Cinta Sedingin Es

Cinta Sedingin Es
S2 eps 33


__ADS_3

Zaf pergi kekampusnya dan benar saja ada beberapa orang yang terus mengikutinya.


Dia akhirnya menuju ke toilet wanita atas perintah dari seorang wanita yang menemuinya.


Tapi sebelum nya ia sudah memastikan orang suruhannya Bryan tidak mengikutinya sampai kedalam.


Wanita yang Zaf temui itu adalah orang suruhan Kenz.


Saat berada di dalam toilet, ada seorang wanita lain yang menemui Zaf, ia memberikan sesuatu kepada Zaf tanpa mengatakan apapun.


Zaf yang mengerti kemudian membawa secarik kertas kedalam bilik toilet.


Ia membukanya dan didalamnya ada tulisan yang ditulis oleh Kenz.


Setelah membacanya, Zaf kemudian membuang kertas itu kedalam toilet lalu memasukan sesuatu kedalam kantung celananya.


"Semoga saja aku bisa melakukannya"batin Zaf kemudian kembali kekelasnya untuk mengikuti pelajarannya.


***


"Kenapa berisik sekali dari arah ruang makan? " tanya Zaf ketika ia baru sampai di mansion tersebut.


"Nona Luci tidak mau memakan makanannya jika bukan anda yang menyuapinya nona" jawab salah satu pelayan wanita disana.


"Dimana nyonya besar? "Zaf menanyakan tentang ibu Bryan.


"Nyonya tadi juga marah-marah karna melihat nona Luci rewel, beliau kemudian kembali kekamarnya"pelayan itu memberi penjelasan.


Semenjak kematian kakak Bryan, ibunya memang mengalami depresi ditambah disusul dengan kematian menantunya,tentu itu membuat jiwanya terguncang.


Jika dipikirkan lagi, mungkin Bryan melakukan hal kasar tersebut kepada Mirela dulu mungkin karna sebagai pelampiasannya.


Mungkin ia juga akan gila jika tidak memiliki sesuatu yang mendorongnya untuk tetap dalam keadaan waras.


Sepertinya itu adalah kedua anak Bryan yang menjadi penyemangatnya, dan tanpa dia ketahui itu juga bisa menjadi kelemahannya.


Zaf berjalan menuju ruang makan, "Biar aku saja"ucapnya kepada seorang Maid yang berusaha menyuapi Luciana.


"Kakak!"Luci berteriak senang saat melihat Zaf disana.


Zaf kemudian mendekat, "Kenapa tidak mau makan? "Tanya Zaf lembut.


Gadis itu menggeleng "Luci hanya ingin kakak yang a menyuapi ku"cicit gadis itu.

__ADS_1


Zaf melirik kearah makanan yang hendak diberikan untuk Luci "Biar kakak ambilkan yang baru ya? itu sudah dingin"Ucapnya kemudian beranjak menuju dapur untuk mengambilkan makanan baru untuk Luci.


Zaf kembali dengan membawa sepiring makanan dan juga susu hangat di tangan satunya.


"Daddy belum pulang? "Zaf bertanya sambil menyuapi Luci.


Gadis itu menggeleng dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.


"Luci habiskan makanannya ya,jangan nakal lagi, kakak tidak bisa selalu ada disamping Luci, jadi tanpa diminta oleh siapapun jika sudah waktunya makan, Luci harus makan"Zaf memberi nasehat.


Entah gadis kecil itu mengerti atau tidak, tapi Luci menjawabnya dengan anggukan.


"Tapi, Luci maunya kakak yang mengurusi Luci, Luci tidak mau orang lain, apalagi tante yang pagi tadi datang kesini"cicit gadis kecil tersebut.


Zag yang mengerti hanya memberi belaian lembut dikepala gadis itu.


Tentang rencana yang tertulis dalam surat Kenz pagi tadi, sebenar nya Zaf tidak tega jika harus melakukannya.


Dia sepertinya belum siap jika harus dibenci oleh gadis polos ini.


Namun harus bagai mana lagi, Zaf masih dalam pendiriannya, dia tidak ingin selamanya terkurung didalam rumah ini.


Usai menghabiskan makanannya, terlihat Luci menguap tanda ia sudah mengantuk.


Dan gadis itu hanya mengangguk sebagai jawaban.


Zaf kemudian meraih Luci dan menggendongnya menuju kamarnya.


