
seberkas cahaya menelusup melalui celah-celah jendela.membuat seorang pria yang tengah tertidur merasa terusik oleh cahaya yang menyilaukan mata nya
kevin tersentak,karna merasa ada yang tidak beres dari dirinya.mengulang memory semalam bahwa dia mabuk hingga tak sadarkan diri disebuah klub malam lantas siapa yang membawa nya pulang?
ia beranjak dari tempat tidurnya,hanya memakai celana boxer yang ia kenakan kemarin,sedangkan kemeja serta celananya terlihat sudah teronggok dikeranjang pakaian kotor siapa yang membawa nya pulang?
pertanyaan yang sama berulang.ia melihat ada secarik kertas diatas nakas dan membaca nya
jika masih belum ada yang kau cintai,setidaknya cintailah dirimu sendiri!
kevin tersenyum getir membaca sepucuk surat itu,dia tahu betul coretan pena itu adalah milik cindi.
****
cindi *** dadanya,merasa perih dijantungnya,entah mengapa entah mengapa hanya mendengar kalimat sederhana dari seorang rafa membuatnya merasa seperti diremas-remas.
"kau benar...aku memang tidak tahu apapun tentang dirimu"tanpa terasa air mata yang sedari tadi cindi bendung luruh juga.
hanya kata-kata itu yang mampu cindi ucapkan.kemudian pergi meninggalkan rafa yang masih terlihat mengacuhkannya.
cindi berjalan gontai tak tentu arah,di otaknya hanya menyuruhnya untuk pergi menjauh dari rafa,kenapa rafa tidak menghalanginya? kenapa rafa mengacuhkannya.
hampir setengah jam ia berjalan menyusuri trotoar,
terdengar suara mobil dari belakangnya dan berhenti tepat disamping gadis itu.
"masuklah"ucap seorang laki-laki sesaat setelah menurunkan kaca mobil.
cindi menoleh sekilas,dan kembali berjalan saat memastikan sumber suara yang memerintahnya.
merasa diabaikan,lelaki itu langsung turun dari mobil nya,dan tanpa aba-aba langsung membopong cindi
"rafa...turunkan!"pekik cindi kepada rafa.
rafa tidak menghiraukan cindi,dan lansung melempar cindi kedalam mobil dengan kasar
__ADS_1
"aw...."adu cindi merasa bokongnya nyeri, karna mendarat dengan kasar pada jog mobil.
rafa tidak mempedulikan aduhan cindi dan melajukan mobilnya dengan diam.
"ada yang ingin kamu jelaskan?"rafa yang akhirnya membuka suara karna cindi hanya diam
"tentang?"bukannya menjawab,cindi malah berbalik bertanya. dan sukses membuat rafa semakin emosi
rafa menambah kecepatannya.
cindi merasa sedikit ngeri melihat rafa yang sedang marah kali ini.
"tentang kemesraanmu dengan mantan kekasihmu itu"suara bariton rafa membuat cindi menoleh.ada penekanan disetiap kata yang rafa ucapkan. cindi tahu sekarang rafa sedang marah di level 10.
"ma-maksudmu kevin?aku tidak bermesraan dengan dia"ucap cindi masih menatap rafa dengan takut.
rafa tersenyum sinis membuat cindi semakin merinding "jadi menurutmu berpelukan dan berciuman itu bukan bermesraan namanya?"
mulut cindi menganga mendengar pernyataan rafa "kamu mengikutiku?" bukannya menjelaskan,cindi malah menaikan intonasinya.
"ya,aku melihat semua...aku melihatmu berciuman dengannya" ucap rafa membuat cindi semakin tegang "apa dihatimu sama sekali tidak ada diriku ? apa gunung es itu sama sekali tidak bisa mencair?" lirih rafa masih memperhatikan wajah cindi
"bukan seperti itu..."lirih cindi menundukan kepalanya semakin dalam. "aku-"cindi mengangkat kepalanya dan tersentak "rafa....awas....!!" jerit cindi
rafa menfalihkan pandangannya, didepan ada sebuah truk tangki minyak yang oleng dari lawan arah.
***
wiu...wiuu...wiuuuu....
suara ambulance menuju sebuah rumah sakit, seorang pria terlihat didorong menuju ruang gawat darurat.
cindi masih tidak percaya dengan apa yang terjadi, bajunya sudah tak berbentuk, baju yang tadinya berwarna putih kini berubah menjadi merah terkena darah rafa
sudah lebih dari 2 jam dokter menangani rafa, tapi belum juga keluar.cindi masih gelisah menunggu sang dokter keluar
__ADS_1
tak...tak...tak
"sayang...."panggil seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah elina.cindi yang melihat elina datang tidak bisa mengatakan apapun dan hanya memeluk wanita itu"bagaimana keadaan rafa?" sambungnya saat cindi melepaskan pelukannya.
cindi menggeleng "cindi tidak tahu ma... dokter belum keluar"cindi menunduk,dan airmata yang dari tadi ia tahan, pada akhirnya luruh juga.
"kalau begitu...kita obati dulu luka mu ya" ucap elina lembut.
cindi memegang keningnya yang terasa nyeri, karna ternyata tanpa ia sadari keningnya terluka saat ia terjatuh dijalan tadi, keningnya membentur kerikil hingga membuat lubang dan darah segar mengalir dari sana.
elina membantu cindi membersihkan luka di kening nya.
tidak lama kemudian dokter akhirnya keluar dari ruangan dimana rafa ditangani.
"dokter...bagaimana keadaan putra saya?" tanya elina menghampiri dokter yang baru saja keluar itu
"kami sudah menjahit luka luarnya,keadaannya sudah mulai setabil, kita sedang menunggu hasil lab nya, setelah hasilnya keluar baru bisa memastikan ada masalah atau tidak di kepalanya,karna sepertinya terjadi benturan yang cukup keras dibagian kepalanya"jelas sang dokter
"boleh saya masuk dok?" tanya cindi yang mendapat anggukan dari dokter itu
"sebentar lagi pasien akan segera dipindah keruang perawatan"dokter itu kemudian meninggalkan tempat tersebut.
ketika memasuki ruangan tersebut,terlihat rafa sedang tertidur diatas ranjang rumah sakit karna masih terpengaruh obat bius,
dilihatnya kepala rafa yang dibalut perban melingkari keningnya.
tanpa terasa air mata itu kembali menetes tak terhenti, tiba-tiba usapan lembut pada punggung cindi membuat nya melihat siapa yang mencoba menenangkannya.
mama elina mencoba menenangkan cindi dengan pelukan dan usapan lembut pada punggung cindi,membuatnya merasa sedikit tenang.
happy reading...
__ADS_1