Cinta Sedingin Es

Cinta Sedingin Es
bab#45


__ADS_3

setelah promosi besar-besaran,kini produk baru cindi sangat diminati, dan perusahaan juga sudah setabil.begitu juga dengan kesehatan papa marco yang kini sudah pulih,jadi perusahaan kini sudah diambil alih kembali oleh papa marco.


"apa rencana kamu selanjutnya?" tanya rafa yang masih fokus memperhatikan jalan didepannya karna dia sedang menyetir.


cindi menaikan pundaknya"mungkin kembali ke jogja,kuliah".


"kenapa tidak pindah saja disini?".


"mana bisa begitu?lagi pula kan biayanya sudah kamu lunasi,kan sayang kalau nggak dilanjutkan".


"jadi kamu mau pergi lagi?".


"hmmm..." cindi mengguk.


"kenapa sih terlihat lelah gitu?".


"dua hari nggak bisa tidur".


"kok bisa?".


"dika membuang obat tidurku".


"ya bagus dong...kan biar kamu nggak ketergantungan".


"tapi aku jadi nggak ada tenaga".


"kamu tidur diapartemen saja,dulukan kamu bisa tidur disana tanpa minum obat itu"


"nggak usah...antar aku pulang saja,aku mau langsung tidur,lagi pula kepalaku pusing...aku malas berdebat denganmu"


"kamu saja malas,apa lagi aku?keapartemenku aja...aku yang akan merawat mu"ucap rafa tanpa mau dibantah.


cindi hanya diam dan menyandarkan kepalanya pada sandaran jok mobil rafa. dan rafa melajukan mobilnya kearah apartemennya.


sampailah mereka di parkiran basement apartemen,"tunggu sebentar" ucap cindi saat hendak turun dari mobil sambil memegang kepalanya.


"kenapa?" tanya rafa sedikit panik.


"semua berputar raf" cindi kembali duduk dan memejamkan matanya.


kemudian rafa meraih tangan cindi dan menyampirkan kepundaknya kemudian menggendong cindi menuju apartemennya.


sesampainya dikamar apartemen,rafa menurunkan cindi dengan pelan dan hati-hati

__ADS_1


"raf sepertinya aku-"


"howekk..."cindi memuntahkan isi perutnya. dan mengenai tubuh rafa.


"apa yang sakit" ucap rafa sambil membuka pakaiannya.


cindi hanya menggeleng sambil memejamkan matanya.


"perutku mual".


"sebentar aku telfon dokter"rafa meraih poselnya dan menelfon dokter pribadinya.


setelah menelfon dokter,rafa mengganti pakaiannya karna terkena bubur dari dalam perut cindi.


usai mengganti baju,rafa menghampiri cindi untuk mengganti pakaiannya karna baju cindi juga tak luput dari kotoran tadi.tanpa aba-aba,rafa membuka kancing paling atas baju cindi,dan..


hap


cindi menghentikan tangan rafa"mau apa?"tanya cindi tanpa membuka matanya


"mau mengganti bajumu apa kamu mau tetap memakai bajumu yang bau ini?...tenang saja aku nggak akan macam-macam suer" ucap rafa sambil mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V.


cindi hanya pasrah,karna dia tidak bisa membuka matanya.


rafa yang melihat cindi hanya diam,ia langsung membuka kancing baju cindi satu persatu.


rafa menelan salivanya dengan susah payah,tenang rafa ingat cindi sedang sakit ucap rafa dalam hati menenangkan jantungnya yang berdebar tak menentu.


rafa memakaikan kemejanya pada cindi. ya walaupun kemejanya kebesaran,tapi justru malah terlihat sexi dimata rafa. sabar sabar...rafa mengelus dadanya dan mendekatkan ember untuk berjaga-jaga jika cindi mau muntah lagi,


"coba kamu buka mata kamu" ucap rafa lembut sambil mengelus rambut cindi,


cindi membuka matanya kemudian menutup nya kembali,"semua berputar raf"ucapnya lirih.


cindi merasa mual lagi dan rafa yang melihatnya,langsung mendekatkan ember yang ia siapkan tadi,dan ya,cindi kembali lagi mengeluarkan isi perutnya.


rafa semakin bingung dan khawatir melihat keadaan cindi yang sekarang lemah,ia hanya mondar-mandir karna dokter indra belum juga datang.


ting-tong


bel apartemen rafa berbunyi,dan ia langsung menghambur untuk membuka pintu.


"gimana ndra"tanya rafa kepada dokter muda yang ada baru selesai memeriksa cindi,indra adalah sahabat rafa karna dulu dia juga teman satu kampusnya saat kuliah di luar negri.dan kini indra menggantikan ayahnya menjadi dokter pribadi keluarga rafa.

__ADS_1


"vertigo"ucap nya santai "dia sudah saya suntik,dan obat saya taruh dinakas,nanti kalau dia sudah sadar,berikan obat nya"


rafa hanya menanggapinya dengan anggukan"dia sepertinya kelelahan fa..."


"iya...kata nya 2 hari nggak bisa tidur" rafa menyodorkan air mineral pada sahabatnya yang kini sudah duduk di sofa.


indra hanya menautkan alisnya,tanda bahwa dia tanya kenapa.


"adiknya membuang obat tidurnya" rafa menjawab,seolah indra bertanya padanya.


"obat tidur?".


rafa mengangguk "katanya sudah 4 tahun ini cindi selalu minum obat itu".


"oh...jadi nama nya cindi"bukannya fokus dengan cindi yang meminum obat tidur, indra malah salfok sama nama gadis yang membuat rafa sekhawatir itu.


"ya...kamu bilangin sama cindi,kalau mengkonsumsi obat tidur itu nggak baik, coba cari cara agar cindi bisa lepas dari obat itu"saran dokter indra yang kemudian pamit dan kemudian pergi dari apartemen itu.


rafa kembali kekamarnya,dan dilihat nya cindi sudah bangun dan kini duduk diatas ranjang. "kamu sudah bangun" tanya rafa yang masuk dengan membawa semangkuk bubur ditangannya"makan dulu...lalu minum obat"


cindi menatap rafa lekat,dia memperhatikan rafa yang begitu baik padanya,dia merasa nyaman atas perlakuan rafa.dan memakan setiap sendok bubur yang rafa suapkan padanya.


setelah meminum obatnya, rafa menyuruh cindi untuk kembali tidur.dan cindi hanya menuruti kata rafa, entah apa yang ada di fikiran cindi kenapa tubuhnya menuruti setiap ucapan rafa.


cindi memejamkan matanya tapi fikirannya melayang entah kemana,rafa yang menyadari bahwa cindi tidak bisa tidur,lalu dia menghampiri cindi dan tidur disampingnya.


cindi merasa tangan hangat rafa memeluknya dengan erat,dan membuatnya merasa nyaman.


"raf"lirih cindi.


"hm?".


"jangan terlalu baik padaku".


rafa mengendurkan pelukannya untuk menatap wajah cindi"kenapa?".


"aku akan menjadi bergantung padamu".


"aku ingin kamu bergantung padaku" ucap rafa mengelus pipi halus cindi yang berubah menjadi merah.


"kenapa begitu?aku yakin kamu tahu jika aku hanya memanfaatkanmu"cindi menunduk tidak berani melihat raut wajah rafa saat ini.


rafa menangkup wajah cindi agar melihat nya"aku senang jika aku bisa berguna untukmu" ucap rafa kemudian mengecup bibir cindi.

__ADS_1


cindi membalas pelukan rafa dan mimpi indah dalam dekapan hangat rafa.


happy reding semua...


__ADS_2