
Hari ini adalah jadwal HPL Cindi, namun sampai malam juga tidak ada tanda-tanda Cindi akan melahirkan.
Namun Rafa yang sudah tidak berangkat bekerja dari pagi tadi, merasa pegal pada area pinggangnya.
"Sebelah sini sayang" Rafa mengarahkan tangan Cindi yang mengusap-usap punggungnya keatas dan kebawah.
"Sebenarnya yang mau melahirkan itu aku apa kamu si?" Cindi masih mengusap-usap punggung Rafa.
"Memang orang yang mau melahirkan seperti ini rasanya?" tanya Rafa.
"Mana ku tau, inikan kehamilan pertamaku, lagi pula aku juga tidak merasakan apa-apa saat ini" ucap Cindi menghentikan tangannya.
"Jangan berhenti dong sayang" pinta Rafa.
"Sebentar,aku mau pipis" Cindi berjalan menuju kamar mandi, namun belum sempat membuka pintu kamar mandi, tiba-tiba ada sesuatu yang keluar melalui kewanitaanya.
"Sayang...!" teriaknya Cindi,sedikit khawatir, namun karna ia pernah membaca artikel tentang kehamilan membuatnya lebih bisa menahan diri untuk tidak panik.
Dengan masih memegangi pinggangnya yang terasa begitu pegal, Rafa berjalan mendekati Cindi "Ada apa sayang?" tanya nya kemudian.
Cindi menujuk kearah bawah, dimana ada sesuatu seperti air mengalir melewati betisnya.
"Ap-apa ini sayang?" tanya Rafa panik.
"Mungkin ini yang namanya air ketuban" Jawab Cindi dengan nada yang tenang, namun rasa deg-degan juga ada dalam hatinya.
"Ap-apa? air ketuban? sekarang kita harus bagai mana?" Rafa semakin panik.
" Kamu tenang dong" Cindi mencoba menenangkan suaminya itu, sebenarnya disini siapa sih yang mau melahirkan? kenapa malah Rafa yang begitu panik? " Sekarang ayo kita keluar" Rafa meraih tangan Cindi kemudian menuntunnya untuk keluar dari kamarnya.
"Kamu bangunin mama deh" ujar Cindi.
Rafa tergesa-gesa menuju kamar mama Elina. Karna hari perkiraan lahir Cindi semakin dekat, Rafa memutuskan untuk menginap dirumah papa Erwin.
"Ma...!" dengan keras dan terburu-buru Rafa mengetuk pintu kamar mama Elina.
"Ada apa Raf?" tanya mama Elina setelah pintu terbuka, Masih menguap karna mama Elina baru saja akan memasuki alam mimpinya namun tidak jadi karna Rafa mengganggunya.
"Ma,sepertinya ketuban Cindi udah keluar" Ucapan Rafa membuat mata mama Elina yang tadinya masih mengantuk tiba-tiba membulat karna kaget. Dan rasa kantuknya pun sirna entah kemana.
__ADS_1
"Kenapa baru ngomong...sekarang kerumah sakit" ucap mama Elina yang tak kalah panik.
"Kan baru juga ma keluarnya" ucap Rafa
Mama Elina menuntun Cindi menuju mobil, dan menyuruh Rafa agar membangunkan Rama dikamarnya.
"Rama,kamu yang nyetir" ucap mama Elina saat melihat Rafa sudah akan membuka pintu depan,"Rafa,kamu duduk dibelakang sama mama dan Cindi" mama Elina mengarahkan.
"Kenapa aku ikutan dibangunin si" Gerutu Rama sambil memegang stir mobilnya.
"Kenapa emang? nggak mau bantuin istri abang kamu? awas aja nanti kalau Rama punya istri dan istrinya mau ngelahirin, mama nggak mau bantuin" ucap mama Elina sengit. Tidak tau mengapa, mama Elina setiap apa pum yang menyangkut Cindi pasti bawaannya selalu sensitiv "Kalau papa dirumah,mama juga nggak mau ngrepotin kamu" Ucap mama masih bersungut
Rama hanya menggerutu dalam hati dan dengan pasrah mengikuti perintah mama Elina.
"Baik-baik nyetirnya! kalau sampai ada apa-apa,aku tarik lagi kafe kamu" kini giliran Rafa yang mengancam, dengan masih menahan rasa sakit pada pinggangnya.
"Iya..." jawab Rama dengan nada sedikit jengkel.
