
Selama masa kehamilan, Cindi memang tidak terlalu rewel, tidak ada acara mutah apa lagi ngidam. Terkadang Rafa sampai heran sendiri, apa mungkin anaknya nanti akan seperti mommynya yang super cuek. Tapi kalau boleh meminta, Rafa tidak ingin anak nya mempunyai sifat seperti Cindi. Sudah cukup ia dipusingkan dengan satu Cindi dan berharap tidak ada Cindi yang lain.
Walau Cindi tidak seperti ibu hamil pada umumnya yang banyak maunya, namun kini Cindi berubah jadi ibu-ibu yang hobi memasak.
Dan yang bikin Rafa gemas adalah, harus Rafa yang merasakan sendiri hasil masakan istrinya itu.
"Cobain dad..." Cindi meletakan satu buah mangkuk yang berisi gulai ayam 'katanya' karna yang Rafa lihat, masakan itu malah seperti rawon. Warnanya hitam.
Rafa menaikan sebelah alisnya "ini beneran gulai, sayang?" Rafa mencoba memastikan. "kok item begini?".
Cindi melihat hasil masakannya yang berada didepan Rafa, kemudian menarik kembali mangkuk itu " kalau nggak mau ya udah..."
"e ehh..." Rafa kembali menarik mangkuk yang sudah akan dimusnahkan oleh Cindi. "kan cuma nanya doang sayang..." Rafa membujuk istrinya itu dengan menampilkan senyum termanisnya.
Cindi melirik sekilas,kemudian duduk disamping Rafa,dan menunggu tanggapan suaminya itu tentang masakannya.
Rafa menyendokan makanan tersebut, kemudian dengan gerakan slow motion ia memasukannya kedalam mulut.
Jantung Cindi berasa dag dig dug. Benar-benar ingin mendengar komentar dari Rafa "gimana?" tanya nya akhirnya. Karna Rafa tidak juga memberikan pendapat.
"Lumayan" jawab Rafa singkat.
Mendengar jawaban dari Rafa yang begitu singkat, membuat gadis itu memicingkan mata. Dia tau pasti dia gagal lagi.
Cindi menarik mangkuk Rafa kemudian mencicipinya. Ia mengernyit karna merasa aneh dengan rasa masakannya sendiri "kok rasany gini? pada hal tadi bener-bener sama kok sama yang diinstrusiin di yutub" gumamnya tapi masih bisa didengar oleh Rafa.
Rafa terkekeh, kemudian mengusap kepala Cindi "masih banyak waktu kok sayang, buat kamu belajar memasak" hiburnya.
Memang selalu kata-kata itu yang Rafa ucap kan, setiap kali Cindi tidak berhasil dengan masakannya. Bagai mana mau berhasil saat memasak, jika ketika memasak Cindi tidak mencicipi sendiri masakannya. Dia merasa mual setiap kali ingin mencoba masakannya jika belum dicicipi oleh Rafa.
Entah kenapa bisa seperti itu,bawaan bayi memang berbeda-beda.
__ADS_1
***
Ivy sedang sibuk mencari peralatan bayi untuk kenzi disebuah super market.
Karna tidak memperhatikan jalan didepannya aat ia sedang mendorong trolinya, tanpa sengaja ia menabrak seseorang.
Brugh...
"awh..." Ringis pemuda itu.
"eh, maaf...maaf tadi saya tidak memperhatikan jalan" ucap Ivi.
"iya nggak papa" jawab pemuda itu. Kemudian melihat barang belanjaan Ivy yang penuh dengan peralatan bayi.
Lelaki itu menautkan alisnya.
Mama muda...batinya.
saat dikasir...
"Astaga dompet aku ketinggalan" ucap seorang pemuda yang masih sibuk mencari dompetnya disaku celananya.
"maaf,bisa cepat sedikit?" tanya ivy,karna pemuda didepannya benar-benar terlalu lama.
Pemuda itu berbalik dan melihat Ivy yang tepat berada dibelakangnya "oh...anda rupanya" ucap pemuda itu.
" Ada apa, kenapa lama sekali?" ucap Ivy melirik belanjaan pemuda itu yang sudah dimasukan kedalam kantung plastik namun tidak juga diserahkan oleh pegawai kasir itu.
"maaf nona, pemuda ini katanya lupa membawa dompetnya" ucap kasir itu.
Ivy menjawab oh tanpa suara kemudian mengambil kartu kreditnya "bayar dulu saja pakai ini" ucap Ivy menyodorkan kartu miliknya.
__ADS_1
"eh..." ucap pemuda itu terkejut.
"Tidak apa,sebagai permintaan maaf dariku,karna tadi menabrakmu" ucap Ivy yang mengerti bahwa ada rasa tidak enak pada wajah pemuda itu.
***
"Kakak...!!" panggil seorang pemuda yang tengah berlari mendekati Ivy yang sedang memasukan barangnya dalam bagasi.
Ivy menoleh,mendapati pemuda yang ia tabrak tadi.
"Kakak...boleh minta nomornya?" Pemuda itu menyodorkan phonselnya,dengan masih mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan karna berlari tadi.
Ivy hanya diam menatap tangan pemuda itu dengan phonsel ditangannya.
"Nanti saya akan menghubungi kakak untuk mengganti uang yang tadi " jelas pemuda itu.
"Tidak usah diganti, lagi pula tidak banyak kok" ucap Ivy kemudian berniat masuk kedalam mobilnya.
"Ayo lah kak...aku tidak pernah berhutang pada seseorang,jika kakak tidak mau menerimanya aku tidak akan bisa tidur saat siang dan tidak bisa makan saat malam" ucap pemuda itu.
Ivy terkekeh mendengar ucapan pemuda itu "eh, maksud ku, tidak bisa tidur saat malam dan tidak bisa makan saat siang" ralatnya.
Ivy mengambil phonsel pemuda itu,kemudian mengetikan nomornya.
"Rama" ucap pemuda itu memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangannya.
"Ivy" jawab Ivy kemudian membalas uluran tangan pemuda itu dan menjabatnya.
__ADS_1