Cinta Sedingin Es

Cinta Sedingin Es
S2 eps 27


__ADS_3

"Pfffttt.... "Mirela menahan tawanya "Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh orang yang sedang mabuk"(dalam bahasa Inggris) ucap wanita itu membuat Kenz mengerutkan keningnya.


"Maksudmu? "(dalam bahasa inggris) tanyanya.


"Sudah ah, godain kamu memang menyenangkan, tapi aku harus segera pergi" (Dalam bahasa Inggris) Mirela beranjak akan menuju kamar mandi.


"Tunggu dulu, jadi maksud kamu, tidak terjadi apa-apa kan? "(dalam bahasa Inggris) Kenz memastikan dengan mencekal lengan wanita itu.


Mirela melepaskan tangan Kenz yang ada dilengannya kemudian berkata "Tidak terjadi apa-apa, atau kamu memang ingin sesuatu benar-benar terjadi? "(dalam bahasa Inggris) Mirela menaikan alisnya mencoba ingin merayu Kenz.


Mendengar itu, Kenz kemudian langsung melepas tangannya"Oke silahkan"(dalam bahasa Inggris) Kenz mempersilahkan Mirela untuk melanjutkan perjalannya menuju kamar mandi.


Sementara wanita itu ada dikamar mandi, Kenz kemudian segera mencari keberadaan ponselnya.


Ia mencari kemana-mana namun tidak menemukannya, Kenz kemudian melihat jaketnya yang tersampir ditepi ranjang dan segera mengambilnya.


Dapat, ia mendapatkan ponselnya berada dikantong jaketnya.


Membuka ponselnya kemudian mencari satu nama yang selalu ada dipikirannya,Zaf.


Panggilan terhubung, dan panggilan terjawab.


"Halo Zaf, bisa kita bertemu? ada sesuatu yang ingin ku bicarakan, terutama tentang bagai mana cara mu untuk pergi dari sana" ucap Kenz, tak ada sahutan dari seberang membuat Kenz bertanya "Zaf, kau disana kan? "tanyanya memastikan.


"Zaf sedang tidak bisa diganggu" Suara bariton itu membuat Kenz terkejut, ternyata bukan Zaf yang mengangkat panggilannya


Lalu, jika bukan Zaf dimana Zaf sekarang? apa dia dalam bahaya? pikiran Kenz benar-benar berkecamuk.


"Dimana Zaf"Tanya Kenz dengan suara dingin.


Tak ada sahutan kembali, dan tak lama kemudian panggilan itu terputus.


Kenz semakin bingung, apa yang harus ia lakukan? haruskah ia menelpon ayah Zaf untuk meminta bantuan?.


Di tempat lain...


"Siapa yang menelpon Dad? " Suara Luci mempertanyakan setelah ayahnya mengangkat panggilan dari ponsel milik Zaf.


Bryan menaikan bahunya sebagai jawaban ia tidak tahu kepada putrinya "Mungkin dari temannya kakak"jawabnya kemudian.


Gadis itu kemudian beralih kepada Zaf yang masih terlelap "Kapan kakak akan bangun? " cicit gadis itu.


"Sebaiknya kau jangan mengganggunya,kakak akan terbangun dengan suaramu itu! " Kini Pedro yang bersuara.


Mendengar ucapan Pedro,Luci dengan spontan menutup mulutnya sendiri, takut jika suaranya akan membangunkan Zaf.


Kini mereka bertiga sudah berada dikamar Zaf, Luci duduk diranjang dimana Zaf sedang tidur, Pedro duduk disofa tunggal kamar tersebut sedangkan Bryan berdiri disamping Luci sambil membawa ponsel milik Zaf.

__ADS_1


"Dad, kalau diperhatikan kak Zaf mirip seperti snow white ya atau princess Aurora? mmm... keduanya tertidur dan hanya pangeranlah yang bisa membuatnya terbangun. "Luci berucap dengan berusaha memelankan suaranya "Apakah jika Daddy menciumnya, kakak juga akan bangun dari tidurnya? "Sambung gadis itu.


Ingin sekali Bryan tertawa mendengar penuturan gadis itu, namun sebisa mungkin ia menahannya.


Ya,wajah Zaf memang terlihat begitu tenang,cantik bahkan hanya dengan mata terpejam.


Terlihat Zaf menggeliatkan tubuhnya, dan perlahan ia membuka matanya.


Tampak sedikit terkejut saat melihat tiga orang itu mengerumuninya.


"A-ada apa? " Tanya Zaf menaikkan selimutnya sampai batas dada.


"Kakak sudah bangun? "Luci yang bersuara "Apa ada sesuatu yang tidak enak pada diri kakak?"Tanya gadis itu.


