
rafa:
dimana?
cindi:
masih dikampus
rafa:
aku jemput
cindi:
tidak usah,sepertinya aku akan pulang terlambat ada tambahan pelajaran untuk mengejar ketertinggalanku saat cuti.
sebelah alis rafa terangkat, karna membaca chat gadisnya.merasa heran, karna rafa tahu betul bahwa cindi pasti bisa menyelesaikan urusan kampusnya dengan bantuan rafa.
ya,karna jurusan cindi adalah bisnis ekonomi,tentu rafa bisa membantunya karna selain rafa jenius dia juga seorang pembisnis.tentu tau semua teori dalam berbisnis.
tapi kenapa cindi tidak meminta bantuannya?
jam menunjukan pukul 21:00 dan belum ada tanda-tanda kepulangan cindi.
rafa merasa semakin gusar karna cindi tidak menjawab telfonnya.
15 menit kemudian,terdengar suara pintu yang terbuka,rafa langsung berhambur menuju pintu apartemennya.
entahlah seharian terasa sangat lama baginya karna tidak bertemu cindi, berlebihan memang tapi ya itulah yang rafa rasakan.
setelah melihat cindi masuk, tanpa aba-aba rafa langsung memeluk cindi,seakan sudah bertahun tidak bertemu.
semakin cindi berusaha melepas,semakin erat pula pelukannya.akhirnya dia menyerah dan membalas pelukan rafa.
"kenapa?" tanya cindi yang merasa aneh dengan sikap rafa.
bukannya menjawab,rafa malah menggelengkan kepalanya ditengkuk cindi.
setelah membersihkan tubuhnya,cindi menuju ruang makan dan mereka makan malam bersama.
"sepertinya beberapa hari kedepan aku akan sangat sibuk"ucap rafa disela makannya
"hmm?"cindi mengangkat wajahnya memandang rafa sejenak kemudian kembali pada makanan didepanya "tidak apa,sepertinya aku juga sedikit sibuk dengan mengejar materi yang tertinggal"
__ADS_1
"maaf aku tidak bisa membantumu" rafa mengelus pipi cindi lembut,dan ditanggapi senyuman manis oleh cindi.
melihat cindi tersenyum,seakan merayunya,sehingga tangan yang tadinya berada di pipi cindi ia turunkan ke tengkuk kemudian menariknya dan ******* bibir tipis cindi dengan lembut yang dibalas dengan kelembutan dari cindi.
***
beberapa hari kemudian,
karna kesibukan masing-masing, rafa yang disibukan dengan proyek pembangunan kantor barunya, sedangkan cindi sibuk dengan mengejar materi dengan bimbingan dari dosen yang tidak lain adalah mantan pacarnya sendiri.
mereka berdua jadi jarang bertemu, rafa yang selalu pulang malam dan berangkat lebih pagi bahkan ia berangkat sebelum cindi bangun.
seperti pagi ini, rafa sudah bersiap tapi cindi masih terlelap dalam mimpinya.
rafa mendekati cindi yang sedang tertidur,memperhatikan wajah polos gadisnya yang begitu menggemaskan, dia mendarat kan bibirnya pada kening cindi, dan membuat cindi terbangun.
"sudah mau berangkat?"suara cindi serak khas suara bangun tidur,
rafa duduk disebelah cindi yang baru saja duduk sambil mengumpulkan nyawanya"jika masih mengantuk, tidur saja...kuliahmu siangkan?" tanya rafa membelai kepala cindi lembut.
cindi hanya mengangguk,kemudian beringsut lagi dan ingin kembali menjelajahi mimpinya.
rafa hanya tersenyum melihat tingkah cindi,mungkin cindi merasa tidak enak karna setiap rafa berangkat dia pasti belum bangun,dan tidak bisa menyambut rafa saat dia pulang ke apartement,rafa beranjak dari ranjangnya kemudian berangkat menuju kantor.
