Cinta Sedingin Es

Cinta Sedingin Es
extra part2


__ADS_3

cindi duduk sendiri ditepi ranjangnya, memperhatikan jendela kaca yang terlihat gelap karna ini memang sudah terlalu larut untuk nya berjaga.


hari ini malam tahun baru,tapi rafa malah lembur sampai selarut ini,sudah hampir satu minggu ini rafa selalu pulang saat cindi sudah terlelap,dan cindi merasa diterlantarkan oleh rafa.


katanya nggak akan ninggalin aku sendiri, katanya cinta mati...cih...apa-apaan? ini saja aku ditelantarin.gerutu cindi dalam hati.


cindi membaringkan tubuhnya diatas ranjangnya yang empuk, berbolak-balik mencari posisi yang nyaman.


berusaha menutup matanya,tapi cindi tetap takbisa terlelap.kemudian bangun lagi,duduk kemudian mengusap wajahnya gusar.


cindi melihat jam yang menempel pada dinding kamarnya,sudah pukul 23:30 tapi belum ada tanda-tanda suaminya sudah pulang.


cindi kembali menghempaskan tubuhnya kembali keatas tempat tidurnya, kemudian memejamkan matanya,dan tak lama,


ckleekk...


suara pintu kamar yang terbuka


cindi yang membuka matanya langsung melotot,karna kamarnya kini menjadi gelap gulita,


cindi merasakan ada sesuatu yang naik keatas ranjangnya,karna dia bisa merasakan kasurnya bergerak.


tak lama,kamar yang tadinya gelap,menjadi remang karna seseorang menyalakan korek api tepat didepan dira yang sudah duduk.


korek yang dinyalakan itu membuat satu buah lilin putih menyala diujungnya.terlihatlah wajah rafa yang sedang tersenyum ceria dengan membawa sepotong kue dan sebuah lilin yang ia nyalakan sebagai penerang dikamarnya.


"happy birth day my wife" ucap rafa mendekatkan kue nya kepada cindi.


senyum cindi pun terukir dibibirnya.


cindi melantunkan doa nya kemudian meniup lilin yang rafa nyalakan tadi dan membuat ruangan itu kembali gelap gulita.


"mana kadonya?" cindi menengadahkan kedua tangannya,setelah rafa kembali menyalakan lampu kamar mereka,


rafa gelagapan karna tidak menyiapkan kado sebelumnya "apa yang kamu ingin kan sayang?semua untukmu" rafa mengecup pelipis cindi.


cindi mengerucutkan bibirnya "biasanya orang ulang tahun kan dapat kado"


"maaf sayang...tadi cuma sempat beli kue, nggak sempat beli kado" ucap rafa menyesal.


"oke...kalo kamu nggak ngasih aku kado, kalau gitu aku yang kasih kamu kado" ucap cindi"tapi tutup mata kamu!" perintah cindi, dan rafa hanya menurut.

__ADS_1


"aneh ya sayang,kamu yang ulang tahun,kamu juga yang kasih aku kado" ucap rafa masih dengan matanya yang terpejam.


cindi mengambil sesuatu dilaci nakas sebelah ranjangnya,kemudian menyodorkannya kedepan rafa "buka matanya"


rafa membuka matanya,dan sontak matanya membulat lebar karna melihat sesuatu yang cindi tunjukan.


"ini?" rafa mengambil benda kecil itu.


cindi mengangguk dan tersenyum melihat rona bahagia terpancar dari wajah suaminya.


"jadi aku akan jadi dady?" rafa memastikan bahwa benda yang bergaris dua itu berarti positif.


"ya dady,sudah lima minggu" jawab cindi sambil mengelus perutnya yang masih rata.


rafa menarik tubuh cindi dan memeluknya erat,"makasih sayang" ucap rafa kemudian menciumi wajah cindi, dari kening,hidung kedua mata,kedua pipi, dagu dan yang terakhir bibir, rafa berhenti disana dengan melumatnya halus,seakan bibir itu adalah benda rapuh yang mudah pecah.


setelah berlama-lama menautkan bibirnya diatas bibir cindi,,kini ciuman rafa berpindah keperut rata cindi "ini kado terindah sayang" ucap rafa bahagia.


