
"Jadi, kemana kita akan pergi? "Kenz bertanya karna Zaf hanya mengajaknya berjalan menyusuri kota Barcelona tersebut.
"Tidak tahu, cuma mau jalan-jalan saja" Ucap Zaf begitu entengnya.
Kenz menghela nafasnya, merasa lelah juga karna mereka berjalan sudah lebih dari dua jam dan itu tanpa tujuan.
"Bukan kah, kau yang sudah lama tinggal disini, jadi kau pasti tahu tempat-tempat yang bagus kan? " Zaf mengedarkan pandangannya melihat bangunan-bangunan begah dan indah disana.
"Memangnya kamu pikir aku disini ada waktu untuk berjalan-jalan? " Kenz mencubit hidung Zaf gemas.
Harus berapa kali ia menjelaskan kalau hari-hari Kenz disini hanya ia isi dengan bekerja dan bekerja.
Mana ada waktu untuk ia jalan-jalan? ambisinya saat itu jauh lebih penting.
"Iya aku tahu, oh iya...bagai mana kabar paman Daniel? " Zaf menanyakan iya tentang ayah Kenz.
"Papa baik, dia ada di rumah, kau mau berkunjung? "Kenz memberi penawaran.
"Ha... ah...? " Zaf malah bingung harus menjawab apa.
"Jangan gugup begitu, bukankah kau sudah pernah bertemu dengan ayah ku sebelumnya? " ucap Kenz yang mengerti kekhawatiran Zaf.
Zaf tanpa sengaja menggaruk kepalanya yang Tiba-tiba terasa gatal "Dulu kan beda... "
"Beda apanya? " Kenz.
"Tentu saja berbeda!"
"Apa nya yang berbeda? " Kenz masih menggoda.
"Sepertinya dulu aku terlalu kasar pada paman" Zaf mengingat pertemuannya dengan Daniel saat dipejara dulu.
Kenz ikut tersenyum saat melihat wajah Zaf yang terlihat merasa bersalah.
"Ayo! " Kenz menggandeng tangan Zaf kemudian memasukan tangan Zaf kedalam saku mantelnya.
Menarik gadis itu agar berjalan mengikutinya.
"Kita akan kemana? " Zaf bertanya saat Kenz hanya diam mengajaknya kesuatu tempat.
setelah beberapa lama berjalan, akhirnya mereka sampai didepan pagar putih yang besar.
"Kita dimana? " Zaf bertanya kembali, karna tidak ada jawaban dari pertanyaanya yang sebelumnya.
"Ini kediaman keluarga Smith"ucap Kenz memperlihatkan pagar yang menjulang tinggi, dengan tembok yang kokoh.
Tidak terlihat bangunan didalamnya, karna terhalang oleh taman yang begitu luas.
Tiba-tiba, seorang satpam membukakan pintu pagar.
Pria paruh baya itu memberikan hormat kepada Kenz yang berdiri disamping Zaf.
__ADS_1
"Selamat datang tuan"ucap Sqtpam tersebut.
Tiba-tiba Zaf dapat merasakan aura dingin disekitar Kenz.
Lelaki itu hanya menganggukan kepalanya sedikit sebagai jawaban dan tidak ada satu kata pun yang keluar untuk hanya sekedar membalas sapaan dari satpam tersebut.
"Waah...sepertinya kau sudah cocok menjadi seorang presdir yang dingin tuan Kenz" Zaf menyenggol Kenz dengan sikunya, menggoda lelaki yang kini sedang berjalan beriringan dengannya.
"Jangan bicara lagi, ayo masuk"Akhirnya Kenz bersuara setelah mereka sampai di bangunan utama yang begitu megah.
Walau Zaf sudah tahu seperti apa kemewahan orang-orang kaya sebelumnya, tapi melihat bagai mana kemewahan kediaman Smith ini sungguh membuatnya terpesona.
"Kau suka? "Tanya Kenz saat melihat Zaf yang seperti begitu penasaran melihat kearah setiap sudut ruangan tersebut.
"Kau tinggal disini? " Bukannya menjawab, Zaf malah berbalik bertanya.
"Tidak, aku tinggal di Apartement" Jawab Kenz.
"Lalu, untuk apa kita kesini? " Zaf tak mengerti.
"Kita akan bertemu dengan nenek"
Zaf tiba-tiba menghentikan langkahnya, membuat Kenz juga ikut berhenti.
"Kenapa tidak bilang kalau akan bertemu nenek? "Ucap Zaf "Aku tidak membawa apa-apa untuk hadiah"Zaf metmrasa kebingungan.