"Selamat malam Mommy"cicit gadis polos itu sambil melihat kearah lukisan yang Zaf buat sebagai kado ulang tahun Luci tempo hari lalu.


Setelah dirasa Luci sudah terlelap, Zaf kemudian kembali kekamarnya.


Wanita itu langsung menuju kamar mandi sesaat setelah sampai dikamarnya.


Perlahan ia melucuti pakaiannya, kemudian memutar kran dan rintikan air pun mulai mengguyur seluruh tubuhnya.


Seperti ingin membersihkan rasa bersalahnya, Zaf begitu lama berdiri dibawah guyuran air dingin yang keluar dari celah-celah shower.


Namun perasaan bersalah itu juga tidak dapat menghilang, dan setelah Zaf menggigil kedinginan barulah ia keluar dari kamar mandi.


"Kau!!"Zaf begitu terkejut saat melihat Bryan yang dengan tenang duduk diatas ranjangnya.


Zaf yang merasa panik karna tubuhnya hanya terlilitkan handuk kemudian segera berlari menuju lemarinya.

__ADS_1


Bryan tak menanggapi kepanikan Zaf, ia hanya diam duduk diatas ranjang dengan tangannya yang bersidekap.


"Seharusnya kau mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum kau masuk kemari"protes Zaf,


Bagai mana bisa pria tersebut selalu mengulangi hal yang sama? Zaf tidak pernah meminta sesuatu yang aneh kenapa begitu sulit untuk Bryan menurutinya?.


Setelah mengambil pakaian gantinya, Zaf kemudian kembali kekamar mandi untuk memakai pakaiannya karna dilihatnya Bryan seperti ogah untuk beranjak dari posisi duduk nya.


"Ada apa mencari ku? "Zaf bertanya setelah keluar dari kamar mandi sambil menggosok kepalanya dengan handuk karna rambutnya yang masih basah.


Bryan menepuk ranjang disebelahnya agar Zaf duduk disampingnya.


Dan tentu saja Zaf tidak menurutinya, Gadis itu memilih untuk duduk disofa yang ada tidak jauh dari ranjang yang diduduki oleh Bryan.


Bryan mengusap wajahnya yang tampak frustasi karna begitu sulit untuk membuat Zaf menuruti keinginannya.


Akhirnya pria itu mengalah, dengan gontai ia berjalan menuju sofa tempat Zaf duduk.


Ia kemudian membanting tubuhnya sendiri disamping Zaf membuat gadis itu jadi terpental karna sofa yang memantul oleh ulah Bryan.


"Ada apa tuan kemari malam-malam begini? bagai mana jika ada yang melihat anda memasuki kamar saya dan berpikir yang bukan-bukan? "Zaf bertanya maksud kedatangan yang katanya adalah tunangannya itu.


Tapi tentu saja Zaf tidak mengakui nya, bagai mana bisa ia mengakui tunangan jika kedua orang tua Zaf saja tidak mengetahuinya.


Bukannya menjawab, Bryan malah menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa, ia kemudian memijit pangkal hidungnya yang terasa ngilu.


Zaf yang merasa tidak ada jawaban atas pertanyaannya, kemudian bermaksud untuk mengusir Bryan dari kamarnya.


"Tuan, sebaiknya anda segera keluar dari sini"ucap Zaf menarik lengan Bryan.


Merasa terganggu, tanpa aba-aba Bryan menarik tangan Zaf hingga membuat gadis iti terjatuh menimpa Bryan.


"Apa yang membuat mu tidak tertarik pada ku? "Ucap Bryan tepat didepan Zaf.


Mereka saling berhadapan jarak antara wajah Zaf dan Bryan hanya terpaut sekitar lima belas centi, hingga membuat Zaf bisa mencium aroma alkohol yang begitu pekat dari mulut Bryan.


"Kau mabuk? "Zaf mengerutkan keningnya.


Bryan menampakkan senyum smirknya.


"Kenapa tidak menjawabku? "Bryan bertanya. "Kenapa kau menolakku? apa karna statusku yang adalah seorang duda dengan dua orang anak? "imbuhnya.


Zaf diam tak menjawab, Bryan kembali tersenyum sinis.

__ADS_1


"Sepertinya kita tidak bisa mengobrol dengan cara seperti ini tuan"Zaf berusaha bangkit, namun tak bisa karna Bryan menekan pinggang gadis itu sehingga Zaf tidak bisa menggerakkan tubuh bagian bawahnya.


__ADS_2