***


kebahagian terpancar pada kedua keluarga besar rafa dan cindi begitu rafa memberi tahu pada mereka tentang kehamilan cindi.


hari ini hari minggu jadi cindi meminta rafa untuk mengantarkannya mengunjungi papanya.


"iya sayang, ini sudah diperjalanan dari bandara" ucap aryana dengan penuh senyum diwajahnya, perasaan bahagia melingkupi dirinya,setelah mendengar berita gembira dari kehamilan cindi,juga kabar ivy yang sudah diperjalanan pulang membuat wanita itu benar-benar bahagia.


"siapa yang menjemputnya?"


"dia bilang tidak usah ada yang jemput,dia ingin naik taksi sendiri katanya" tutur aryana menyiapkan makanan diatas meja.


suara deru mobil terdengar dari arah teras rumah itu.


aryana segera keluar untuk menemui putrinya yang sangat ia rindukan.


deg..


jantung aryana seakan berpacu pegitu cepat saat mendapati putrinya yang sedang turun dari mobil dengan menggendong seorang bayi.


"ma...apa ivy sudah kembali?" seru cindi dari dalam rumah,kemudian menyusul aryana dihalaman rumah.


cindi merasa heran karna melihat aryana terdiam,kemudian pandangannya mengikuti arah pandangan aryana yang tertuju pada ivy yang juga mematung dengan seorang bayi digendongannya.

__ADS_1


***


"apa yang akan kamu jelaskan?" cecar aryana dengan penuh deraian air mata,"kenapa membawa aib dikeluarga kita ivy? anak dari laki-laki brengsek siapa ini?"tangis aryana semakin pecah


ya tuhan,bagai mana bisa putriku membawa seorang bayi?dia bahkan belum menikah. batin aryana.


papa marco menggenggam tangan aryana, berusaha meredam amarahnya.


ivy menunduk mengusap wajah bayi laki-laki yang ada didekapannya.


"anak ini bukan bukan anak ivy ma... ivy bisa buktikan" ucap ivy.


cindi yang duduk disebelah ivy,kemudian mengambil alih bayi lelaki tersebut kepangkuannya.


melihat bayi itu tersenyum membuat hati cindi menghangat,"jika bukan anakmu,lalu anak siapa bayi mungil ini?" tanya cindi dengan memandangi bayi mungil yang ada dipangkuannya.


ivy melihat cindi,air mata gadis itu jatuh saat melihat cindi yang terlihat begitu bahagia dengan kehadiran bayi itu,sedangkan mamanya malah seakan merasa muak saat melihat bayi yang ivy bawa.


"dia anak dari mantan pacar ivy dulu ma" ucap ivy lirih "dengan dengan kekasih selingkuhannya" tutur ivy.


seluruh orang ditempat itu merasa syok dengan penjelasan ivy.


"lalu bagai mana bisa bayi ini ada ditanganmu?" tanya aryana masih belum terima dengan alasan ivy.


"ibu bayi ini meninggal saat melahirkannya, dan papa nya kabur entah kemana" jawab ivy kemudian air mata yang sejak tadi menggenang dipelupuk matanya,akhirnya luruh juga "dia sebatang kara ma" tangis ivy semakin pecah.


cindi mengusap punggung adik tirinya itu bermaksud menenangkan gadis itu dengan sebelah tangannya,karna tangan satunya lagi menggendong bayi itu.


"siapa nama bayi ganteng ini?" tanya cindi memainkan pipi bayi yang baru berusia lima bulan itu.


ivy tersenyum "namanya kenzi arbana" jawabnya.


"wah...bagus banget namanya" cindi mengakat bayi itu keatas dan mencium pipi gembul bayi itu,membuat bayi itu tertawa senang.


aryana mmenghela nafas lega,karna sesuatu yang ia takutkan ternyata tidak terjadi.


kemudian aryana menghampiri kedua gadis itu dan kemudian mengambil kenzi dari gendongan cindi.


tatapan mata bayi kenzi membuat tatapan aryana yang tadinya marah berubah menjadi sayu dan memeluk bayi itu dengan penuh kasih sayang.


walau bukan cucu kandung tapi dia berjanji akan memperlakukan bayi kenzi seperti darah daging nya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2