"Memangnya aku ada rencana untuk datang kesini?Aku mengikuti langkahmu dan karna tadi posisi kita yang dekat dari sini makanya aku bawa kamu kesini sekalian kita menjenguk nenek tua itu"Kenz menjelaskan.
"Memangnya apa hubungan kita?" Ucap Kenz.
Dan itu berhasil membuat Zaf kebingungan bagai mana harus menjawab.
Jika dipikir-pikir, memang tidak ada status yang jelas dari hubungan mereka saat ini.
Entah itu sebagai pacar atau calon istri, Zaf menepuk keningnya sendiri.
"Benar juga, kita memang tidak memiliki hubungan apapun"Gumam gadis itu.
Kenz yang melihat itu jadi tersenyum sendiri, akhirnya ia bisa mengumumkan kepada semua orang tentang hubungannya dengan Zaf.
Karna ia bisa melihat, Zaf sudah bisa menerimanya kembali.
"Baiklah nona, apakah kau sudah siap untuk bertemu dengan nenek? " Kenz bertanya.
Namun Zaf memundurkan langkahnya. Ia merasa ragu untuk apa dia bertemu dengan nenek nya Kenz, padahal ia tidak memiliki hubungan spesial dengan Kenz.
"Apa bertemu dengan nenek harus memiliki hubungan khusus dulu denganku? " Kenz seolah bisa melihat keraguan di mata Zaf.
"Kenz, sepertinya aku akan merasa tidak senang jika kamu memperkenalkan ku sebagai adik mu didepan nenek, sebaiknya aku kembali ke hotel saja" ucap Zaf dengan keraguannya.
Lebih baik Zaf kembali ke hotel saja dari pada merasa sakit hati mendengar ucapan Kenz nanti.
__ADS_1
"Lalu aku harusnya memperkenalkan mu sebagai siapa? " Tanpa Zaf duga kini wajah Kenz begitu dekat dengannya.
Bahkan hidung mereka saling menempel saat Zaf mendogak ingin menjawab ucapa Kenz.
Kedua bola mata Zaf membola saat wajahnya dapat merasakan nafas Kenz yang berhembus.
Lidah Zaf tiba-tiba kelu seakan mati rasa dan tak bisa menjawab ucapan Kenz.
Cup
Satu kecupan untuk Zaf.
"Kau adalah calon nyonya Smith, apa yang membuatmu ragu? "Ucap Kenz pelan namun mampu meruntuhkan keraguan Zaf seketika.
Tanpa aba-aba kedua tangan Zaf diangkat oleh Kenz agar melingkarkan pada lehernya.
Kenz kembali menyatukan bibirnya diatas bibir Zaf, terasa lembut dan menggoda.
Setiap sentuhan itu dapat Zaf rasakan,bagai mana Kenz memperlakukannya begitu lembut.
"Apa semua ini masih belum bisa membuatmu yakin dengan kesungguhan ku? " Ucap Kenz setelah melepaskan pagutannya "Apa kamu butuh ucapan cinta dari ku? ".
Zaf memang tidak mengharapkan Kenz untuk mengatakan cinta padanya, apalagi untuk meminta agar pria itu mengatakan secara gamblang seperti apa hubungan yang mereka jalani.
"Jadi, kau ingin memiliki status apa saat aku memperkenalkan mu dengan nenek nanti? " ucap Kenz.
Zaf yang merasa gugup dengan pertanyaan Kenz,hendak menurunkan tangannya yang masih melingkar dileher pria tersebut.
Namun buru-buru Kenz mengembalikannya ke posisi sebelumnya "Jawab dulu pertanyaan ku" ucap Kenz masih memegangi lengan Zaf agar tetap melingkari lehernya.
Zaf menunduk, ia merasa malu, dan kenapa juga Kenz harus menanyakan hal tersebut? seharusnya tanpa Zaf minta Kenz juga pasti sudah tahu.
"Kenapa tidak menjawab? " Kenz menaikan dagu Zaf agar gadis itu melihat kearahnya.
Dan wajah yang memerah itu dapat Kenz lihat dengan begitu jelas.
Sepertinya sudah cukup Kenz mau nggoda Zaf kali ini.
Ibu jari Kenz menyusuri bibir Zaf yang berwarna pink tersebut.
Dan kembali ia mendaratkan ciuman kepada bibir yang menggoda tersebut.
Begitu lama mereka berciuman.
Bahkan tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang melihat aksi intim mereka.
"Eghm...! "Sebuah deheman keras terdengar dan itu sontak menghentikan aksi mereka berdua.
Secara bersamaan mereka melihat kearah asal suara tersebut.
Dan alangkah terkejutnya mereka saat melihat siapa yang sudah berdiri memperhatikan mereka.
__ADS_1