
Semalam suntuk Kenz menjaga Zaf, ia tak beranjak dari mobilnya.
Bahkan tak sedetikpun memejamkan matanya pandangannya setia melihat kearah kamar Zaf yang berada dilantai dua.
Kenz melirik pergelangan tangannya, disana jam sudah menunjukan pukul lima pagi. Sepertinya sudah saatnya Kenz untuk pergi.
Ia pun menstarter mobilnya kemudian meninggalkan mansion keluarga Mehendra tersebut.
Walau disana juga ada satpam yang menjaga tetap saja Kenz belum merasa tenang jika Zaf berada di rumah sendirian.
Sebelumnya tanpa sepengetahuan Zaf, Kenz juga menjaganya dengan cara yang sama.
Satpam Zaf mengetahui itu karna setiap Kenz kesana yang membukakan pintu gerbang adalah pak satpam.
Namun atas permintaan Kenz Satpam tersebut tidak memberitahukan itu kepada Zaf.
"Pagi tuan"sapa satpam yang membukakan pintu untuk Kenz.
Kenz mengangguk kemudian menyodorkan uang ratusan ribu sebanyak lima lembar kepada pak satpam.
Sontak saja pak satpam kegirangan merasa senang "Alhamdulillah, terima kasih tuan! " teriak pak satpam karna mobil Kenz sudah melesat jauh.
Alarm berbunyi nyaring, jam sudah menunjukan pukul tujuh.
Zaf yang baru bisa tidur jam dua dini hari tadi menggeliatkan tubuhnya merasa terusik.
Dengan malas ia melihat alarm nya kemudian mematikannya.
Hari ini ada sidang klien nya yang harus Zaf datangi, karna itu ia harus sudah bersiap jam delapan nanti.
Segera ia menyeret langkahnya menuju kamar mandi dan segera melaksanakan rutinitas mandinya.
Dan setelah rapi, Zaf pun segera berangkat menuju pengadilan dimana kliennya akan mengikuti sidang.
Namun sebelum ke pengadilan, Zaf terlebih dulu kerumah sakit untuk menemui mommynya yang dari kata daddy tadi malam sudah siuman.
"Mommy...! "seru Zaf berlari mendekat, kemudian memeluk tubuh mommy Cindi yang sedang duduk di ranjang rumah sakit.
"Kata Daddy, kamu ada sidang hari ini? " Mama Cindi bertanya setelah Zaf melepaskan pelukannya.
"Iya, Zaf mampir dulu kesini" Zaf mengangguk membenarkan."Mommy kenapa lama sekali tidurnya? " tanya Zaf manja.
Tidak apa-apa kan di usia Zaf yang sekarang ia masih bersikap manja?.
Cindi mengulas senyumnya, tampak cantik walau dengan wajah pucatnya "Maaf ya sayang, mommy terlalu lama berjuangnya" ucap Cindi lembut.
Zaf mengangguk,"Mommy tahu, bagai mana frustasinya Daddy saat Mommy belum sadar? " Zaf mengingat seperti apa frustasinya papa Rafa bahkan tidak sanggup untuk mengurus perusahaannya.
"Mommy tahu sayang, dan juga soal Zayn-" ucapan Mama Cindi terhenti saat mengingat apa yang terjadi pada putranya.
Ia sungguh tak menyangka, seorang Zayn yang jenius bisa terjatuh hanya karna sebuah obat bius.
__ADS_1
Dan lebih tidak menyangka lagi, Zayn tidak menyadari ada obat diminumannya.
"Mommy tidak perlu khawatir, Kenz sudah memiliki rencana"ucap Zaf disusul dengan senyumnya.
"Mommy tidak menyangka, Kenz banyak berubah ya? " Ucap mama Cindi membuat Zaf bertanya.
"Mommy sudah bertemu dengannya? "tanya Zaf.
"Hm"mama Cindi mengangguk "Dia sekalian berpamitan".
Zaf tersentak "Berpamitan? ".
"Ya, dia bilang akan kembali ke Spanyol pagi ini" ucapan Mama Cindi kemudian membuat Zaf terhenyak.
Ia tak percaya Kenz akan kembali meninggalkannya.
"Zaf pamit dulu mom"Zaf mencium tangan mama Cindi kemudian dengan alasan untuk segera mengikuti sidang ia pergi dari rumah sakit.
Pikiran Zaf sudah kemana-mana,ia tidak rela jiak Kenz pergi begitu saja, namun ia juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.
"Dewasalah Zaf"ucap Zaf kepada dirinya sendiri.
Kemudian melangkahkan kakinya menuju persidangan dari kliennya.
