Cinta Sedingin Es

Cinta Sedingin Es
extrapart9


__ADS_3

"Sepertinya kita batalkan saja pernikahan ini" ucap Elfa saat Rekha baru saja menginjakan kakinya disebuah ruangan yang penuh dengan berbagai macam pakaian.


Ya,kini mereka ada jadwal fitting baju pengantin, namun seperti biasa, Rekha selalu terlambat.


"Jangan seperti itu dong sayang" rayu lelaki itu kemudian mendekati Elfa yang berdiri didepannya sedang mamakai baju pengantin dengan posisi memunggunginya. Lelaki itu mengecup pundak Elfa yang terbuka. Kemudian tersenyum melihat pantulan gadis didepannya dari cermin yang terlihat begitu cantik."kau cantik,"ucapnya kemudian.


Elfa mendorong wajah Kevin agar menjauh darinya. "Kau tau? tingkahmu yang seperti ini membuat seolah-olah hanya aku yang ngebet ingin cepat-cepat menikah!" serunya kemudian.


"sssttt...jangan seperti itu,kau tau kan aku belakangan ini sangat sibuk" Rekha menjelaskan.


Senyum miring tercetak dibibir gadis itu. Tentu saja dia tahu bagaimana Rekha terlambat karna saat akan ke boutique ini, ia tadi terlebih dulu mampir di studio Rekha, berniat mengajak Rekha keBoutique bersama namun saat diparkiran,ia melihat Rekha sedang masuk kedalam mobilnya bersama seorang wanita, membuat Elfa mengurungkan niatnya,kemudian langsung menuju tempat ia fitting bajusendiri."maksudmu sibuk dengan wanitamu?" sindirnya.


"eh...kenapa bilang seperti itu?" Rekha berkacak pinggang,berdiri dibelakang Elfa. Seolah tak terima dengan penuturan Elfa.


Elfa memutar tubuhnya hingga mereka saling berhadapan. "Berhenti bermain-main dengan para wanitamu itu" kemudian menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya.


Rekha tersenyum hambar "aku akan berhenti jika kamu juga berjanji untuk berhenti" ucapnya kemudian.


Elfa merengut,tanda tak mengerti maksud dari ucapan Rekha. " berhenti memikirkan Rafa, apa kau bisa" ucapan Rekha selanjutnya membuat Elfa kemudian mengerti.


Elfa menghela nafas lelahnya " seharusnya kamu membantuku untuk melakukannya, bukan malah melakukan hal-hal yang membuatku semakin sakit"


Rekha tersenyum manis kemudian " jadi, itu artinya kamu bersedia melepaskannya?"


"aku sudah melepaskannya saat dia menikah dengan Cindi, aku tau ia menyayangiku namun tidak mencintaiku" lirihnya.


Rekha memeluk tubuh Elfa yang lebih kecil dari nya"kita mulai dari awal?" tanyanya kemudian,dan dijawab anggukan oleh Elfa. "aku akan menjadi suami terbaikmu" ucapnya kemudian kembali mengecup pundak Elfa yang telanjang.


"pergi sana...coba pakaianmu" usir Elfa berusaha melepaskan pelukannya.


Namun bukan Rekha namanya kalau semudah itu menurut, dia malah semakin mengeratkan pelukannya.


"kau tau? aku merasa senang jika kamu seperti ini" ucap Rekha.


"maksudmu?" tanya Elfa yang masih dibekab oleh Rekha.

__ADS_1


"kamu seperti kucing liar yang susah sekali disentuh" ucapnya kemudian melepaskan Elfa dan berbalik menuju ruang gantinya.


Elfa hanya diam memandang punggung pria itu yang semakin menjauh,yang kemudian menghilang dibalik tirai.dan ia tersenyum.


***


"pagi nyonya" sapa seorang resepsionist saat Cindi masuk kedalam sebuah perusahaan berlabel RC group.


Cindi mengangguk menjawab sapaan dari seorang wanita cantik disana,kemudian berlalu menuju lift khusus para petinggi perusahaan.


"Jadi dia istri dari bos besar?" tanya seorang resepsionist dengan name tag Farida itu.


"hm" seorang temannya yang menyapa cindi tadi mengangguk.


"Satu kata untuk nyonya RC group" ucap Farida


Temannya kemudian menoleh "apa itu?" tanya wanita bernama Sania itu.


