Cinta Sedingin Es

Cinta Sedingin Es
extrapart10


__ADS_3

Setelah melewati trimester pertama kehamilannya,kini Cindi memang memiliki perubahan hormon yang berbeda lagi.


Jika kemarin ia suka sekali memasak,dan hasil masakannya harus dimakan oleh Rafa, kini ia jadi wanita yang super cuek. Entah kenapa setiap ia berkomunikasi dengan pria selain Rafa suaminya Cindi merasa mual. Bahkan dengan papa dan Dika sekalipun.


Karnanya saat bertemu dengan Rama tadi, dia juga tidak bisa menyapa. Entah lah, mungkin calon anaknya tidak ingin mommynya dekat dengan pria lain bahkan dengan adik Rafa sekalipun.


"Tidak pesan makanan?" tanya Rafa pada cindi yang kini duduk didepannya. Dan ada Rama yang duduk disamping Rafa.


Tanpa persetujuan Rafa,Rama mengikuti mereka berdua saat menuju Restoran didepan perusahaan, dan tiba-tiba ikut duduk disamping Rafa tanpa permisi.


"Tidak,tadi aku sudah makan siang" jawab Cindi setelah memesan minuman pada seorang pelayan.


Rafa mengerutkan alisnya "mengajak ku makan siang,tapi kamu malah hanya pesan makanan"


"Aku hanya ingin melihatmu makan saja".


Walau merasa tidak tega,namun bagaimana lagi, perut Rafa memang merasa lapar.


" Jadi,kenapa kau mengikuti kami?" pertanyaan itu ditujukan pada Rama yang ada disampingnya.


"Tentu saja untuk membahas masalah yang tadi" ucap Rama menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi.


Cindi melihat Rafa yang terlihat malas meladeni adiknya itu.


"Memangnya ingin membahas apa?" tanya Cindi penasaran.


"Jadi begini kakak ipar, aku menginginkan Restoran milik Rafa yang ada di jalan Ganesha,tapi sulit sekali membujuknya... bisakah kakak ipar membantuku?" Rama mengatupkan kedua telapak tangannya, seperti memohon.


Cindi mendengar ucapan Rama namun pandangannya tak teralih pada Rafa yang berada tepat didepannya.


"Maksudnya,dia ingin membelinya atau mengambil alih?" tanya Cindi pada Rafa.


Belum juga Rafa menjawab, Rama terlebih dulu angkat bicara "Tentu saja aku ingin membelinya" ucapnya.


Rafa menghela nafasnya "Kau ini,sepertinya menganggapku kekurangan uanga saja, sampai-sampai harus menjual aset ku" dengusnya.


"Ayolah Raf...kau tidak akan miskin jika hanya memberikan satu restoran untuk ku" bujuk Rama lagi.


"Kau tahu kan,tempat itu sangat strategis? dan aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan tempat itu!" ucap Rafa.


"Memangnya apa yang akan dilakukan Rama pada tempat itu?" Tanya Cindi lagi.


"Dia akan menjadikan tempat itu menjadi klub malam" Rafa melirik Rama kemudian beralih pada Cindi "Apa kau pikir itu masuk akal?" ucapnya pada Cindi kemudian.


Cindi tak menjawab karna seorang pelayan datang mengantar kan pesanan mereka.

__ADS_1


Rafa mengambil makanannya kemudian menyendokan satu suap dan ia sodorkan pada Cindi yang ada didepannya.


Cindi mengerjap bingung karna dia tadi hanya ingin melihat Rafa yang sedang makan siang saja, namun akhirnya membuka mulutnya juga saat Rafa mengatakan jika Rafa juga ingin melihat Cindi makan walau hanya satu suap.


"Keromantisan kalian membuatku muak" ucap Rama terkekeh kemudian meninggalkan mereka berdua.


***


Usai ujian semester, para siswa selama satu minggu ini tidak ada pelajaran, membuat suasana kelas 11 ipa satu menjadi riuh karna tidak ada guru yang masuk.


seorang gadis sedang berlari mencari sosok pemuda yang ia kenal sebagai pacar sahabatnya.


"Dik..." Panggilnya setelah menemukan sosok yang ia cari sedang memasang earphone pada telingannya.


Pemuda itu menoleh dan mengurungkan niatnya untuk menyumbat telinganya.


