Cinta Sedingin Es

Cinta Sedingin Es
S2 eps 32


__ADS_3

"Aku hamil"(Dalam bahasa Perancis)


Itu adalah dua kata yang terucap dari bibir Mirela.


Ia baru saja datang ke mansion Abram disaat semua anggota keluarga sedang sarapan di pagi ini.


"Bagai mana bisa kau masuk kesini"(dalam bahasa Perancis) ucap Bryan dingin.


"Maaf tuan, nona Mirela memaksa masuk, dan kami tidak bisa menghalanginya"(dalam bahasa Perancis) jawab seorang kepala pelayan pria disana.


Seakan tak menghiraukan ucapan dari pelayannya,Bryan beralih menatap Mirela dengan tatapan tajam.


"Kau tahu apa akibatnya jika berani mempermainkan ku?!"(dalam bahasa Perancis) ucapnya.


"Aku membawa buktinya"(dalam bahasa Perancis) Mirela berjalan mendekat, kemudian memberikan sebuah surat dari rumah sakit.


Bryan membuka kertas beramplop tersebut, dan disana tertulis bahwa Mirela memang positif hamil.


Melihat itu Bryan berdecih "Aku tidak yakin kalau itu adalah anak ku, bagai mana jika itu adalah anak orang lain"(dalam bahasa Perancis) Bryan berkilah.


Mendengar itu tidak membuat Mirela takut,namun ia malah terkekeh "Aku yakin kau akan tahu jika aku memang berulah saat menjalin hubungan denganmu"(dalam bahasa Perancis) ucap wanita itu "Tapi pada kenyataannya, aku memang tidak pernah bersama pria lain selain dengan mu"(dalam bahasa perancis) sambungnya.


Bukan hanya Bryan yang mendengar penuturan Mirela, namun disana juga ada Zaf, Luciana, juga Pedro.


Luci yang mendengar itu kemudian turun dari kursinya dan menghampiri Zaf.


Gadis itu mengulurkan kedua tangannya hendak maraih Zaf agar memeluknya.


Zaf yang mengerti kemudian meraih Luci dan memangkunya.


Gadis itu memeluk erat Zaf yang seakan tak ingin melepaskannya seolah ia akan kehilangan Zaf jika ia melepasnya.


"Kak, Luci tidak mau tante itu yang menjadi mommynya Luci"cicit gadis itu dalam pelukan Zaf "Luci hanya ingin kakaklah yang menjadi mommynya Luci".


Zaf tak menjawab,dia hanya membalas pelukan Luci serta membelai lembut rambut gadis kecil itu.


Tak tahu harus berkata apa.


Sedangkan Bryan melirik sesaat kepada Zaf yang tengah memangku putrinya kemudian beralih kepada Mirela.

__ADS_1


"Lahirkan bayi itu, aku akan bertanggung jawab, tapi untuk menikah dengan mu"(dalam bahasa Perancis) Bryan menjeda ucapannya "Itu tidak mungkin"(dalam bahasa Perancis).


Ucapan itu tidak hanya membuat Mirela terkejut, namun Zaf juga sama.


Apa ini rencana yang Kenz maksud? tapi dengan Bryan mengucapkan penolakan untuk menikahi Mirela, bukankah walau Mirela mengandung anaknya,ia juga tidak akan bisa menjadi pasangannya?.


"Sebaiknya kalian urus dulu masalah kalian" (dalam bahasa Perancis) ucap Zaf kemudian beranjak dengan menggendong Luci menuju kamarnya.


Terlihat sekali raut wajah ketakutan pada gadis kecil yang berada didalam gendongan Zaf.


Gadis itu menunduk saat Zaf mendaratkannya diatas ranjangnya.


"Apa kakak akan membenci daddy?"cicit gadis itu "Apa kakak akan pergi dari sini dan tidak akan menjadi mommy Luci? " imbuhnya.


Zaf tak mampu menjawab, ia merasa iba melihat gadis kecil ini,namun ia juga tidak bisa menghabiskan masa muda nya untuk terjerat pada skenario keluarga ini.


Zaf duduk disamping gadis itu, namun saat hendak membuka mulutnya tiba-tiba Pedro menghampiri.


"Daddy akan memberikan kita yang terbaik Luci, percayalah"kata-kata bijak itu keluar dari seorang anak laki-laki yang bahkan baru berusia tujuh tahun.


"Kakak bisa kembali kekamar mu untuk bersiap, kakak hari ini akan berangkat kuliah kan?"Pedro beralih pada Zaf.


