
cindi masih dalam posisi yang sama,kedua tangannya masih terkunci diatas kepalanya oleh genggaman rafa, mencoba berontak tapi tidak bisa.
melihat tatapan rafa sungguh membuat cindi terbungkam seribu bahasa.tatapan tajam yang menusuk.
rafa yang semakin mendekatkan wajahnya serta menindih tubuh cindi semakin dalam,membuat nafas cindi semakin tercekat dan nafas rafa yang semakin memburu juga semakin membuat cindi takut hingga menutup matanya seraya mengucap kan do'a-do'a agar setan tidak membisiki rafa melakukan hal yang akan membuat mereka menyesal.
cindi semakin mengeratkan matanya yang terpejam, dia semakin bisa merasakan deru nafas rafa yang mengenai wajahnya,bau alkohol yang menyengat pun semakin menusuk hidung.
entah apa yang difikirkan rafa, cindi ingin membuka matanya tapi tidak berani.
"sekarang kamu bahkan tidak ingin melihat wajahku" ucapan rafa sontak membuat cindi membuka mata nya dengan lebar,karna sekarang rafa benar-benar berada begitu dekat dengannya. jantung cindi yang berdetak tidak karuan dari tadi mungkin bisa dirasakan oleh rafa.
"a...aku bisa jelaskan" ucap cindi gugup.
brugh...
tiba-tiba nafas cindi semakin sesak karna rafa menindihnya.
cindi diam tidak berani bergerak dan bicara.kenapa rafa diam saja? cindi yang merasa tangannya sudah terlepas oleh genggaman rafa, kemudian menusuk-nusuk pinggang rafa dengan jari telunjuknya.
"raf...rafa...aku bisa mati karna tidak bisa bernafas" cindi masih menusuk-nusuk pinggang rafa tapi tetap tidak ada respon.dan malah terdengar suara dengkuran pelan dari rafa.
rafa tertidur...
huft...syukurlah...
dengan susah payah cindi membalikan tubuh rafa agar menyingkir dari tubuhnya.
setelah rafa terbaring disampingnya, cindi kemudian langsung berlari menuju sofa,agar jika rafa tiba-tiba bangun tidak akan langsung menyerangnya.
suasana yang begitu hening membuat cindi merasa tertekan,akhirnya cindi menyalakan tv yang menempel pada dinding didepannya.
jam sudah menunjukan pukul 10 malam, perut cindi sudah keroncongan dari tadi, dia melewatkan waktu makan malam karna pintu apartemen rafa terkunci. dan cindi tidak tau code passnya. dulu cede passnya adalah tanggal ulang tahun cindi, sama dengan apartement rafa yang ada dikota A.tapi tadi saat cindi mencoba menekan tanggal ulang tahunnya, ternyata codenya sudah diganti.
__ADS_1
makin lemaslah cindi karna tidak ada asupan makanan dari tadi siang, dia juga sudah membuka kulkas tapi isinya cuma air mineral.oh ya tuhan apa ini hukuman karna aku menggunakan uang orang tanpa izin? dulu waktu kabur dari rumah saja aku tidak pernah kelaparan, ini aku punya uang banyak eh,uang rafa tepatnya malah nggak bisa makan.jerit cindi dalam hati.
oh iya...waktu itu aku menyimpannya disalah satu lemari didapur kira-kira masih tidak ya...cindi berlari menuju dapur,kemudian membuka pintu lemari diatas washtafel oh....ternyata masih ada begitu senangnya cindi saat menemukan dua bungkus mie instan yang ia simpan dulu saat rafa mempekerjakan dirinya menjadi pembantunya.
"kenapa tidak ingat dari tadi sih...tau begitu perutku tidak akan sesakit ini... perut maaf ya..."cindi bergumam sendiri sambil mengelus perutnya yang keroncongan.kemudian merebus air untu ia gunakan untuk merebus mienya.
cukup 3 menit mie instan buatan cindi sudah siap, kini ia meletakan mangkuk yang berisi mienya itu dimeja makan kemudian siap menyantapnya.
sendok dan garpunya sudah akan ia tancap kan, tapi tiba-tiba sebuah tangan menarik mangkok itu menjauh darinya.
cindi yang kaget langsung melihat siapa pemilik tangan yang sudah mengganggu makanannya.
dan dilihatnya rafa sudah duduk disampingnya dengan mangkuk mie milik cindi didepannya.
cindi meringis menunjukan deretan gigi putihnya."kamu mau?tunggu sebentar aku buatin ya?" cindi berdiri untuk membuatkan semangkuk mie untuk rafa.
tapi tangannya dicekal oleh rafa.rafa menarik cindi hingga dia terjatuh dipangkuan cindi.