Zaf menggeleng "Aku baik-baik saja,ada apa? " Zaf bertanya.


"Yang Luci tahu, jika ada adik kecil diperut seseorang,dia akan merasa tidak enak badan" Duarrrr....


Bagaikan tersengat listrik, jantung Zaf menjadi berdetak lebih cepat.


Apa maksud dari ucapan Luci?.


Sontak Bryan langsung membekap mulut gadis itu agar tidak melanjutkan ucapannya.


Dan aksi Bryan itu justru membuat Zaf menjadi semakin curiga.


"Apa kak Adelia mengatakan sesuatu tentang diagnosa ku? " tanya Zaf pada Bryan.


"Kalian keluar dulu ya, Daddy ingin bicara dulu dengan kakak" Bryan meminta agar kedua anaknya itu meninggalkan mereka berdua.


Luci pun segera turun dari ranjang, dan bersama Pedro ia keluar dari kamar tersebut.


Tangan Zaf sedikit bergetar, apakah yang Luci ucapkan itu benar?apakah mungkin dia hamil?.


Tapi, apakah akan langsung ketahuan jika memang dia hamil? bukankah baru beberapa hari kemarin ia melakukan itu dengan Kenz?.


Apa Luci hanya bergurau?.


"Baru saja ada yang menelponmu, dan aku yang mengangkatnya"Bryan menyerahkan ponsel Zaf kepada wanita itu.


Zaf menerimanya, tapi bukan itu yang ingin ia dengar.


Tapi ia kemudian membuka ponselnya, dan dari riwayat panggilan, tertera nama Kenz disana.


"Apa yang dia katakan di telpon? "tanya Zaf.


Bryan kemudian duduk di sofa tempat dimana Pedro tadi duduki.

__ADS_1


"Dia ingin bertemu denganmu"Ucapnya kemudian.


Zaf diam kemudian mengambil nafasnya dalam-dalam.


"Lalu, apa maksud dari ucapan Luci tadi? " Zaf beralih pada pertanyaan sebelumnya.


Bryan menaikkan bahunya "Tidak tau, mungkin dia pikir kau sedang hamil"Ucap Bryan asal.


Namun ucapan Bryan itu tak dianggap asal oleh Zaf.


Dia tahu apa yang sudah ia lakukan dengan Kenz adalah suatu kesalahan, tapi dia sendiri yang menghibur Kenz saat pria tersebut merasa bersalah setelah menyentuhnya dengan berkata bahwa dia tidak menyesal.


Dan bila memang nantinya akan ada benih yang tumbuh dirahimnya,itu juga tidak akan menjadi masalah bagi dirinya.


Namun yang Zaf bingung adalah, bagaimana cara ia menjelaskannya kepada ayah dan ibunya jika ia memang benar hamil.


Zaf menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran yang tidak-tidak dari sana.


"Aku bisa mencabut semua tuntutanku teehadap Daniel Movic"Tiba-tiba Bryan bersuara.


"Maksudmu? "Zaf memastikan.


"Ya, aku tahu tujuanmu kesini adalah untuk mencari bukti ketidakbersalahan Daniel, tapi sayang sekali, dia memang benar bersalah, tapi aku bisa mencabut laporanku dan memberi dia kebebasan"Ucap Bryan.


"Apa syaratmu? " Sorot mata tajam Zaf menatap kearah Kenz.


"Jangan memberikan tatapan seperti itu kepada orang lain Zaf,itu akan berbahaya untuk mu"Bryan memberikan peringatan.


Terlihat kerutan pada dahi wanita tersebut "Apa syarat yang kau inginkan?"Ulangnya.


"Sepertinya kau tertarik dengan penawaranku" Bryan beranjak kemudian berjalan mendekati Zaf "Tetaplah disisiku, maka aku akan menjamin kebebasan ayah dari laki-laki itu" ucap Bryan dengan suara pelan namun penuh intimidasi.


"Maksudmu, aku harus tetap disini? "Zaf bertanya.


Bryan mengangguk.


"Sampai kapan? "ia bertanya lagi.


"Tentu saja selamanya"Jawab Bryan.


"Kau-"Zaf menghentikan ucapannya.


"Aku meminta mu disini bukan karna aku menyukaimu, tapi karna anak-anak yang tak ingin berpisah dari mu"Bryan menegaskan.


Aku tahu latar belakangmu, aku tidak mungkin bisa menahanmu disini atas kehendakku sendiri, namun jika itu atas kemauan mu maka orang tua mu pun tidak akan bisa berbuat apapun.


"Pikirkan itu baik-baik"Ucap Bryan kemudian pergi dari kamar Zaf,meninggalkan wanita itu agar bisa berpikir.

__ADS_1


__ADS_2