"Bagai mana dengan mu? bukankah hari ini kau juga sekolah? "Zaf bertanya.


Dan Zaf hanya bisa menghela nafasnya, ia menuruti ucapan Pedro kemudian berjalan menuju kamarnya.


Tidak tega memang meninggalkan gadis itu dalam keadaan sedih, namun Zaf memang harus melakukannya, lagi pula ini bisa menjadi pelatihan untuk Luci agar bisa sedikit jauh dari Zaf.


Dan jika saatnya nanti semoga Luci tidak akan terlalu sakit hati bila Zaf pergi meninggalkannya.


***


"Kau kecewa? "Bryan yang tiba-tiba masuk kekamar Zaf tanpa mengetuk pintu membuat gadis itu jadi terkejut.


Untung saja dia sudah selesai berpakaian tadi.


"Aku tahu ini adalah rumah mu, dan kamar ini juga termasuk didalamnya, tapi bisakah kau mengetuk pintu nya terlebih dahulu saat akan masuk? " Suara Zaf memberat menahan amarah.


Bukannya merasa bersalah, Bryan malah terkekeh mendengar ucapan yang keluar dari mulut Zaf.

__ADS_1


"Suara mu begitu tajam, apakah bibirmu ini juga setajam itu? "Bryan yang sudah berada dihadapan Zaf membelai bibir gadis itu dengan ibu jarinya.


Zaf tak menjawab, sedangkan pandangan Bryan tertuju pada bibir ranum Zaf yang belum ia poles dengan lipstik.


Bryan mendekatkan wajahnya, hendak mendaratkan bibirnya pada bibir tersebut,namun dengan cepat Zaf memalingkan wajahnya.


Hingga hanya pipi Zaf lah yang menjadi pendaratan atas bibir Bryan.


"Tidak masalah kau menolakku, tapi kau tidak akan bisa lepas dari ku sampai kapanpun.Dan rencana mu dengan wanita itu bisa dengan mudah terbaca olehku "bisik Bryan tepat ditelinga Zaf.


"Benarkah? ingin taruhan denganku? "tantang Zaf.


"Kau berani? "Bryan.


Zaf terkekeh "Kenapa tidak tuan?, ada begitu banyak jalan untukku untuk bisa pergi dari mu"Dusta Zaf, padahal sebenarnya ia sendiri juga masih bingung memikirkan caranya untuk bisa pergi dari Bryan.


"Baiklah... aku akan menantikannya"Bryan menarik wajahnya kemudian berbalik "Hari ini kau bisa pergi kekampus mu, tapi penjagaanmu akan ku perketat" ucapnya kemudian.


"Kenapa harus repot-repot memperketat penjagaan, bukankah tanpa dijaga siapapun toh aku juga tidak bisa kemana-mana?"ucap Zaf.


Bryan yang tadinya sedang berjalan kemudian menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Zaf "Kau benar, kau tidak akan bisa kemana-mana, tapi aku tidak suka melihatmu berpelukan dengan pria lain" ucap Bryan menahan emosinya.


Ucapan Zaf mengingatkan tentang laporan yang dkirimkan oleh bawahannya kemarin, ia melihat potret Zaf tengah berpelukan dengan Kenz saat berada dikantin.


"Aku tidak bisa menyentuhmu Zaf, maka dia juga tidak akan bisa"imbuhnya kemudian berbalik dan melangkah pergi.


Zaf mengusap wajahnya sendiri, walau ia tidak peduli Bryan mengetahui apa yang ia lakukan bersama Kenz, namun tetap saja ia merasa takut jika Bryan akan melakukan sesuatu kepada Kenz.


Satu buah pesan masuk kedalam ponsel Zaf.


itu dari Kenz.


[Aku baru bertemu dengan papa Rama, Kami ada cara yang bisa membuatmu terbebas dari sana, kita bisa bertemu? ]


[Ya, sebentar lagi aku kekampus kita bertemu disana, tapi Bryan akan memperketat pengawasan untukku] balas Zaf.


[baik]jawab Kenz dari seberang sana.


dan setelah Zaf bersiap,ia kemudian berangkat menuju kampusnya.

__ADS_1


"Awasi dia baik-baik, dan jangan biarkan ia bertemu dengan pria yang ada difoto itu" (dalam bahasa Perancis) Bryan memberikan titahnya kepada anak buahnya.


"Baik tuan"(dalam bahasa Perancis) jawab kedua anak buah Bryan,kemudian merekapun pergi untuk mengikuti kemana Zaf pergi.


__ADS_2