Zaf melakukan pekerjaannya dengan baik, ia bahkan berhasil memenangkan sidang yang sulit tersebut.
Tak henti mata Zaf melirik kearah jarum jam yang ada ditangannya.
"Apa Kenz sudah sampai di Spanyol? " batin Zaf. "Zaf, Dewasalah, jika memang Kenz adalah jodoh mu dia pasti akan kembali" keliamat itu seolah menjadi mantra yang selalu Zaf ucapkan dalam hatinya.
Setelah menyelesaikan sidangnya, Zaf langsung menuju kantornya.
"Dari siapa Wi? " Tanya Zaf kepada temannya yang bernama Dewi tersebut.
"Tidak tahu, tapi sepertinya ada surat didalamnya"ucap Dewi menunjuk kearah bunga mawar merah yang ada di meja kantor Zaf.
Zaf melihatnya kemudian mengambil sepucuk surat yang terselip pada bingkisan mawar tersebut.
Selamat atas kemenangan pada sidang mu Zaf.
Zaf membaca kalimat pertama, Bagai mana dia bisa tahu kalau aku memenangkan sidang nya? batin Zaf.
Karna tidak mungkin ada orang yang bisa memprediksikan masa depan bukan?
Aku pergi hanya sebentar, jangan merindukanku.
Di kalimat berikutnya, Zaf merasa orang ini memiliki rasa percaya diri yang besar.
Untuk apa aku merindukanmu! seru Zaf dalam hati.
Aku akan segera pulang.
__ADS_1
Tidak ada nama yang tertera disana, namun Zaf yakin jika itu adalah dari Kenz.
Zaf meletakan kembali bunga itu diatas mejanya, kemudian menatap kertas yang ada ditangannya.
"Ck... sudah zaman apa ini masih memakai surat untuk menyamapaikan pesan, bukankah lebih mudah menggunakan hp? " Zaf bergumam sendiri.
Walau suaranya terdengar memaki, namun air mata Zaf mengalir begitu saja tanpa bisa ditahan.
Ditahan pun percuma,karna walau bagai mana pun rasa sakit saat ditinggalkan itu tetap ada.
Zaf mengambil ponsel yang ada di tasnya, kemudian mencari kontak Kenz disana.
Ia menghubungi nomor tersebut.
Tuuuut.... tuuuut....
"Hallo"Jawab suara diseberang sana.
"Hai"ucap Zaf dengan suara bergetar.
"Sudah selesai sidang? " Kenz bertanya.
Zaf mengangguk padahal Kenz tidak bisa melihatnya "Ya".
"Kau pasti menang".
Zaf kembali mengangguk "Ya".
"Cepatlah pulang dan istirahat, kau pasti lelah dipersidangan seharian".Ucap Kenz yang seolah bisa melihat apa yang dilakukan Zaf.
Bahkan pria itu bisa tahu jika Zaf masih ada dikantornya.
"Ya".ucap Zaf lagi, seolah tidak ada kata lain yang bisa ia keluarkan dari mulutnya.
Padahal tadi dia berencana untuk memaki pria tersebut karna lagi-lagi pergi tanpa berpamitan.
"Zaf, jaga dirimu baik-baik... aku hanya sebentar disini". Suara Kenz seolah menjadi embun yang dapat menyejukan hati Zaf yang tadi seolah terbakar.
"Ke-kenapa pergi tidak berpamitan? "Kalimat Zaf terutus karna menahan sesak dalam dadanya.
"Bukankah kamu yang mengusirku semalam? ". Ucap Kenz disusul dengan tawanya.
Zaf yang tadinya sedih kini malah berubah jadi cemberut.
Jika Zaf mengingat kejadian malam tadi, mungkin Kenz datang kekamarnya memang untuk berpamitan dan karna ada sedikit drama jadi Kenz tidak sempat untuk mengatakannya.
"Baiklah kalau begitu, aku sudah tahu sekarang, jadi sampai jumpa"ucap Zaf ketus kemudian secara sepihak menutup panggilannya.
Sementara itu, disisi lain, Kenz yang baru sampai di Spanyol kini sudah langsung dihadapkan dengan sebuah rapat dikantor pusat miliknya.
"Kita mulai rapatnya" ucap Kenz dingin dan membuat semua pegawai yang mengikuti rapat tersebut bergidik ngeri.
__ADS_1
Padahal baru saja mereka baru akan bernafas lega saat bisa melihat bos mereka tertawa saat menerima telpon entah dari siapa, tapi setelah meletakan ponselnya, ia kembali menjadi bos yang menakutkan.