pintu terbuka Rafa langsung masuk dan menurunkan Cindi diatas ranjangnya dengan sangat pelan.


"Kamu tunggu sebentar...aku telfon dokter"kata Rafa sambil memijat lengannya karna merasa pegal.


"Tidak usah...nanti juga sembuh sendiri" ucap Cindi lirih sambil meringis menahan keram perutnya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?!"rafa menepuk jidatnya sendiri.


"Kamu keluar saja".


"Ya sudah...kamu istirahat saja..aku akan buatkan minum"lanjut Rafa kemudian keluar dari kamar dan menuju dapur.


"Ok google minuman pereda nyeri haid" ucap Rafa kepada ponsel pintarnya.


Srtelah memilih resep untuk meredakan sakit Cindi akhirnya Rafa membuatkan teh jahe untuk cindi.


"Benar tidak ya caranya?" gumam Rafa pada dirinya sendiri.


Ia pun mencoba rasa teh buatannya,dan seketika meringis merasa pedas dalam mulutnya.


"Apa aku tambah gula saja ya" lagi-lagi Rafa bicara sendiri. "Ah...madu saja" ucapnya kemudian menambahkan satu sendok madu kedalam tehnya.


Setelah dirasa cukup,Rafa membawa cangkir berisi teh jahe madu itu kedalam kamarnya.


happy reading semua...


mohon kritik dan sarannya ya


jangan lupa dilike


terimakasih♡♡♡

__ADS_1


__ADS_2