"a...aku"ucap cindi terbata sambil memegangi tengkuknya yang terasa merinding karna rafa meniupnya.
"jelaskan sambil makan miemu"rafa memutar tubuh cindi dipangkuannya sehingga menghadap kemeja.
"mana bisa aku makan dengan posisi begini!"ucap cindi memberontak berusaha berdiri untuk duduk dikursi lain, tapi tentu saja ia tidak bisa karna pinggangnya sudah ditahan oleh rafa dengan kedua tangannya yang mengunci.
rafa hanya diam dan memperhatikan cindi dari belakang,walau dia ada dibelakang cindi,cindi bisa merasakan tatapan mengintimidasi dari rafa yang ada dibelakangnya.
"maaf aku menggunakan uangmu tanpa izin darimu,apa lagi menggunakannya untuk hal yang tidak perlu"cindi mencoba memecah keheningan.
sebenarnya bukan masalah bagi rafa jika cindi mempergunakan uang nya,dia harus berterimakasih karna dengan cindi mencairkan uangnya,rafa bisa mengetahui dimana cindi berada.
"mmm...kamu mau?" tawar cindi kepada rafa,karna merasa tidak enak dipandang seperti itu.
dan hanya ditanggapi gelengan kepala oleh pria dibelakangnya.rafa menyibakan rambut cindi yang tergerai sehingga terlihat leher jenjangnya.kemudian mengecupnya dan menghisapnya kuat hingga terlihat tanda merah pada bekas kecupannya.
__ADS_1
cindi menggeliat karna merasa geli serta sakit secara bersamaan.dia yang tadinya sudah akan memasukan mi kemulutnya langsung menjatuhkan garpu itu kembali kemangkuknya.kemudian membungkukan tubuhnya untuk menjauhkan lehernya dari rafa.
rafa yang melihatnya akhirnya bisa menarik sedikit ujung bibirnya.setelah keresahannya sedikit menghilang."habiskan makananmu" ucap rafa.
dan karna cindi sangat lapar,dia langsung menghabiskan makanannya, mungkin jika sudah habis,dia akan membiarkan kuturun ucap cindi dalam hati.
"sekarang jelaskan" perintah rafa setelah memastikan mangkuk didepan cindi kosong.tapi masih tidak membiarkan cindi beranjak dari pangkuannya.
rafa masih melingkarkan lengannya pada pinggang cindi.
"dulu saat aku bekerja jadi 'tour guide' di prambanan pernah ada dangdut dan aku lihat banya yang nyawer...aku jadi pengen tapi waktu itu aku nggak ada duwit" cindi menundukan kepalanya semakin dalam, takut jika rafa akan lebih marah " mmm... ternyata asyik juga...jika ada waktu kita nonton dan kamu bisa mencobanya sendiri" cindi masih mencoba memecah keheniangan.
rafa kembali menyingkap rambut cindi,dan kembali mendaratkan bibirnya,tapi kali ini ia mendaratkan dipundak cindi.dan bukan hanya hisapan lagi, melainkan gigitan yang sontak membuat cindi meringis dan terlonjak berdiri.
namun rafa kembali menarik pinggang cindi untuk duduk kembali kepangkuannya.
"bukan masalah itu"ucap rafa dari balik punggung cindi.
"ma...maksudmu" ucap cindi terbata,tidak mungkin cindi tidak tahu maksud rafa, tentu masalah kepergiannya dari acara makan malam keluarganya yang akan membahas tentang pernikahan mereka.
"masih tidak mengerti?" kembali rafa menyibak rambut cindi,dan saat rafa akan mendaratkan bibirnya, cindi menundukan punggungnya agar sedikit menjauh dari rafa
"mmm....akukan sudah bilang... kita masih sangat muda dan" ucapan cindi terhenti sejenak"dan soal pernikahan a-aku masih belum siap"cindi memejamkan matanya erat karna merasa perih pada pundak sebelahnya,ya, rafa menggigitnya lagi dipundak sebelah.
"jawabanmu tidak membuat senang" rafa menyingkirkan cindi dari pangkuannya dengan berdiri dan meninggalkan cindi yang terdiam disana.
rafa menuju ranjangnya,kemudian merebahkan tubuhnya keatas ranjang "tidak mau tidur?" ucap rafa yang masih melihat cindi mematung.
cindi yang tadinya takut dengan amarah dari mata rafa,kemudian menyeret kakinya pelan menuju ranjang dimana rafa berada.dan merebahkan tubuhnya disamping rafa yang sudah memejamkan matanya.
rafa menarik tubuh cindi lebih dekat dan memeluknya.mengantarkan cindi dalam mimpi indah malam ini.
selalu begini...
__ADS_1