Cinta Sedingin Es

Cinta Sedingin Es
S2 eps 34


__ADS_3

"Kita sudah bertunangan, setidaknya kau harus melakukan tugasmu sebagai calon nyonya Abram"Bryan berucap dengan tatapan tajam, membuat nyali Zaf sedikit menciut.


"Apa yang kau inginkan tuan? "Zaf berusaha meredam suaranya agar tak bergetar.


Bryan mengalihkan tangannya yang menuju wajah ayu Zaf, sedang tangan lainnya masih menekan pinggang gadis itu agar Zaf tidak lari darinya.


Ibu jari Bryan dengan lembut menyusuri bibir ranum Zaf yang terlihat pink merona.


Zaf menggelengkan kepalanya agar Bryan menyingkirkan tangan nya dari wajah Zaf.


Sedangkan kedua tangan Zaf menekan dada Bryan agar dadanya tak bersentuhan dengan pria tersebut.


"Kau tahu aku menginginkanmu Zaf"lirih keluar dari bibir Bryan.


Sejak awal bertemu, Bryan memang merasa ada yang berbeda dari gadis bernama Zaf tersebut.


Dan ternyata benar, semakin Bryan mengenal Zaf, semakin ia ingin memiliki gadis tersebut.


Ia merasa frustasi karna ternyata gadis itu sama sekali tak tertarik pada Bryan.


Apa yang membuat Zaf mengabaikannya?


Bryan ingin tahu alasannya.


"Apa yang kau lakukan?! "Zaf memberontak geram karna Bryan semakin mendekapnya.


Zaf yang memberontak membuat Bryan kesusahan kemudian dalam sekali gerakan Bryan memutar tubuhnya sehingga yang tadinya Zaf berada di atasnya kini gadis itu berada dikungkungan Bryan.


Tamat lah, apakah Bryan akan melakukan hal itu kepada Zaf.Batin gadis itu takut-takut.


Tubuh Zaf sedikit bergetar karna perasaannya yang takut,namun tangan Zaf masih tetap aktif mendorong dada Bryan agar pria itu segera pergi darinya.


Semakin Zaf menolak semakin membuat Bryan geram.


Dengan paksa Bryan menarik tengkuk Zaf kemudian menyatukan bibirnya dengan bibir gadis itu.


Zaf berusaha menggelengkan kepalanya agar Bryan bisa melepaskannya, namun sia-sia.


Semakin Zaf memberontak semakin brutal Bryan memperlakukan Zaf.


"Hen-mmmmh... "Suara Zaf terputus karna Bryan sama sekali tak memberi ruang untuk Zaf bicara, bahkan dalan bernafas saja ia kepayahan.


Kecupan, ******* Bryan lakukan dengan brutal untuk membuat Zaf menerima ciumannya, bahkan bibir gadis itu yang sudah basah pun Zaf tidak bersedia menerima ciuman dari Bryan.

__ADS_1


Bryan pun tak tinggal diam, ia menggigit bibir Zaf hingga membuat gadis itu meringis.


Dan berhasillah dia untuk semakin memperdalam ciumannya.


Bryan ******* habis bibir gadis itu, memasukan lidahnya untuk bisa menari-nari mengeksplor isi dari mulut Zaf yang menggiurkan.


Zaf memukul-mukul dada Bryan agar pria itu segera menghentikan aksinya karna Zaf yang kehabisan oksigen.


Bryan yang merasa ada sesuatu yang basah mengenai pipinya kemudian menghentikan aksinya.


Ia melepaskan ciumannya, namun keningnya masih bersatu dengan kening Zaf yang terasa basah.


Bryan dapat merasakan air mata Zaf yang mengaliri pipinya.


Tanpa memandang Zaf, Bryan mengusap cairan bening tersebut denga dahi yang masih tertaut.


"Sebegitunya kah kau membenciku? "Lirihnya lagi.


Merasa ada celah, Zaf menarik kepalanya kemudian menatap Bryan dengan tajam.


"Aku tidak membencimu,"ucap Zaf tersengal,masih mengumpulkan oksigen yang banyak untuk mengisi paru-parunya.


Bryan mendecih, kemudian beranjak dan dengan berat menyeret langkahnya keluar dari kamar Zaf.


***


Pagi menjelang, Zaf yang baru keluar dari kamarnya mendengar kegaduhan dari kamar Luci.


