Cinta Sedingin Es

Cinta Sedingin Es
S2 eps 20


__ADS_3

Kebun binatang adalah tempat tujuan mereka, dan disana Luci yang begitu senang bahkan sampai tidak melepaskan genggamannya kepada tangan Zaf.


Luci yang banyak sekali mengoceh tentang hewan-hewan yang mereka temui, kemudian Pedro yang akan menjawab semua pertanyaan dari gadis kecil tersebut.


Terlihat sekali kebahagiaan yang terpancar dari gadis kecil tersebut.


"Biar aku saja yang menggendongnya" ucap Bryan berniat menggantikan Zaf yang sedang menggendong Luci yang tengah tertidur.


"Tidak apa-apa tuan, biar saya saja" jawab Zaf, ia sebenarnya sudah menahan rasa kebas pada tangannya karna menggendong gadis berusia empat tahun itu.


Namun Bryan yang tak menghiraukan penolakan Zaf, kemudian dengan sedikit memaksa mengambil alih Luci dari gendongan wanita tersebut.


"Jika lelah, tidak perlu disembunyikan" ucap dingin Bryan kemudian menggendong Luci kedalam pelukannya.


Sebenarnya Zaf memang merasa lelah saat menggendong Luci, hanya saja ia merasa kalau itu memang sudah pekerjaannya, jadi ia harus menahannya.


"Luci sudah tidur, lalu apa kita akan ketaman setelah ini? " Pedro bersuara.


Bryan yang mendengar itu kemudian melirik kearah Zaf yang berjalan disampingnya,wanita itu tampak kelelahan. batin Bryan "Tidak, sepertinya Luci juga sudah lelah, kita pulang saja" ucapnya kemudian.


Sebenarnya dengan posisi jalan mereka, mereka terlihat seperti sebuah keluarga bahagia, ada ayah,ibu dengan kedua putra dan putri yang tengah berlibur bersama.


Namun siapa sangka ternyata Zaf hanya seorang pengasuh saja disana.


"Kau duduk didepan" ucap Bryan tegas kepada Zaf,"Pedro, duduk dibelakang dan jaga adik mu" kini Bryan beralih kepada Pedro.


"Baik Daddy" jawab Pedro semangat, entah mengapa bocah itu senang sekali saat melihat Zaf duduk didepan dengan ayahnya.


Zaf yang tampak bingung kemudian hanya menurut saja.


"Sudah berapa lama di Paris? " tanya Bryan memecah suasana yang canggung bagi Zaf.


"Ah, ha? " Zaf yang tidak siap mendapat pertanyaan dari tuannya itu tampak bingung.


"Kamu sudah berapa lama di Paris? " ulang Bryan.


"Sudah sekitar satu minggu tuan" jawab Zaf.


"Lalu, selama sebelum bekerja, kau tinggal dimana? " tanya Bryan seolah mengintrogasi Zaf.


Zaf diam sebentar untuk berpikir "Saya tinggal dirumah kerabat saya tuan" jawab Zaf berusaha berhati-hati dengan ucapan yang keluar dari bibirnya.


Bryan melirik kearah spionnya dan melihat bahwa Pedro juga ikut tertidur seperti adiknya kemudian berucap "Sihir apa yang kau gunakan untuk memikat mereka? ".


Zaf yang terkejut dengan pertanyaan Bryan kemudian mengarahkan pandangannya kearah pria tersebut.

__ADS_1


"Maksud tuan? "


"Kau pasti sudah mendengar, kalau kedua anak itu sangat sulit untuk dekat dengan orang asing"


Ya, memang benar, Zaf mendengar dari beberapa pelayan kalau tuan dan nona kecil memang sulit menerima pengasuh untuk mereka.


Bahkan para pengasuh sebelum nya ada yang baru satu hari bekerja kemudian langsung mengundurkan diri akibat dari kenakalan mereka.


Namun berbeda saat Zaf yang mengasuh mereka, seakan mereka sedah familiar dengan wanita itu.


"Maaf tuan, tapi saya tidak melakukan apa-apa terhadap tuan dan nona kecil" jawab Zaf takut-takut.


"Kenapa kau tegang seperti itu? " ucap Bryan disusul tawanya yang keluar dari bibirnya, dan entah mengapa itu membuat Zaf merasa sedikit takut "Aku tidak bermaksud menuduhmu, aku hanya merasa heran saja" ucap Bryan disela tawanya.


Mendengar itu, Zaf jadi merasa sedikit tenang, tadinya ia pikir ia sudah ketahuan.


