
"aku harap nanti kamu nggak bikin malu keluarga dengan tingkah kamu barusan" ucap Elfa yang sudah duduk disofa panjang yang ada disamping pintu ruangan Rekha. Tentu saja dia bicara seperti itu setelah memastikan gadis yang baru saja turun dari pangkuan Rekha itu keluar dari ruangan Rekha.
"memangnya apa yang aku lakukan?" tanya Rekha enteng yang seperti tidak melakukan apa-apa.
"oh ya? jadi apa kamu pikir aku buta?" ucap Elfa sedikit meninggikan suaranya.
"maksud kamu yang tadi?" ucap Rekha tanpa rasa bersalah. Elfa tak menjawab namun tentu Rekha tahu jika jawabannya adalah iya. "namanya Angel,biasa artis baru yang meminta bantuan untuk proses konsernya", jawab Rekha yang bermaksud untuk menjelaskan pada Elfa.
" aku nggak perlu penjelasan"Elfa berdiri kemudian menuju pantry kecil yang ada disudut ruangan Rekha,ia berniat membuat teh untuk dirinya sendiri.
"terus...kenapa marah-marah?" Rekha memperhatikan gerak-gerik Elfa yang sedang sibuk membuat teh. Sedamgkan dirinya berjalan menuju sofa yang tadi diduduki Elfa.
"aku nggak marah ya..." elak Elfa,dia tahu konsekuensi menjadi istri dari Rekha. Laki-laki itu memang tidak pernah serius dalam menjalani suatu hubungan. Apalagi pekerjaannya yang berkaitan dengan para artis-artis yang pastinya cantik-cantik. Pasti akan banyak makan hati jika ia sampai jatuh cinta pada lelaki didepannya itu.
Namun mau bagaimana lagi,Elfa juga tidak bisa menolak perjodohan dari kedua keluarga besar mereka. Elfa sudah merasa lelah mencari sosok yang bisa menggantikan posisi Rafa dihatinya.
"cemburu?" Rekha menyimpulkan sendiri.
Elfa memutar matanya merasa malas menghiraukan ucapan Rekha. kemudian duduk disamping Rekha "memangnya kalau aku cemburu,kamu akan berhenti bermain dengan mereka?" tanya Elfa meletakan tehnya didepan meja yang ada dihadapannya.
Rekha menggedikan bahunya "sepertinya tidak" jawab Rekha,tentu saja Elfa sudah tau jawabannya."tapi jika kamu bilang cemburu, aku akan lebih senang"sambung Rekha lagi.
Elfa hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Rekha. Dia tau,sifat Rekha memang begitu,suka ceplas-ceplos dalam bicara.
__ADS_1
"Sekertarismu baru ya?" tanya Elfa tiba-tiba.
Rekha menaikan alisnya pertanda bahwa yang Elfa katakan memang benar "kenapa?" tanyanya kemudian.
"pantas saja...tadi aku disuruh nunggu dulu didepan" ucap Elfa sambil menyesap teh buatannya. "dia bilang kamu lagi nggak bisa diganggu"
"ucapannya benarkan? untung saja tadi kamu liatnya cuma dia duduk dipangkuanku. kalau kamu liat aku lagi ada diatasnya,kamu pasti lebih marah lagi" ucap Rekha dengan begitu santainya.
Elfa hanya mencebik,tidak merasa risih dengan ucapan Rekha yang begitu keterlaluan,sebenarnya apa sih hubungan antara mereka berdua?.
"ada apa datang kesini?" tanya Rekha kemudian.
Elfa membuka tasnya,kemudian mengambil sesuatu dari dalam sana.
"matamu buta? ini contoh undangan!" geram Elfa yang menunjukan beberapa contoh undangan pernikahan mereka yang akan diadakan satu bulan lagi.
"aku tau itu undangan,maksudku kenapa membawanya kesini?" Rekha bersidekap membuat Elfa semakin jengkel.
"tentu saja menunjukannya padamu, untuk tau bagai mana pendapatmu" ucap Elfa masih dengan nada tinggi.
"ohhh...bukannya sudah kukatakan, kalau semuanya aku serahkan padamu?. Kamu bebas menentukan pernikahan impianmu, dan aku hanya akan menurutinya saja"
"aku tidak menikah sendirian ya...!" ketus Elfa.
__ADS_1
sebenarnya butuh berapa juta kesabaran sih menghadapi makhluk yang duduk disampingnya.
"oke...ini bagus" ucap Rekha menunjuk sebuah undangan berwarna putih gading, terlihat sederhana namun elegant.
"satu pertanyaan besar mengganjal diotakku" ucap Elfa memasukan contoh undangan yang ia bawa tadi kembali kedalam tasnya.
"apa itu?" tanya Rekha menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dibelakangnya.
"akan bertahan berapa hari nanti usia pernikahan kita?" Elfa beranjak dari duduknya.
namun Rekha mencekal lengannya,menghentikan langkah Elfa.
"kenapa pertanyaanya berapa hari?, Tentu saja pernikahan kita akan bertahan sampai kita tua" ucap Rekha.
Elfa menanggapinya dengan senyum miringnya "dengan sifatmu yang seperti ini?. kurasa ucapanmu hanyalah mimpi disiang bolong" ucap Elfa kemudian menepis tangan Rekha dan berjalan menuju pintu keluar.
Rekha hanya diam melihat punggung gadis tunangannya itu menjauh dan kemudian menghilang dibalik pintu.
suatu hubungan yang didasari dari perjodohan apakah bisa bertahan lama?. Bahkan tidak ada cinta dari keduanya.
entahlah... apakah pada akhirnya kedua sejoli ini akan bisa bertahan sampai tua seperti yang Rekha katakan.
__ADS_1