
"Hyena, minta Safana untuk menemui ku besok" ucap Zayn pada Hyena melalui sambungan telepon.
"Kemarin bertemu kamu nggak minta nomer ponselnya? " Heran Hyena, sampai kapan ia akan menjadi perantara dari kedua anak manusia ini.
"Tidak sempat, lagi pula sama sekali tidak kepikiran" jawab Zayn sambil rebahan diatas tempat tidurnya.
Tut... tut...
Ternyata Hyena secara sepihak memutuskan sambungan telponnya.
Zayn yang hendak menghubunginya lagi kemudian mendapat notif pesan yang baru masuk.
[Ini nomer Safana, kamu telpon sendiri! ] ternyata pesan dari Hyena.
[kontak
Safana]
Akhirnya mau tidak mau Zayn menelpon gadis itu sendiri.
Safana baru saja selesai membersihkan tubuhnya dari kamar mandi saat panggilan dari Zayn masuk.
Gadis itu melirik kearah ponsel nya yang bergetar dengan kerutan didahinya tanda pertanyaan muncul dalam pikirannya.
"Siapa? " Batin Safana,karna hanya nomor tanpa nama tertera disana.
"Apa orang iseng ya? " Gumamnya yang merasa ragu untuk mengangkatnya.
Ponsel itu kemudian berhenti dengan sendirinya, Safana masih bergeming dan tak berniat untuk menyentuh benda persegi miliknya itu.
Namun sesaat ponsel itu kembali berbunyi, dan akhirnya Safana meraihnya dan menggeser tombol hijau dari layarnya.
"Safana? "Suara yang terdengar tak asing bagi Safana.
"Siapa? " Safana memastikan, jika suara itu benar-benar milik seorang yang ia kenal atau bukan.
"Zayn" Satu nama dalam satu kata itu berhasil membuat jantung Safana seketika seolah berhenti berdetak.
Ia senang sekali,ia memang tidak ingi ada perjodohan yang terpaksa dengan Zayn, namu. Safana tak memungkiri bagai mana ia sangat menyukai pemuda yang entah dari mana mendapatkan nomornya dan kini sedang menelponnya
"Eghm" Safana berdehem untuk menetralkan suaranya agar tidak terdengar gugup karna degup jantung nya yang seolah berdetak dua kali lebih cepat "Oh, iya Zayn... ada apa? " Tanya Safana kemudian.
"Bisa kita bicara? em, maksudku bukan si telpon, kita bertemu" ucap Zayn.
"Baik Zayn, kita bertemu dimana? "Safana.
"Besok aku jemput dirumahmu".
__ADS_1
"Oh, mmm, baiklah"Safana benar-benar merasa gugup, entahlah mungkin ini efek dari perasaan sukanya terhadap Zayn.
"Kalau begitu sampai jumpa" Zayn mengakhiri panggilannya.
Sedangkan Safana masih berusaha menata hati dan perasaannya.
Tidak bisa begini Safa, kau harus bisa setenang mungkin saat bertemu Zayn besok,Katakan dengan jelas kalau kau membatalkan perjanjian pernikahaan itu dan ayah sudah menyetujuinya. Safana bergumam sendiri, berusaha menenangkan hatinya.
Mungkin akan lebih mudah mendapat kan Zayn jika menuruti rencana ayahnya, tapi Safana hanya ingin ia menikah karna ia dicintai dan bukan karna keterpaksaan.
Gadis itu kemudian membaringkan tubuhnya dan berusaha memejamkan kedua matanya, mencari ketenangan dengan merajai mimpi yang akan melupakan kebimbangan dalam kehidupan nyatanya.
***
"Hai"Sapa Safana saat Zayn sudah berada didepan gerbang rumah Safana.
Zayn menyambutnya dengan senyum ramah diwajahnya, dengan gantle pemuda itu membukakan pintu mobil untuk Safana.
"Terima kasih"ucap Safana setelah masuk kedalam.
Zayn kemudian sedikit mempercepat langkahnya memutari mobil untuk menuju kursi kemudinya.
Dan wush...
Mobilpun segera melesat sesaat setelah Zayn masuk kedalamnya.
"Mau pesan? " Zayn menanyakan makanan yang akan dipesan oleh Safana.
"Makanan ringan saja"Jawab Safana.
Zayn menyebutkan pesanannya kepada salah satu pelayan yang berdiri disampingnya.