***
antara ingin mengetuk pintu atau tidak, cindi bingung karna beberapa hari kemarin setiap kali cindi akan memasuki ruangan itu, dia pasti mendapati kevin sedang bermesraan dengan seorang gadis.
dan yang lebih mencengangkan lagi, setiap cindi kesana,gadis yang keluar itu bukan gadis yang sama.
sungguh apa yang sedang dilakukan kevin dengan para gadis itu...setiap hari gadis yang berbeda,apa dulu saat dia keluar negeri yang dia lakukan hanyalah berkencan?huft... cindi hanya bisa geleng kepala.
pintu tiba-tiba terbuka tepat saat cindi memegang handle pintu.sontak cindi kaget karna kevin berdiri didepanya.
"hari ini kita cari suasana baru..."ucap kevin"bosan juga belajar di dalam sana" kevin melangkahkan kakinya dan diikuti cindi dari belakang.
tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut masing-masing.
dan sampailah mereka berdua disebuah kafe.
"pesanlah sesuatu" ucap kevin memecah keheningan,karna pelayan sudah mendatangi meja mereka dan bertanya pesanan,sedangkan cindi tidak memesan apapun.
cindi melihat pelayan wanita yang berdiri disampingnya"orange jus aja"ucap cindi tidak lupa dengan senyum diwajahnya.
__ADS_1
"kenapa tiba-tiba kesini?" cindi beralih pada kevin yang duduk didepannya. setelah memastikan sang pelayan melenggang pergi.
"sekalian makan siang"ucap kevin santai.
cindi melihat jam tangannya yang bertengger manis di angan kanannya, melihat waktu sudah menunjukan pukul 15:10 dan laki-laki dihadapannya bilang makan siang??.
tidak mengkerut tu lambung? lirih cindi dalam hati.
entahlah apa yang ingin dilakukan kevin tapi itu sukses membuat cindi kesal.
pasalnya setiap kali cindi membahas tentang meteri,kevin selalu punya alasan untuk mengulur waktu.
hingga hampir 2 jam mereka duduk disana tidak juga membahas materi dan sontak membuat cindi naik darah.
"kalau memang nggak niat buat ngajar harusnya bilang kek dari tadi...jadi nggak buang-buang waktu aku disini!" sungut cindi beranjak dari kursinya.
namun lengannya ditahan oleh kevin "aku cuma pengen quality time sama kamu ndi" lirih kevin menundukan wajahnya.
niat awal kevin kekafe memang tidak untuk belajar,melainkan ingin berkencan secara tidak langsung dengan cindi.
cindi menghela nafasnya berat "vin... kamu salah mengajakku kesini" ucap cindi melepas tangan kevin yang masih memegang lengannya. sekarang cindi mengerti maksud kevin,
cindi mengangkat tangan kirinya dan memperlihatkan jarinya,memperlihatkan sebuah cincin cantik dijari manisnya "aku sudah bertunangan dengan rafa"ucap cindi membuat raut wajah kevin berubah menjadi gusar.
kevin yang sering berganti-ganti pacar secara terang-terangan dihadapan cindi, bahkan bercinta ketika cindi akan datang keruangannya,itu hanya ingin membuat cindi cemburu, tapi yang ia terima kini justru tidak seperti yang ia harapkan, malah ia merasa tersulut dengan pernyataan cindi.
"sudah cukup,hentikan permainanmu vin... akan banyak gadis yang kau sakiti, karna yang ku tahu,kevin yang kukenal tidaklah seperti itu"tutur cindi lembut,membuat kevin memandangnya dalam.
sungguh...hatinya tidak bisa terima apa yang cindi katakan.dalam hati kevin hanya ada cindi dan tidak bisa digantikan dengan orang lain.
hati kevin terasa perih, seperti luka yang tersiram oleh air garam. dia tidak rela sama sekali jika cindi dimiliki orang lain.
kevin mengusap wajahnya yang gusar, dia mulai mencoba menetralkan hatinya.
"boleh saya meminta sebuah pelukan perpisahan?"ucap kevin dengan senyum yang dibuat-buat menutupi rasa sakit hatinya.
kemudian cindi beranjak dan memeluk kevin yang masih duduk di kursinya sambil mengelus punggung kevin dengan lembut.
happy reading semua....
jan lupa jempolnya yah....
__ADS_1