Sesampainya dirumah sakit, Cindi disambut para suster dengan kursi roda.
Dengan tergesa mereka menggeledek Cindi menuju ruang perawatan.
"iya tuan kami akan memeriksa nyonya Cindi sudah buka berapa dulu dan nanti jika sudah ada kontraksi baru kami pindah keruang bersalin" seorang dokter menjelaskan.
Rafa hendak bersuara lagi, namun mama Elina menyikut Rafa sebagai pertanda menyuruh pria yang sebentar lagi menjadi ayah itu untuk diam.
Seorang dokter wanita baru saja keluar dari ruangan tersebut dan kembali menjelaskan bahwa Cindi baru buka tujuh, dan meminta para suster untuk memindahkannya keruang persalinan.
"mohon maaf,hanya suami saja yang boleh mendampingi" ucap salah seorang suster ketika mama Elina hendak ikut masuk kedalam ruangan bersalin.
Mama Elina menurut,dan duduk disamping Rama yang tengah duduk dikursi tunggu.
"Kamu sudah menghubungi Marco?" tanya mama Elina pada Rama yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Ivy sudah saya hubungi" Jawab Rama kemudian memasukan kembali ponselnya kesaku celananya.
Diruang bersalin.
"Apa bayi sudah mengajak mengejan nyonya?" tanya seorang suster.
__ADS_1
Cindi menggeleng,kemudian memperhatikan Rafa yang terlihat masih kesakitan pada punggung bawahnya "Kemarilah" ucap Cindi kemudian mengusap-usap punggung Rafa setelah suaminya mendekat. "Masih sakit?"
Rafa mengangguk,terlihat ada keringat dingin dikeningnya,membuat Cindi merasa tak tega.
"Sudah hampir waktunya,apa kamu tidak merasa sakit?" tanya Rafa yang merasa heran, karna melihat Cindi yang bahkan tak merasa kesakitan.
"Aku baik-baik saja" jawabnya dengan senyuman cantik terukir diwajahnya.
Namun tak lama, Cindi merasa ada sesuatu yang mendorong dari dalam perutnya.
Setelah memberi tahu dokter, Cindi pun sudah bersiap untuk berjuang untuk mendapatkan buah cintanya dengan Rafa.
Rafa semakin tegang sambil menggenggam erat tangan Cindi,karna tiba-tiba rasa sakit dipinggangnya menghilang, Rafa memberikan semangat kepada sang istri.
Cindi mengikuti instruksi dari dokter untuk tarikan dan pembuangan nafasnya agar teratur,kemudian mengejan saat bayi didalam juga ikut mendorong.
Setelah tiga kali mengejan, Akhirnya tangis seorang bayi perempuan memenuhi seisi ruangan.
Tanpa terasa setetes airmata jatuh,bukan dari Cindi,melainkan dari Rafa yang merasa bahwa seluruh dunia kini menjadi miliknya ketika bayi mungil itu membuka matanya yang seakan sudah dapat melihat dadynya.
Kecupan bertubi-tubi Cindi dapat dari Rafa diseluruh wajahnya.
Bahkan aksi Rafa membuat para tenaga medis itu tersenyum melihat tingkah dari papa baru itu.
Seluruh keluarga Cindi dan Rafa pun memasuki ruangan perawatan setelah Cindi dipindahkan dari ruang bersalin.
Rama melihat takjub kepada sosok mungil yang tengah tertidur digendongan dady nya. "Raf,sepertinya aku lebih cocok menjadi dadynya" gurau nya membuat Rafa memalingkan tubuhnya agar Rama tak bisa melihat putrinya "Pelit sekali" kemudian duduk disamping Ivy yang ada disamping ranjang diamana Cindi istirahat.
"Jadi,siapa nama gadis kecil kita?" Tanya Ivy.
"Zafira syfana mahendra" bukan Cindi yang menjawab,namun Rafa yang tengah menidurkan bayinya di boxnya.
"Apa artinya?" kini Dika yang bersuara sambil memandangi bayi mungil yang tertidur.
"Cari saja sendiri di Goglee" ucap Rafa kemudian mendekati sang istri.
Rafa mengusir Rama dan Ivy yang berada disamping Cindi,kemudian mengambil alih tempat itu.
Namun,sebelum ia duduk,terlebih dulu mengecup kening sang istri dengan lembut "terimakasih" ucapnya kemudian.
__ADS_1
💟💟💟💟💟