
"Masih sibuk?" tanya Rafa yang baru saja keluar dari kamar mandi,melihat sang istri yang masih sibuk mengetik keyboard pada laptop yang ada dipangkuannya.
"masih sedikit lagi" jawab Cindi tanpa menoleh pada Rafa yang sudah merangkak naik keatas tempat tidur.
"sudah sampai mana skripsinya?" tanya Rafa yang sudah berbaring disamping Cindi dan melingkarkan tangannya memeluk perut Cindi yang masih terlihat rata.
"sudah sampai tahap pemecahan masalah" terlihat Cindi seperti sedang berpikir. "sayang, kamu tahu caranya untuk pemecahan masalah ini?" tanya Cindi menunjukan layar laptop nya.
Rafa mendudukan tubuhnya kemudian mengacak rambut Cindi gemas. "kalau ada maunya aja...panggilnya sayang" ucapnya kemudian melihat yang ada dilayar kotak itu.
"hehe...aku akan memanggilmu sayang untuk selanjutnya" ucap Cindi dengan cengiran kudanya.
"kamu bisa bikin masalahnya,kenapa tidak bisa memikirkan pemecahanny?" Rafa terkekeh.
Cindi terlihat kembali berpikir lagi. "tapi sepertinya itu adalah masalah yang pasti akan ditemui oleh setiap perusahaan,dan bahkan jika tidak ditangani dengan baik, itu akan bisa berakibat fatal. Bagai mana menurutmu?"
Rafa mengangguk kemudian menjelaskan secara terperinci mengenai hal-hal yang menjadi tema dari skripsi Cindi.Tidak lupa juga memberi tahu bagaimana cara mengatasi berbagai masalah dalam bisnis tentunya.
terkadang aku lupa,bagai mana jeniusnya suamiku. batin Cindi.
"aku kangen...boleh minta jatah tidak?" pertanyaan Rafa ketika Cindi sudah meletakan laptopnya diatas nakas disampingnya sontak membuatnya blushing.
"hem?" Cindi berusaha menetralkan wajahnya agar tidak terlihat memerah saat Rafa melihatnya.
Rafa manarik tubuh Cindi dan memeluknya begitu erat. "aku kangen..." rengek Rafa "apa kata dokter"
"dokter bilang bayinya sehat,sebenarnya tidak masalah untuk berhubungan badan asal dengan pelan" jelas Cindi.
"oke" Cindi terkejut karna Rafa tiba-tiba bangun dari tidurannya.
"oke apa?" tanya Cindi bingung.
"oke,kita lakukan dengan pelan" ucap Rafa,kemudian memulai aksinya.
***
Sudah tiga bulan Imelda menjalin hubungan dengan Dika,namun imel merasa sama sekali tidak ada kemajuan dari hubungan mereka.
__ADS_1
huft...
Imel menghela nafasnya, " masak iya aku yang harus memulainya duluan? apa aku harus menjadi gadis agresif?" ucap Imel pada dirinya sendiri.
ia menatapi dua buah lembar tiket ditangannya, ingin mengajak dika namun gadis itu hanya berpikir maju atau mundur.
Selama mereka pacaran memang sama sekali tidak melakukan aktifitas seperti orang pacaran biasanya.
jangankan nonton atau apel dirumah Imel saat malam minggu, saling memberi kabar lewat telfon saja bisa dihitung dengan jari.
Imel juga ingin sekali pacaran seperti teman-temannya. Nonton kebioskop bersama, makan bareng, diapeli tiap malam minggu.
ini malah apa? Dika yang duduk didepannya malah sibuk dengan earphone yang ada ditelinganya.
"Dik" Imel menjawil punggung Dika dengan jari telunjuknya.
Dika yang merasa ada yang menyentuh penggungnya pun berbalik. "iya Mel?" tanya Dika saat menyadari Imelda ada dibelakangnya, kemudian melepaskan earphone nya.
"sabtu nanti ada acara tidak?" tanya Imelda ragu.
Dika terlihat seperti sedang berpikir "sepertinya tidak ada, ada apa?" tanya Dika kembali.
Dika menatap lembaran tiket tersebut dengan sebelah alisnya yang terangkat. "oke" ucapnya singkat kemudian kembali memasang earphonenya.
Imelda tersenyum bahagia mendengar jawaban dari Dika. Tidak menyangka jika Dika akan setuju dengan ajakannya.
Imel tau,Dika adalah typikal orang yang cuek, jadi mungkin akan sulit untuk bisa lebih dekat lagi.
Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam. Imelda sudah mondar-mandir untuk menunggu kekasihnya untuk datang menjemputnya.
Tadi Dika sudah mengabarkan jika dia sudah dalam perjalanan. Dan Imelda sudah tidak sabar lagi menunggunya. Ia pun sudah berpenampilan yang menurutnya paling bagus malam ini.
brumm...
Suara motor terdengar dari arah depan. Imelda yang mendengarnya langsung saja berlari mendekat.
ah, benar...itu adalah Dika. Sedang turun dari motornya untuk masuk kerumah Imelda tentu untuk meminta izin pada orang tua imelda untik mengajak gadis itu jalan.
__ADS_1
Merekapun segera menuju mall terdekat, setelah mendapat izin dari orang tua imelda.
"aku beli popcorn dulu ya" ucap Imelda, kemudian menuju stand popcorn setelah mendapat anggukan kepala dari Dika. Kemudian melemparkan dompetnya pada gadis itu agar membayar popcornnya dengan isi dari dompetnya.
sedangkan Dika memasangkan earphonenya lagi.
Imelda kembali dengan satu buah popcorn ukuran jumbo dan dua gelas cola ditangannya.
Dika yang melihat Imel kesusahan,kemudian melepas earphonenya lalu mengambil alih benda yang Imel bawa tersebut.
"filmnya akan segera diputar,ayo kita masuk" Imelda menarik lengan Dika untuk masuk kedalam gedung bioskop.
Mereka menikmati film bergenre horror komedy tersebut. Walau terkadang Imelda menjerit ketakutan saat ada setan yang keluar,namun terkadang ia tertawa saat pemainnya melucu.
Perhatian Dika tidak pada film yang ditontonnya,namun malah memperhatikan wajah Imelda yang berubah-ubah ekspresinya.Membuatnya gemas.
cup...
Sebuah kecupan mendarat manis dipipi imelda,membuat pipi gadis itu terasa panas dengan degub jantung yang begitu cepat.
Walau pandangannya samar namun Dika bisa dengan mudah melihat buratan merah pada pipi gadis itu.
Mata kedua sejoli itu saling memandang. Entah dorongan dari siapa, perlahan Dika mendekatkan wajahnya pada gadis itu.
cup...kini kecupan mendarat dibibir Imelda.
Imelda memejamkan matanya,menikmati sentuhan bibir Dika diatas bibirnya.
Dika menarik kepalanya menjauhkan wajahnya untuk melihat wajah imelda.
Mata gadis itu masih terpejam. Seolah mendapatkan lampu hijau, Dika kemudian menarik tengkuk gadis itu dan kembali menyatukan bibir mereka.
Penyatuan yang tadinya hanya sebuah kecupan,kini berubah menjadi lumatan.
Dan tanpa mereka sadari, disamping kursi mereka ada yang memperhatikan gerak-gerik mereka. Dan sipenonton hanya bisa geleng-geleng kepala melihat apa yang dilakukan pemuda-pemudi disampingnya itu.
kasihan...karna dia menonton sendiri tidak ada teman yang menemani...
__ADS_1