"Ada apa? "Tanya nya kepada salah satu pelayan wanita yang biasanya melayani Luci dan Pedro.


"Nona Luci dari tadi tidak bangun, padahal kami sudah membangunkannya sejak tadi" Pelayan itu menjawab.


Zaf mengangguk kemudian masuk kedalam kamar Luci.


Disana sudah ada Bryan yang tengah panik disamping Luci.


Gadis itu tampak pucat diatas ranjangnya dengan matanya yang masih terpejam.


..."Cepat panggil dokter! "Suara Bryan meninggi karna tak berhasil membangunkan putrinya....


...Zaf yang melihat kepanikan Bryan hanya bisa diam, dan melihat para pelayan disana ikut panik....


"Kami sudah menghubungi dokter Tuan, dokter sedang dalam perjalanan"jawab seorang pelayan yang berdiri disamping Bryan.

__ADS_1


Menunggu kedatangan Dokter dengan sangat gusar, Bryan memberikan tatapan begitu menusuk saat bola matanya menatap kearah Zaf yang masih berdiri diambang pintu yang seolah tak berani masuk.


Tak lama Dokter pun datang, dokter pribadi keluarga Abram namun bukan kak Adelia yang datang kesana tapi seorang Dokter pria yang usia nya tidak terlalu beda jauh dari Bryan.


"Apa yang terjadi pada putri ku?"ucap Bryan dengan nada dingin kepada Dokter tersebut.


Dokter itu menghela nafasnya sebelum menjelaskan kepada Bryan terntang keadaan Luci.


"Makanan apa yang terakhir masuk kedalam tubuhnya? "Bukan jawaban, namun justru malah pertanyaan yang keluar dari mulut dokter tersebut.


Bryan tak menjawab, ia mengalihkan pandangannya kepada pelayan yang biasanya mengurus tentang makanan Luci.


Pelayan wanita yang merasa dirinya sedang diperhatikan oleh Tuannya, mendadak tubuhnya bergetar ketakutan.


"No-nona terakhir makan bubur yang biasa disiapkan oleh koki,dan kemari malam Nona Zaf sendirilah yang menyuapinya"ucap Pelayan itu takut-takut.


Dokter itu mengangguk "Apa masih ada sisa makanan dari yang Luci makan? "dokter kembali bertanya.


"Apa sebenarnya maksudmu Lui! "Bryan yang tak mengerti kemudian bertanya kepada dokter yang bernama Luigi tersebut.


"Jika aku tidak salah diaknosa,Luci terkena racun"


"Maksudmu,dia keracunan makanan? " Bryan menyela.


"Ya, tapi ini bukan racun yang biasa ada pada makanan, sepertinya ini racun yang sengaja ditaruh kedalam makanan Luci"Terang Luigi.


Mendangar itu, Bryan kemudian mengalihkan kembali pandangannya kepada Zaf karna pelayan tadi mengatakan jika Zaf lah yang menyuapi Luci malam tadi.


"Kalian semua keluar! "Perintah Bryan kepada seluruh pelayan yang ada disana tapi tatapannya masih tetap pada Zaf yang tidak bergerak dari tempatnya.


"Apa yang kau berikan kepada Luci? " Suara Bryan tidak tinggi, namun Zaf tahu jika pria itu sedang benar-benar marah kepada dirinya.


"Aku memberinya obat sejenis Dumolid yang sudah dikembangkan oleh adikku"ucap Zaf tanpa rasa takut "Jika itu hanya Dumolid, maka itu sama halnya seperti obat tidur, tapi obat itu sudah dikembangkan oleh adikku dan itu menjadi obat yang mematikan jika kau tidak segera memberinya penawar" sambung Zaf.


Bryan yang meremas itu tangannya sendiri, begitu kuatnya hingga buku-buku tangannya terlihat memerah.


"Kau berani memberi seorang anak kecil racun! " Bryan menekan suaranya,ia begitu emosi.


"Hanya itu satu-satunya cara agar kau bisa melepaskan ku" ucap Zaf yang seolah tidak merasa bersalah karna sudah mempermainkan nyawa seorang anak kecil.


"Berikan penawarnya! "Ucap Bryan yang masih berusaha menekan emosinya.


"Lepaskan aku dulu, baru aku beri penawarnya" Zaf bernegosiasi.

__ADS_1


Bryan memandang Zaf dengan tatapan nyalangnya seolah ia bisa menelan gadis itu hidup-hidup.


__ADS_2