"Cantik" Farida dengan senyumanya "pantas saja tidak pernah denger berita si bos selingkuh dengan sekertarisnya"


"Ya abis...sekertaris pak Rafa kan cantik, apalagi bu Raisa yang baru masuk itu... baru jadi sekertaris satu minggu aja gaya nya udah kayak nyonya bos disini, pada hal yang nyonya bos aja santai gitu" Farida mengelus pipinya sendiri yang ditoyor oleh seniornya tadi.


"Tapi menurut kamu, cantikan bu Raisa apa bu Cindi?" tanya Sania kemudian.


"ya cantikan bu Cindi kemana-mana lah... kalo Raisa,cantiknya kan karna make up nya aja yang tebelnya ngalahin tembok ini perusahaan, beda sama bu Cindi, cantiknya alami" ucapnya kemudian.


Cindi sudah tiba dilantai dimana ruang kerja suaminya bekerja,tidak ada yang berubah dari tempat itu,kecuali seorang wanita yang duduk dibalik kursi sekertaris yang berada didepan ruangan Rafa.


Cindi berjalan mendekat, dan wanita dibalik meja itu kemudian berdiri. "maaf nona, ada keperluan apa?" tanya wanita dengan nama Raisa didada kanan atasnya.


Cindi berhenti kemudian melihat kearah wanita itu "Rafa sedang sibuk?" tanyanya kemudian.


"tuan Rafa sedang ada tamu,dan beliau berpesan agar tidak ada yang diperbolehkan masuk" jelas Raisa.


Siapa wanita ini sebenarnya,kenapa memanggil tuan hanya Rafa saja?. batin Raisa.

__ADS_1


Cindi mengernyit, kemudian melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan panggilan dari Raisa yang mengikutinya.


"Kau sibuk?" tanya Cindi saat ia berhasil membuka pintu ruangan itu.


"Maaf tuan, nona ini memaksa masuk" serobot Raisa.


Rafa yang tadinya duduk diatas kursi kebesaranya kemudian beranjak dan berjalan menuju Cindi yang masih diam didepan pintunya.


Ia meraih tangan Cindi "tidak apa-apa,dia istri saya" ucapnya tertuju pada Raisa kemudian menarik Cindi masuk kedalam.


Sedangkan Raisa masih mematung ditempatnya karna masih merasa syok dengan apa yang ia lakukan tadi. Hampir saja dia mengusir nyonya muda nya.


"kau datang?" ucap Rafa masih menarik tangan Cindi. Namun bukannya membawanya duduk disofa, Rafa malah membawanya menuju kursi kebesarannya. Cindi mengernyit namun kemuduan faham maksud Rafa, karna di sofa ada seseorang yang tengah duduk disana.


Rafa mendudukan Cindi dikursi putarnya,sedangkan ia duduk diatas meja disamping Cindi.


"ada apa sayang? tumben datang?" ucapnya mengusap pipi Cindi.


"eghm...!" belum sempat Cindi menjawab, deheman dari arah sofa mengalihkan perhatian mereka. "jadi ini kakak ipar?" ucap seorang pemuda yang duduk disofa itu kemudian berdiri menuju meja kerja Rafa.


Rafa melihat pemuda itu berjalan mendekatinya, "dia Rama" ucapnya kemudian.


Cindi melihat pemuda yang bernama Rama itu sekilas kemudian beralih pada Rafa yang masih duduk diatas meja didepannya.


"sudah waktunya makan siang,aku kesini mau mengajakmu makan bersama" ucap cindi kemudian.


Rama mengernyitkan keningnya, merasa tidak dianggap oleh wanita didepannya ini.Padahal dia sudah berdiri didepan meja Rafa,berniat untuk berkenalan dengan kakak iparnya yang baru bisa ia temui.


"ya sudah,tunggu apa lagi, ayo kita berangkat" ajak Rafa kemudian menggandeng tangan Cindi.


"Tunggu dulu...jadi bagamana dengan ku?" serobot Rama yang merasa tidak terima karna tidak dianggap.


"terserah, kamu mau tunggu disini apa pulang terserah saja" Rafa tak menghiraukan adiknya.


"hei...sudah tiga tahun baru bisa bertemu, begini kamu menyambutku?!" seru Rama jengkel setelah Rafa dan Cindi sudah membuka pintu.

__ADS_1


"sial...!" Rama yang kesal menendang kaki meja namun meringis karna merasa sakit pada kakinya sendiri.


__ADS_2