"Ada apa?" tanya pemuda itu yang tidak lain adalah Dika.


"Kamu kenapa bisa sesantai ini?" tanya gadis itu bernama Diana sahabat dari Imelda.


Dika menautkan kedua alisnya "memangnya ada apa?".


" wah...jadi bener tu anak emang nggak ngasih tau kamu"ucap Diana dengan senyum sumbangnya.


"Imel pergi!"


"Pergi? pergi kemana?" tanya Dika semakin menggebu, karna Diana memberi info yang setengah-setengah.


"ke Singapur"


"apa?!"


"Aku juga baru tau beritanya barusan, waktu aku telfon,katanya dia udah mau menuju bandara" jelas Diana.


Dan tanpa babibu,Dika langsung melesat menuju parkiran, kemudian dengan kecepatan diatas rata-rata ia melesatkan si kuda besinya.


Pikirannya sudah melayang kemana-mana, banyak pertanyaan yang kini ada dihatinya.


Kenapa Imel harus pergi? kenapa ia harus merahasiakannya dari Dika? dan kenapa juga harus semendadak ini?


Sekitar satu jam ia mengendarai motornya, kini sudah sampai dibandara kotaA.


Dengan langkah buru-buru, Dika menyusuri tempat yang luas dan penuh dengan orang lalu lalang.


Pandangannya terhenti saat menangkap sosok yang ia cari,kemudian berlari menuju gadis itu duduk.

__ADS_1


"Mel!" panggilnya setelah berada tepat dibelakang gadis itu.


Gadis itu berbalik dan begitu terkejut saat melihat sosok yang kini berada didepannya.


"Dika?" Imelda menutup mulutnya dengan kedua tangannya,seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat.Dan air matanya pun luruh begitu saja tanpa permisi.


Dengan nafas yang masih menderu, Dika mendekati Imelda.


"Sebentar lagi pesawatnya akan lepas landas, cepatlah bicara dengan Dika" ucap ibu Imelda, saat melewati Dika, ibu Imelda menepuk pundak pemuda itu kemudian berjalan menuju terminal bandara.


"Ada apa? kenapa tiba-tiba pergi?" tanya Dika yang terlihat begitu ingin mendapat alasan.


"Papa dipindah tugaskan Dik, dan kami sekeluarga harus pindah juga" Imelda menundukan wajahnya, merasa tidak bisa menahan kesedihannya jika harus menatap wajah kekasihnya itu.


Dengan perlahan Dika mengangkat wajah gadis itu,masih terlihat air mata yang membasahi pipinya,kemudian ia hapus dengan ibu jarinya.


"Hanya ke singapur kan?"


"ap-apa?"


"kamu hanya ke singapur kan?" tanya Dika kembali.


Imelda mengangguk. Dan Dika langsung merengkuh tubuh mungil gadis tersebut.


"Tidak apa, kita LDR hanya satu tahun" Dika mengelus rambut gadis itu "aku akan menyusulmu saat lulus nanti" ucap Dika kemudian melepas pelukannya.


"Kamu?"


Dika mengangguk "aku janji...akan kesana menyusulmu" disusul dengan senyuman menawannya.


Hanya dengan ucapan Dika, membuat hati Imelda terasa begitu lega.Dia senang jika hubungannya dengan Dika tidak berhenti sampai disini seperti yang ia takutkan.


Ternyata Dika mau mempertahankannya walau harus menjalani hubungan jarak jauh.


"Boleh cium,tanda perpisahan sementara?" tanya Dika yang membuat pipi Imelda terlihat memerah.


Namun kemudian mengangguk juga,walau dengan malu-malu.


Dika tersenyum,kemudian mengecup sekilas pipi kanan Imelda.


Ada perasaan kecewa dihati Imelda saat mendapat ciuman dipipinya, karna tadi nya gadis itu berharap Dika akan mencium bibirnya, sama seperti yang Dika lakukan di bioskop yang lalu.


Dika terkekeh saat menyadari wajah kecewa dari kekasihnya. Dan karna merasa tidak senang ditertawakan oleh Dika, Imelda tiba-tiba menarik kerah seragam Dika, Sampai membuat pemuda itu terhuyung kedepan.


Kemudian sebuah kecupan manis mendarat dibibirnya. Kecupan tanda perpisahan sementara dari Imelda untuk Dikanya...

__ADS_1


__ADS_2