
flash back
sebuah truk tangki minyak berjalan oleng didepan mobil rafa.
rafa yang baru menyadarinya karna teriakan dari cindi, langsung mengurangi laju kecepatannya.
karna merasa mobilnya terlambat untuk berhenti,rafa langsung gerak cepat membuaka pintu mobil disamping cindi dan mendorongnya keluar.
setelah cindi keluar, rafa membanting stirnya kekiri dan mobil berputar 360 derajat, tapi bukannya berhenti mobil itu malah terguling hingga posisinya terbalik.
rafa yang masih mendapatkan kesadarannya, langsung berusaha untuk keluar dari mobil itu.
dengan susah payah ia keluar, dan dengan jalan yang terhuyung ia menuju cindi yang masih tersungkur ditempatnya.
rafa berusaha sekuat tenaga untuk mencapai cindi.setelah mendekat,tiba-tiba terdengar suara ledakan dari belakang rafa. tangki minyak tersebut terguling dan karna ada gesekan mobil rafa yang mengeluarkan percikan api membuatnya berkobar saat terkena minyak yang tumpah.
duuaaarrrrr.....
suara ledakan dahsyat dari mobil tersebut.
rafa melindungi cindi dari ledakan tersebut dengan rengkuhannya, tak lama cindi hanya terdiam menatap rafa yang tersenyum padanya,tapi darah segar menetes tanpa henti mengenai tubuh cindi dan kesadaran rafa semakin menghilang.
flash back off
sudah 3 hari rafa dirawat, dan belum juga sadarkan diri.
cindi yang baru saja datang dari apartemen untuk membersihkan dirinya, melihat elina sedang berbicara dengan dokter.
"ada penyumbatan darah diotaknya dan harus dilakuka operasi secepatnya, tapi kondisinya yang hingga sekarang belym juga sadar, jadi operasi belum bisa dilaksanakan"ucapan dokter yang bisa ditangkap oleh pendengaran cindi
"lalu bagaimana dok?"tanya elina khawatir
"kita hanya harus menunggu hingga rafa sadar"jawab dokter
cindi mendekat dan menghampiri elina, elina yang menyadari kedatangan cindi lengsung memeluk gadis itu.
rasa bersalah menghantui diri cindi dia hanya bisa meluapkan nya melalui airmata yang tiada terbendung
"masuk lah....rafa pasti ingin bertemu" ucap elina melepas pelukannya pada cindi
__ADS_1
cindi mengangguk dan masuk kedalam ruangan rafa dirawat.
rafa masih belum sadarkan diri, dan perban masih melingkar dikepalanya.
tubuh cindi bergetar,sekuat tenaga menahan air matanya dan berusaha membuat sebuah senyuman manis dibibirnya
"hai raf...belum bangun?" ucap cindi sendu berusaha tersenyum namun air mata nya tetap luruh. cindi duduk dikursi sebelah ranjang rafa.
mengingat ucapan dokter tadi,membuat hatinya merasa teriris
"kamu bilang kita akan menikah? bagai mana bisa menikah jika kondisimu seperti ini?" cindi mencoba membanyol tapi air matanya masih tetap mengalir dipipinya. "rafa.....maaf...maaf karna aku terlambat menyadari perasaanku...aku takut kehilangan dirimu..."cindi menghela nafas "jangan meninggalkan ku sendiri... aku tidak akan sanggup... aku takut" cindi menghapus air matanya namun sia-sia, karna pipinya basah kembali,air matanya tidak bisa berhenti.
cindi menunduk dan menggenggam tangan rafa dengan erat.
"ma...kamu jadi saksinya ya..." sebuah suara menginterupsi,membuat cindi mendongak.
melihat rafa membuka mata dan tidak lama mama elina masuk kedalan ruangan membuat cindi terbelalak bingung bercampur kaget.
"tenang saja sayang...mama sudah merekam semua didalam ponsel pintar mama"ucap elina dengan senyum lebar dan dibalas senyum dari rafa
"apa maksudnya?" tanya cindi yang merasa bingung dengan sikap rafa yang baru sadar dan mama elina yang baru masuk.
cindi beralih menatap rafa yang terlihat cengengesan
"aaahhhh......dasar **** tengilll....!" jerit cindi penuh amarah dengan menegepalkan tangannya dan tanpa babibu langsung naik keatas tubuh rafa menindih kedua paha rafa dan memukul-mukul dada rafa
elina hanya bergeleng-geleng kepala melihat tingkah anak dan menantu lebih tepatnya calon menantunya itu "eghm...rafa,kamu selesaikan sendiri" elina kemudia keluar dan melenggang pergi sambil menahan tawanya.
bagaimana tidak, melihat posisi cindi saat ini terlihat begitu ambigu,membuat elina malu sendiri.
cindi masih memukuli dada rafa dengan segala sumpah serapahnya, bagai mana rafa bisa menjadikan kesehatannya sebagai lelucon.
rafa menangkap kedua tangan cindi untuk menghentikan aksi cindi.
"jangan terlalu keras...nanti jahitannya terbuka lagi"ucap rafa,membuat cindi tersadar bahwa tingkahnya saat ini bisa saja membahayakan nyawa rafa, karna jahitan dipunggung rafa belum mengering.
cindi mengangkat tubuhnya untuk turun dari tubuh rafa,tapi rafa malah menarik cundi kedalam pelukannya.
cindi tidak bisa memberontak karna pelukan rafa begitu erat.
__ADS_1
"kenapa lama sekali?" lirih rafa
"apa?" seperti biasa cindi selalu menjawab pertanyaan rafa dengan pertanyaan
"kenapa begitu lama menerima cinta
ku?dan kenapa harus ada drama dulu?" tutur rafa.cindi melepaskan pelukannya dan menatap wajah rafa
cindi menyeka air matanya karna air mata itu kembali terjatuh.
"aku sudah bilangkan,aku sudah menerimamu dari dulu...aku hanya belum siap jika menikah di usia muda" cindi berhenti sejenak "tapi....melihatmu terbaring tidak berdaya, membuat kenangan masa lalu itu datang lagi.... aku takut,orang yang ku cintai meninggalkan aku lagi..."
rafa menarik kepala cindi kedada bidangnya lagi, menyalurkan perasaan tenang dihati cindi, agar gadisnya tidak merasa sedih
"aku tidak akan meninggalkan mu" ucap rafa kembali membuat hati cindi menghangat.
hening beberapa saat.
"rafa...."
"hm?"
"bisa aku turun sekarang?" ucap cindi, karna sekarang posisinya masih berada diatas rafa.
rafa mengangguk dan cindi turun dari tubuh rafa,tapi saat hendak turun dari ranjang, rafa melarangnya
"tidur disini" ucap rafa menarik cindi untuk tidur disampingnya"lihat... ada lingkaran hitam di kedua matamu" rafa menunjuk mata panda cindi.
bagaimana tidak ada lingkaran hitam, karna cindi tidak bisa tidur selama 2 hari ini.
cindi menurut dan merebahkan tubuhnya disamping rafa.
ini adalah ruang VVIP jadi ranjang juga lebar,muat untuk 4orang dewasa.
happy reading....
__ADS_1