***


Sesampainya mereka di rumah, Bryan kemudian menggendong Pedro untuk masuk kedalam kamar sedangkan Zaf menggendong Luci kedalam pelukannya.


"Jika dilihat seperti ini, Zaf tampak seperti Mommy mereka ya?"(dalam bahasa Perancis). Ucap salah seorang pelayan yang baru saja dilewati oleh Bryan dan Zaf.


"Hust, kecilkan suaramu... jika tuan mendengarnya, itu akan gawat! "(dalam bahasa Perancis). jawab pelayan satunya.


Setelah merebahkan Luci ketempat tidurnya, Zaf kemudian menuju kamarnya.


Ia juga merasa sedikit lelah,ia kemudian mengambil ponselnya untuk memeriksa apakah ada pesan atau tidak.


Karna tidak ada pesan, Zaf pun kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Guyuran air shower membuat Zaf merasa segar,ia pun sedang menyusun rencana untuk bisa masuk kedalam ruangan Bryan secepatnya.


Karna jika ia terlalu lama disini, ia akan semakin terikat dengan kedua anak itu dan lagi Zaf juga sudah mendapat peringatan dari Daddy nya untuk segera pulang.


Huft, ia tidak menyangka akan sesulit ini.


***


Pagi ini Zaf keluar dari kamarnya dengan penuh semangat, namun yang ia lihat,ada nampak sesuatu yang berbeda hari ini.


Kenapa rumah terlihat sepi sekali? batin Zaf.


Ia berjalan menuju kamar anak-anak, dan mendapati Luci tengah menangis tanpa suara disana.


Sedangkan ada Pedro yang berusaha menenangkan adik perempuannya.

__ADS_1


"Ada apa? " tanya Zaf heran.


Pedro menoleh kemudian berkata "Dia tidak mau berhenti menangis, aku sudah berusaha menghiburnya".


Zaf mendekat kemudian duduk disisi Luci "Kenapa anak manis? " tanya Zaf mengusap air mata gadis itu.


"Kakak tahu hari ini hari apa? " tanya gadis itu.


Zaf yang tak mengerti kemudian menoleh pada Pedro untuk meminta penjelasan darinya.


"Hari ini peringatan kematian Mommy" jawab Pedro yang seolah tahu tanda tanya dikepala Zaf. "Dia akan menangis seharian karna rasa bersalah" sambungnya.


Zaf semakin heran "Kenapa seperti itu? ".


"Karena Luci lah yang menyebabkan Mommy meninggal" tiba-tiba Luci menyahut.


Zaf yang mendengarnya pun jadi terkejut, bagai mana bisa seorang anak kecil bisa membuat Mommy nya meninggal?.


"Mommy meninggal saat melahirkan Luci, karna itu dia akan merasa sedih saat hari ulang tahunnya" Pedro menjelaskan.


"Apa Luci adalah anak nakal Kak? " Suara Luci disela isaknya.


Zaf kemudian merengkuh tubuh mungil itu dan mendekapnya dalam pelukan, mencoba memberi ketenangan pada gadis itu.


"Kelahiran Luci adalah anugrah bagi Mommy, Semua Mommy didunia ini pasti akan menyayangi anak nya lebih dari diri mereka sendiri, karna itu Mommynya Luci bahkan bersedia menukar nyawa untuk menyelamatkan putri kecilnya" Zaf mencoba memberikan pengertian untuk menenangkan gadis itu.


Bahkan ia sendiri tak menyangka, dengan apa yang baru saja keluar dari mulutnya.


Mommy, maaf kan Zaf yang selama ini selalu membantah dan bersikap tidak baik kepada Mommy. batin Zaf.


Ia merasa menyesal dengan sikapnya selama ini yang begitu kasar terhadap Mommynya sendiri.


"Tapi, Luci juga ingin memiliki Mommy seperti teman-teman Luci, bahkan Luci tidak pernah tahu bagai mana wajah mommy" Cicit gadis itu.


"Tuan Pedro, apa kamu punya potret Mommy? " Tanya Zaf.


Pedro mengangguk kemudian mengambil sesuatu dalam laci nakas disamping ranjang tersebut.


Ia kemudian menyerahkan benda persegi yang adalah foto ibu mereka kepada Zaf.


Dan saat melihatnya, Zaf sedikit terkejut karna postur wajah mommynya Pedro dan Luci hampir sama seperti dirinya.


Jadi apakah ini alasan anak-anak ini tidak mempersulit ku untuk bekerja disini?,batin Zaf.


Karna wajah ku hampir mirip dengan Mommy mereka?

__ADS_1


__ADS_2