"Kamu pasti sudah bisa menebak alasanku untuk mengajakmu bertemu kali ini" Zayn berucap mangawali percakapannya.
Safana sedikit mengangguk "Tentang persyaratan itu kan? ".
"Iya, dan aku serius, aku akan menikahimu".
Safana terdiam sebentar,menetralkan degup jantungnya, ada perasaan bahagia juga saat Zayn mengucapkan jika ia bersedia menikah dengan Safana.
Namun ada juga perasaan kecewa saat mengingat jika alasan Zayn adalah untuk mendapatkan Investasi itu.
"Zayn"Panggil Safana lembut, gadis itu memang tidak seurakan Hyena dan mungkin akan cocok untuk menjadi seorang istri idaman. "Kamu tidak perlu melakukan itu Zayn, aku sudah berbicara pada Ayah, dan Ayah juga sudah setuju untuk berinvestasi tanpa persyaratan yang tidak masuk akal itu".Tutur Safana.
Zayn mendengarkan dengan baik, mencerna setiap kata yang Safana ucapkan namun disudut hatinya yang terdalam, ia benar-benar ingin mengenal gadis ini lebih dalam.
Dan juga penasaran, apakah dengan menghadirkan Safana didalam hatinya maka tempat Hyena akan bisa terganti?.
__ADS_1
"Ana, ayo kita mulai hubungan yang lebih serius".
Deg...
Zayn memanggil namanya dengan Ana? Tidak ada yang pernah memanggilnya seperti itu sebelumnya.
Dan apa tadi yang dia bilang? memulai hubungan yang lebih serius? apa Zayn?
"Ana? " Panggil Zayn kembali namun kini dengan menggenggam tangan Safana yang ada diatas meja.
Safana tersentak "Ah, bukankah kamu menyukai Hyena? " Ucap Safana tiba-tiba mengungkit Hyena "Aku tidak ingin ada duri dalam suatu hubungan, Karna suatu saat duri itu akan menyakiti kita".
"Tapi itu hanya duri kecil Ana, dan sangat mudah untuk menghilangkannya, mungkin tidak untuk sekarang tapi percayalah kamu bisa menyingkirkannya" ucap Zayn.
Menggunakan filosofi yang sama dengan yang diucapkan oleh Safana.
"Kamu yakin? " Safana meyakinkan Zayn.
Dan Zyan mengangguk.
"Apa karna investasi itu?" Safana.
Zayn menggeleng "Aku hanya ingin mengisi ruang kosong yang ada didalam hati ku, dengan orang yang tepat".
"Bukankah sudah ada Hyena didalam nya" Safana kembali membawa nama Hyena.
"Hyena ada didalam karna aku yang memaksanya Ana, dan dia tidak mau bertahan disana, jadi untuk apa aku mempertahankan perasaan yang tidak berbalas itu? ".
Safana sedikit menahan tawanya, entah bagaimana bisa ia berbicara dengan Zayn dengan kalimat-kalimat puitis yang terdengar norak.
Tapi justru itu yang membuat Safana semakin tertarik pada Zayn, dia menjadi lelaki yang nakal dan jail saat bersama dengan Hyena namun bisa romantis juga saat bersama nya.
Zayn memang mudah untuk bergaul dengan setiap karakter orang, dan sepertinya rumor itu memang benar, jika pemuda itu benar-benar memiliki IQ yang tinggi.
"Silahkan..."Ucapan pelayan kafe memutus percakapan mereka.
Pesanan pun sudah datang,dan mereka berdua sama-sama menikmati hidangan tersebut dengan hening.
"Jadi, Ana setuju kan? " Zayn bertanya setelah Safana menghabiskan makanannya.
"Zayn, apa ini adil untuk kita berdua? " tanya Safana yang sepertinya masih bimbang dengan keputusannya.
"Kita hanya perlu mencoba dulu Ana, aku juga tidak akan langsung mengajak kamu untuk menikah, kita penjajakan dulu, jika memang kita cocok maka kita akan lanjut kejenjang lebih lanjut, namun jika Ana merasa kita tidak cocok maka aku akan menerima semua keputusanmu" ucap Zayn panjang lebar.
"Jadi, status apa yang cocok untuk kita jika aku setuju? ".
Mendengar itu Zayn memperlihatkan senyumnya.
__ADS_1
"Pacar"Jawabnya kemudian.