
kini rafa dan cindi berada ditepi danau,cindi masih terperangah dengan tempat itu,dulu tempat itu hanyalah tempat terbengkalai yang tidak terawat, dan kini berubah menjadi tempat yang indah dengan pepohonan rindang yang terawat serta ada taman yang indah dengan berbagai macam bunga. sungguh tempat yang bisa digunakan untuk memanjakan mata.
"masih ingat tempat ini?"tanya rafa mengalihkan pikiran cindi.
"hmm?"
"ini tempat kamu menangis waktu itu... dan menceritakan semua masalahmu padaku"
"oh ya?" cindi tersenyum tidak percaya. kemudian mengernyitkan keningnya "tapi kapan aku nangis,perasaan waktu itu nggak nangis" sangkal cindi.
rafa terkekeh "iya...nggak nangis"
rafa menarik cindi untuk duduk disebelahnya ditepi danau itu,
"tempat ini berubah...kamu juga berubah" ucap rafa.
cindi menatap rafa seakan bertanya apa yang berubah dari dirinya.
"dulu kamu orang yang pendiam... sampai setu sekolahan tidak ada yang berani mendekatimu,dan memberimu julukan cinderela berhati es" rafa mengingat saat kembali kemasa SMA.
"dulu ya?"cindi menghela nafas sekejap "dulu aku hanya takut jika aku punya teman akan jadi anak nakal... karna papa selalu bilang agar aku tidak membuat nya kecewa...dulu papa merasa dikecewakan mama,karna mama memilih bunuh diri dari pada menceritakan masalah mama pada papa...dan papa bilang saat melihat mataku,papa seperti dejavu yang mengingatkannya dengan rasa kecewanya pada mama"cindi mencoba mengerti perasaan papanya, karna dia sendiri juga baru tahu alasan papanya yang seakan membenci dirinya setelah papanya sadar dari operasi beberapa waktu yang lalu.
"mata kamu canti, kenapa menyalahkan mata cantikmu?"
"bukan menyalahkan...hanya mataku ini turunan dari mama makanya jika papa lihat aku dia seperti melihat mama"
"pantas saja waktu mama lihat kamu dia langsung nyebut nama mama kamu"
"oh iya... tante...tante gimana kabarnya?"
__ADS_1
"baik...mama sering nanyain kamu... nanti dari sini kamu mau mampir kerumah?"
cindi mengangguk tanda setuju, kemudian mengalihkan pandangannya pada danau indah didepannya.
mama elina langsung berhambur memeluk cindi setelah menjawab salam dari gadis yang sangat ia rindukan itu.
disana juga ada elfa yang sedang duduk diatas sofa,elfa melambaikan tangan menyapa cindi dan ditanggapi anggukan oleh cindi.
cindi merasa hatinya sedikit sesak saat melihat jari manis alfa yang bertengger cincin tunangan disana.ya cindi melihatnya saat elfa melambaikan tangannya pada cindi tadi.
mereka bertiga berbuncang ria diruang tamu,sedangkan rafa membersihkan diri dikamarnya.
tidak lama,elfa berpamitan karna sekarang elfa sudah punya apartemen sendiri,jadi dia tidak tinggal dirumah elina lagi.
"nanti nginep sini ya sayang... mama masih kangen"bujuk elina.
"nanti biar mama yang ngomong sama aryana"ucap elina sambil mengambil ponsel yang ada diatas meja kemudian menghubungi aryana.
cindi dan elina begitu asyik mengobrol dari selesai makan malam hingga sekarang pukul 11 malam.
elina mengantar cindi kekamar tamu yang sudah disiap kan oleh pembantunya.
"ya sudah...kamu istirahat ya..."ucap elina sambil mengecup pipi cindi dengan senyum hangat khas dari seorang ibu.
cindi mengguk dan membalas senyum pada elina,dan kemudian masuk kedalam kamar itu.
cindi melempar tubuhnya diatas ranjang yang berukuran sedang itu,dan mencoba memejamkan matanya,tapi pikirannya masih melayang entah kemana harus nya aku selalu bawa obat tidur,kalau begini bagaimana aku melewati malam ini? ucap cindi dalam hati sambil beranjak dari tidurnya,kemudian berjalan menuju jendela besar disamping ranjangnya.
__ADS_1
suara pintu terbuka mengagetkan cindi yang masih melamun didepan jendela. cindi menatap sosok yang menghampirinya dengan berjalan santai menuju tempatnya berdiri.
"kenapa belum tidur?" ucap orang itu yang tidak lain adalah rafa.
"hem...tidak bisa tidur"jawab cindi"biasa... insomnia".
"sejak kapan?"rafa heran sambil menuju ranjang cindi kemudian duduk diatasnya.
"sejak pergi dari rumah...nggak bisa tidur kalau nggak minum obat tidur".
"coba sini..."rafa melambai pada cindi agar mendekat padanya.kemudian menyuruhnya duduk disampingnya.
cindi menurut saja,dan merasa heran pada tubuhnya sendiri karna begitu menurut pada perintah rafa.
rafa berbaring dan cindi masih diam duduk disampingnya.melihat cindi yang hanya terdiam,rafa menarik lengan cindi hingga membuatnya terjatuh diatas dada rafa dan membuat hidung cindi terasa sakit karna terantuk pada dada rafa.
"aw..."keluh cindi mengelus hidungnya yang terasa sakit.
"tidur lah..."ucap rafa memejamkan matanya.
"ha...?tidur...?seperti ini..?"cindi mencoba melepaskan pelukan rafa,tapi tenaga rafa lebih besar darinya hingga cindi hanya bisa pasrah.
"pejam kan matamu"rafa tanpa membuka kelopak matanya yang terpejam
"tapi kalau begini aku tidak nyaman"cindi masih berusaha melepaskan diri.
"jika bergerak lagi,aku cium" ucapan rafa sontak membuat cindi langsung terdiam.
kemudian mencoba memejamkan matanya,aroma mintz yang menenangkan serta degupan jantung rafa yang seakan mejadi melodi indah di telinga cindi, membuatnya tanpa sadar jatuh kedalam mimpi yang indah.
__ADS_1
happy reading semua...
jangan lupa jempolnya